Vaginosis Bakterialis

Pengertian Vaginosis Bakterialis

Vaginosis bakterialis (VB) atau Bacterial vaginosis (BV) merupakan salah satu penyakit yang cukup sering menyebabkan keputihan pada wanita usia produktif. Penyakit ini terjadi karena adanya infeksi pada Miss V yang disebabkan oleh bakteri Gardnerella vaginalis. Selain bakteri ini, biasanya infeksi pada vaginosis bakterialis juga melibatkan bakteri-bakteri anaerob, yang paling sering adalah Bacteroides  dan Peptococcus. Pada jumlah yang berlebihan, ketiga bakteri ini bersimbiosis dan menimbulkan gejala.

Vaginosis bakterialis dapat mengenai wanita, baik yang sudah melakukan hubungan intim ataupun yang belum. Nama lain dari penyakit ini adalah Haemophilus vaginalis vaginitis, Corynebacterium vaginale vaginitis, Gardnerella vaginalis vaginitis, dan Gardnerella vaginalis associated vaginitis.

 

Gejala Vaginosis Bakterialis

Infeksi ini tidak menimbulkan gejala sama sekali pada sekitar separuh wanita dan pria. Pada wanita, keluhan utama dari vaginosis bakterialis biasanya adalah keputihan yang berwarna putih keabuan dan berbau tidak enak (amis), terutama saat setelah berhubungan intim dan saat haid. Selain itu, gejala lainnya adalah iritasi di daerah Miss V yang ditandai dengan rasa gatal, rasa terbakar, kemerahan, dan bengkak pada vulva.

 

Penyebab Vaginosis Bakterialis

Hal yang dapat membuat bakteri-bakteri ini (Gardnerella vaginalis, Bacteroides, dan Peptococcus) dapat menyebabkan keluhan hingga saat ini masih belum diketahui secara pasti. Sebab, pada hampir separuh wanita memiliki kolonisasi Gardnerella vaginalis, pada Miss V-nya dan tidak mengalami keluhan apa-apa. Sehingga, kemungkinan penyebab dari terjadinya gejala pada infeksi ini adalah kombinasi antara peningkatan kuman-kuman penyebab dan berkurangnya bakteri baik pencegah penyakit yang ada di Miss V.

 

Faktor Risiko Vaginosis Bakterialis

Faktor risiko yang dapat menimbulkan vaginosis bakterialis, antara lain:

  • Menggunakan AKDR (Alat Kontrasepsi dalam Rahim)/ IUD (intrauterine device)
  • Terinfeksi oleh parasit Trichomonas
  • Memiliki pasangan seksual yang terinfeksi Gardnerella vaginalis
  • Menggunakan pewangi pada pakaian dalam
  • Berganti-ganti pasangan

 

Diagnosis Vaginosis Bakterialis

Penegakkan diagnosis vaginosis bakterialis dilakukan oleh dokter ahli dan melalui serangkai wawancara dan pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang. Diagnosis vaginosis bakterialis dapat ditegakkan berdasarkan:

  • Adanya keputihan yang berwarna abu-abu dan berbau
  • Pada pemeriksaan sekret Miss V terdapat leukosit sedikit atau tidak ada, sel epitel yang banyak, dan adanya kokobasil kecil-kecil yang berkelompok. Sel-sel epitel Miss V yang dilapisi sel-sel kokobasil menyebabkan batas sel tidak jelas, yang disebut clue cells. Adanya clue cells ini merupakan salah satu kriteria diagnostik. Adanya pemeriksaan gram bakteri akan meningkatkan konfirmasi diagnosis.

 

Pengobatan dan Efek Samping Vaginosis Bakterialis

Sebagai infeksi yang disebabkan oleh bakteri, maka pengobatan utama vaginosis bakterialis adalah dengan menggunakan antibiotik. Beberapa jenis antibiotik yang dapat digunakan:

  • Metronidazole

Obat ini merupakan obat yang sangat efektif sebagai terapi vaginosis bakterialis serta tingkat rekurensi yang yang kurang dari 50 persen. Metronidazole tersedia dalam bentuk tablet atau dalam bentuk ovula sebagai kombinasi dengan antijamur. Efek samping yang dapat timbul, antara lain reaksi alergi ringan hingga berat.

Alergi ringan biasanya ditandai dengan gatal-gatal. Bengkak pada wajah, bibir, mata, ataupun tenggorokan, sehingga sulit bernapas dapat terjadi pada alergi yang lebih berat. Selain itu, metronidazole juga dapat menyebabkan sakit kepala, mual, kebas pada tangan dan kaki. Karena itu, pastikan berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter sebelum mengonsumsi obat ini.

  • Ampisilin atau amoksisilin

Antibiotik ini dapat menjadi alternatif terapi bagi vaginosis bakterialis. Tapi, angka rekurensi vaginosis bakterialis lebih dari 50 persen. Selain itu, seringnya penggunaan antibiotik ini pada masyarakat menyebabkan munculnya kuman-kuman yang kebal pada obat ini dan menghasilkan laktamase beta, sehingga menyebabkan kegagalan pengobatan.

  • Klindamisin

Antibiotik ini dapat menjadi pilihan apabila terdapat alergi pada metronidazole atau muncul keluhan efek samping saat mengonsumsi metronidazole. Obat ini biasanya dikonsumsi dalam sediaan tablet dan perlu resep dokter.

Selain terapi antibiotik, pengidap juga perlu menghindari faktor risiko jika ada, serta mitra seksual pengidap vaginosis bakterialis juga perlu mendapat pengobatan untuk mengurangi kemungkinan rekurensi.

 

Pencegahan Vaginosis Bakterialis

Cara untuk dapat terhindar dari penyakit vaginosis bakterialis, antara lain:

  • Jika menggunakan AKDR dan mengalami vaginosis bakterialis, konsultasikan kepada bidan atau dokter untuk metode kontrasepsi lain yang dapat digunakan
  • Tidak berganti-ganti pasangan dan menjaga kebersihan alat reproduksi pasangan
  • Menjaga kebersihan alat reproduksi diri, yaitu dengan:
    • Selalu menggunakan pakaian dalam yang menyerap keringat dan tidak terlalu ketat
    • Menghindari menggunakan pewangi yang berlebihan pada pakaian dalam
    • Menghindari menggunakan pembalut yang terlalu lama dan sering.
    • Tidak menggunakan sabun pembersih Miss V terlalu sering, karena dapat merusak ekosistem flora normal di Miss V
    • Tidak menggunakan detergen yang terlalu kuat untuk mencuci pakaian dalam

 

Kapan Harus ke Dokter?

Apabila keluarga atau kerabat mengalami keputihan yang mengarah pada kemungkinan vaginosis bakterialis dan tidak kunjung membaik, segera konsultasikan kepada dokter.