Sindrom Polikistik Ovarium

Ditinjau oleh: dr. Fitrina Aprilia

Pengertian Sindrom Polikistik Ovarium

Sindrom polikistik ovarium (PCOS) adalah penyakit ketika ovum atau sel telur pada perempuan tidak berkembang secara normal karena ketidakseimbangan hormon. Hal ini dapat menyebabkan periode menstruasi yang tidak teratur disertai pembentukan kista multipel pada ovarium. Kondisi ini juga dapat menyebabkan kemandulan.

Baca juga: Alami PCOS Bikin Susah Hamil, Mitos atau Fakta?

 

Penyebab dan Faktor Risiko  Sindrom Polikistik Ovarium

Penyebab utama PCOS sampai saat ini masih belum diketahui. Namun, beberapa faktor seperti faktor genetik dikaitkan oleh para ahli sebagai salah satu penyebabnya. Faktor genetik ini dikaitkan dengan terjadinya peningkatan androgen yang tinggi pada perempuan pengidap PCOS. Androgen sering disebut hormon laki-laki karena merupakan hormon yang dominan pada laki-laki, sedangkan pada perempuan hormon ini hanya diproduksi dalam jumlah yang sedikit.

Androgen bertugas untuk mengendalikan perkembangan fitur-fitur maskulin, seperti kebotakan androgen atau pola kebotakan laki-laki. Berdasarkan hal tersebut, ketidakseimbangan hormon bisa terjadi, ketika seorang perempuan mengidap PCOS. Ketidakseimbangan hormon tersebut terjadi karena produksi androgen menjadi lebih banyak dari kadar androgen normal dalam tubuh perempuan. Hormon androgen yang tidak seimbang tersebut menyebabkan pertumbuhan rambut tidak normal dan jerawat, selain kondisi tersebut, perempuan juga tidak dapat melepaskan ovum dari ovarium setiap menstruasi.

Selain kadar androgen yang tinggi, perempuan dengan PCOS juga cenderung memiliki kadar insulin yang tinggi, terutama ia dengan berat badan lebih atau memiliki riwayat diabetes mellitus pada keluarga. Insulin merupakan hormon yang bertugas untuk mengatur karbohidrat yang masuk ke dalam tubuh untuk dijadikan energi. Sementara resistensi insulin adalah kondisi di mana tubuh tidak dapat merespon insulin secara normal, sehingga terjadi peningkatan kadar glukosa dan insulin dalam darah. Kelebihan insulin mengakibatkan produksi hormon androgen meningkat, hal ini dapat mengganggu proses ovulasi.

Beberapa studi menunjukkan bahwa perempuan dengan PCOS memiliki sebuah tipe dari peradangan derajat ringan yang menyebabkan ovarium untuk memproduksi androgen, serta menyebabkan masalah jantung dan pembuluh darah.

 

Gejala dan Komplikasi Sindrom Polikistik Ovarium

Gejala PCOS, antara lain:

  • Siklus menstruasi tidak teratur. Perempuan yang mengidap PCOS bisa mengalami siklus menstruasi yang tidak teratur, seperti dalam setahun, ia hanya mengalami menstruasi sebanyak kurang dari 8 kali atau siklus menstruasinya datang setiap 21 hari atau lebih sering. Bahkan, dalam beberapa kasus, pengidap tidak lagi bisa mengalami menstruasi sama sekali.

  • Pertumbuhan rambut berlebih pada wajah, dagu, bawah hidung (kumis), yang disebut dengan hirsutisme. Hirsutisme ditemukan pada 70 persen perempuan dengan PCOS.

  • Jerawat pada wajah, dada, dan punggung bagian atas.

  • Kenaikan berat badan atau kesulitan menurunkan berat badan.

  • Penipisan rambut atau kebotakan dengan pola kebotakan laki-laki

  • Kulit menjadi gelap, terutama pada daerah lipatan leher, selangkangan, dan lipatan payudara.

  • Tonjolan daging bersifat jinak yang disebut skin tag, biasanya di daerah ketiak atau leher.

Komplikasi dari PCOS adalah sebagai berikut:

  • Kemandulan;

  • Diabetes gestasional;

  • Hipertensi gestasional;

  • Steatohepatitis non-alkoholik;

  • Sindrom metabolik;

  • Diabetes mellitus tipe 2;

  • Sleep apnea;

  • Depresi dan gangguan cemas;

  • Perdarahan rahim abnormal; dan

  • Kanker endometrium.

 

Diagnosis  Sindrom Polikistik Ovarium

Diagnosis ditegakkan melalui wawancara, terutama tentang riwayat medis keluarga, riwayat menstruasi, dan perubahan berat badan. Pemeriksaan fisik akan berfokus dalam menemukan tanda-tanda khas PCOS, seperti hirsutisme, jerawat, dan gejala-gejala resistensi insulin. Dokter juga akan melakukan pemeriksaan pelvik untuk melihat adanya masa atau abnormalitas lain.

Selain itu, dokter juga dapat melakukan pemeriksaan penunjang, seperti pemeriksaan darah untuk mengukur kadar hormon, gula darah, dan profil lipid. Pemeriksaan ultrasound juga dapat membantu dokter dalam menegakkan diagnosis PCOS dengan menemukan adanya penebalan dinding rahim, atau tampilan ovarium yang tidak normal.

Baca juga: Jangan Abai, Ketahui 9 Komplikasi Akibat Sindrom Polikistik Ovarium

 

Pengobatan Sindrom Polikistik Ovarium

Tidak ada tatalaksana yang diketahui dapat menyembuhkan PCOS, tetapi tatalaksana berfokus pada meredakan gejala serta menghindarkan pengidap dari konsekuensi jangka panjang seperti diabetes dan penyakit jantung. Tatalaksana juga ditujukan pada usaha terjadinya konsepsi.

Seperti yang sudah dijelaskan, kelebihan berat badan atau obesitas meningkatkan risiko PCOS dan memperburuk PCOS yang sudah terjadi. Maka, perempuan dengan PCOS sangat dianjurkan untuk olahraga sebagai salah satu metode terapi. Menurunkan berat badan sebanyak 5-10 persen dapat meringankan gejala dan membantu siklus menstruasi lebih teratur, serta membantu mengendalikan kadar gula darah dan ovulasi.

Karena PCOS disebabkan oleh adanya ketidakseimbangan hormonal, maka terapi hormon juga dibutuhkan pada pengidap PCOS. Terapi hormon tersebut dilakukan dengan memberikan obat kontrasepsi, dan biasanya diberikan kepada pengidap yang tidak berencana untuk hamil. Terapi ini bertujuan untuk mengembalikan siklus menstruasi yang normal, serta menangani jerawat dan pertumbuhan rambut abnormal. Terapi ini juga menurunkan risiko terjadinya kanker endometrium.

Metformin dapat membantu menurunkan kadar insulin dalam darah, sehingga membantu dalam menurunkan berat badan dan juga mencegah terjadinya diabetes melitus tipe 2. Kondisi demikian juga akan membantu melawan kemandulan.

Spironolakton yang berfungsi untuk menurunkan kadar androgen dapat diberikan pada pengidap yang tidak memberikan respon pada obat kontrasepsi. Obat ini tidak boleh diberikan pada pasien yang sedang hamil atau berencana untuk hamil karena dapat menyebabkan cacat bawaan.

Pengidap yang tidak merespon pada perubahan gaya hidup, dapat diberikan obat tambahan untuk membantu mengendalikan berat badan, seperti orlistat atau lorcaserin. Pada kasus-kasus obesitas berat, mungkin juga dilakukan operasi penurunan berat badan sebagai pilihan terakhir.

Untuk kasus-kasus hirsutisme yang sangat mengganggu, dapat dilakukan elektrolisis atau aliran elektrik yang diarahkan ke akar rambut, sehingga hancur. Mematikan folikel rambut menggunakan terapi laser juga bisa menjadi pilihan.

Kemandulan yang disebabkan oleh PCOS dapat ditangani dengan pemberian clomiphene dan letrozole yang merupakan obat-obatan yang dapat menstimulasi ovulasi. Jika terapi ini tidak membantu, pilihan lain adalah injeksi hormon gonadotropin yang juga diharapkan bisa membantu terjadinya ovulasi.

Opsi lain untuk membantu mengatasi kemandulan adalah operasi yang disebut ovarian drilling. Operasi tersebut dilakukan dengan penerapan insisi pada perut dan menggunakan laparoskopi dengan jarum untuk memberikan lubang kecil pada ovarium yang dapat merubah kadar hormon, sehingga peluang ovulasi lebih mungkin terjadi. Jika terapi-terapi tersebut belum menunjukan hasil yang sesuai, maka bisa dengan melakukan fertilisasi in vitro (IVF) di mana sel telur dibuahi diluar tubuh untuk kemudian dimasukkan lagi ke dalam rahim bisa dilakukan, sebagai pilihan terakhir.

 

Pencegahan  Sindrom Polikistik Ovarium

Terjadinya PCOS tidak dapat dicegah karena belum diketahui secara pasti penyebab utamanya. Sementara pengendalian faktor risiko bisa dilakukan agar komplikasi PCOS bisa dicegah.

Baca juga: Ketahui Prosedur Pembedahan untuk Atasi Sindrom Polikistik Ovarium

 

Kapan Harus ke Dokter?

Segera temui dokter jika kamu merasakan gejala seperti yang sudah dijelaskan di atas. Penanganan yang tepat waktu, tentu akan mengurangi risiko komplikasi. Untuk melakukan pemeriksaan, bisa langsung membuat janji dengan dokter di rumah sakit yang sesuai domisili kamu melalui Halodoc.

Referensi:

Womenshealth.gov. Diakses pada 2019. Polycystic ovary syndrome. 

Diperbarui pada 26 Agustus 2019