Sindrom Polikistik Ovarium

ARTIKEL TERKAIT

Pengertian Sindrom Polikistik Ovarium

Sindrom polikistik ovarium (PCOS) adalah penyakit ketika ovum atau sel telur pada perempuan tidak berkembang secara normal karena ketidakseimbangan hormon. Hal ini dapat menyebabkan periode menstruasi yang tidak teratur disertai pembentukan kista multipel pada ovarium. Kondisi ini juga dapat menyebabkan kemandulan.

Gejala Sindrom Polikistik Ovarium

Gejala PCOS antara lain:

  • Siklus menstruasi tidak teratur. Perempuan dengan PCOS dapat mengalami ketidakteraturan siklus menstruasi seperti dalam setahun, ia hanya mengalami menstruasi sebanyak kurang dari 8 kali, atau siklus menstruasinya datang setiap 21 hari atau lebih sering. Dalam beberapa kasus bahkan didapat pengidap berhenti mengalami menstruasi sama sekali.
  • Pertumbuhan rambut berlebih pada wajah, dagu, bawah hidung (kumis), yang disebut dengan hirsutisme. Hirsutisme ditemukan pada 70 persen perempuan dengan PCOS.
  • Jerawat pada wajah, dada, dan punggung bagian atas.
  • Kenaikan berat badan atau kesulitan menurunkan berat badan.
  • Penipisan rambut atau kebotakan dengan pola kebotakan laki-laki
  • Kulit menjadi gelap, terutama pada daerah lipatan leher, selangkangan dan lipatan payudara.
  • Tonjolan daging bersifat jinak yang disebut skin tag , biasanya di daerah ketiak atau leher.

Komplikasi dari PCOS adalah sebagai berikut:

  • Kemandulan.
  • Diabetes gestasional.
  • Hipertensi gestasional.
  • Steatohepatitis non-alkoholik.
  • Sindrom metabolik.
  • Diabetes mellitus tipe 2.
  • Sleep apnea.
  • Depresi dan gangguan cemas.
  • Perdarahan rahim abnormal.
  • Kanker endometrium.

Penyebab dan Faktor Risiko  Sindrom Polikistik Ovarium

Penyebab pasti PCOS belum diketahui, tetapi ahli mengaitkan beberapa faktor seperti faktor genetik. Faktor genetik ini dikaitkan dengan terjadinya peningkatan androgen yang tinggi pada perempuan pengidap PCOS. Androgen sering disebut hormon laki-laki karena merupakan hormon yang dominan pada laki-laki, sedangkan pada perempuan hormon ini hanya diproduksi dalam jumlah yang sedikit.

Androgen mengendalikan perkembangan fitur-fitur maskulin seperti kebotakan androgen atau pola kebotakan laki-laki. Perempuan dengan PCOS memproduksi androgen lebih banyak dari normal yang menyebabkan ketidakseimbangan hormon. Selain menyebabkan pertumbuhan rambut yang tidak normal dan jerawat, kondisi ini juga menyebabkan perempuan dengan PCOS tidak dapat melepaskan ovum dari ovarium pada setiap siklus menstruasi.

Selain kadar androgen yang tinggi, perempuan dengan PCOS juga cenderung memiliki kadar insulin yang tinggi, terutama ia dengan berat badan lebih atau memiliki riwayat diabetes mellitus pada keluarga. Insulin adalah hormon yang mengatur karbohidrat yang masuk ke dalam tubuh untuk dijadikan energi. Resistensi insulin adalah kondisi tubuh tidak merespon secara normal terhadap insulin, sehingga kadar glukosa dan insulin dalam darah menjadi lebih tinggi dari normal. Kelebihan insulin akan meningkatkan produksi androgen, yang mengganggu proses ovulasi.

Beberapa studi menunjukkan bahwa perempuan dengan PCOS memiliki sebuah tipe dari peradangan derajat ringan yang menyebabkan ovarium untuk memproduksi androgen, serta menyebabkan masalah jantung dan pembuluh darah.

Diagnosis  Sindrom Polikistik Ovarium

Diagnosis ditegakkan melalui wawancara, terutama tentang riwayat medis keluarga, riwayat menstruasi, dan perubahan berat badan. Pemeriksaan fisik akan berfokus dalam menemukan tanda-tanda khas PCOS seperti hirsutisme, jerawat dan gejala-gejala resistensi insulin. Dokter juga akan melakukan pemeriksaan pelvik untuk melihat adanya masa atau abnormalitas lain.

Selain itu, dokter juga dapat melakukan pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan darah untuk mengukur kadar hormon, gula darah, dan profil lipid. Pemeriksaan ultrasound juga dapat membantu dokter dalam menegakkan diagnosis PCOS dengan menemukan adanya penebalan dinding rahim, atau tampilan ovarium yang tidak normal.

Penanganan  Sindrom Polikistik Ovarium

Tidak ada tatalaksana yang diketahui dapat menyembuhkan PCOS, tetapi tatalaksana berfokus pada meredakan gejala serta menghindarkan pengidap dari konsekuensi jangka panjang seperti diabetes dan penyakit jantung. Tatalaksana juga ditujukan pada usaha terjadinya konsepsi.

Seperti yang sudah dijelaskan, kelebihan berat badan atau obesitas meningkatkan risiko PCOS dan memperburuk PCOS yang sudah terjadi. Maka, olahraga merupakan terapi yang sangat dianjurkan pada perempuan dengan PCOS. Menurunkan berat badan sebanyak 5 - 10 persen dapat meringankan gejala dan membantu siklus menstruasi lebih teratur, serta membantu mengendalikan kadar gula darah dan ovulasi.

Oleh sebab PCOS terjadi karena adanya ketidakseimbangan hormonal, maka terapi yang juga dibutuhkan pada pengidap PCOS adalah terapi hormon. Terapi hormon diberikan menggunakan obat kontrasepsi, dan biasanya diberikan untuk pengidap yang tidak berencana untuk hamil. Terapi ini lebih merujuk kepada usaha mengembalikan siklus menstruasi yang normal, serta menangani jerawat dan pertumbuhan rambut abnormal. Terapi ini juga menurunkan risiko terjadinya kanker endometrium.

Metformin dapat membantu menurunkan kadar insulin dalam darah, sehingga membantu dalam menurunkan berat badan dan juga mencegah terjadinya diabetes melitus tipe 2. Kondisi demikian juga akan membantu melawan kemandulan.

Spironolakton yang berfungsi untuk menurunkan kadar androgen dapat diberikan pada pengidap yang tidak memberikan respon pada obat kontrasepsi. Obat ini tidak boleh diberikan pada pasien yang sedang hamil atau berencana untuk hamil karena dapat menyebabkan cacat bawaan.

Pada pasien-pasien yang tidak merespon pada perubahan gaya hidup, dapat diberikan obat tambahan untuk membantu mengendalikan berat badan seperti orlistat atau lorcaserin. Pada kasus-kasus obesitas berat, mungkin juga dilakukan operasi penurunan berat badan sebagai pilihan terakhir.

Untuk kasus-kasus hirsutisme yang sangat mengganggu, dapat dilakukan elektrolisis atau aliran elektrik yang diarahkan ke akar rambut sehingga hancur. Terapi laser untuk mematikan folikel rambut juga dapat menjadi pilihan.

Kemandulan yang disebabkan oleh PCOS dapat ditangani dengan pemberian clomiphene dan letrozole yang merupakan obat-obatan yang dapat menstimulasi ovulasi. Jika terapi ini tidak membantu, pilihan lain adalah injeksi hormon gonadotropin yang juga diharapkan bisa membantu terjadinya ovulasi.

Opsi lain untuk membantu mengatasi kemandulan adalah operasi yang disebut ovarian drilling. Dokter akan melakukan insisi pada perut dan menggunakan laparoskopi dengan jarum untuk memberikan lubang kecil pada ovarium yang dapat merubah kadar hormon, sehingga ovulasi lebih mungkin terjadi. Jika terapi-terapi tersebut masih belum bisa membantu, pilihan terakhir adalah dengan melakukan fertilisasi in vitro (IVF), sel telur dibuahi diluar tubuh untuk kemudian dimasukkan lagi ke dalam rahim.

Pencegahan  Sindrom Polikistik Ovarium

Tidak ada hal-hal yang diketahui dapat mencegah terjadinya PCOS, tetapi komplikasi PCOS tentu dapat dicegah dengan cara mengendalikan faktor risiko.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika cara penanganan dan pencegahan di atas tidak berhasil, segera memeriksakan diri ke dokter. Untuk melakukan pemeriksaan, bisa langsung membuat janji dengan dokter di rumah sakit pilihan kamu di sini.