Vaginosis Bakterialis

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Vaginosis Bakterialis

Vaginosis bakterialis (VB) atau Bacterial vaginosis (BV) merupakan salah satu penyakit yang cukup sering menyebabkan keputihan pada wanita usia produktif. Penyakit ini terjadi karena adanya infeksi pada vagina yang disebabkan oleh bakteri Gardnerella vaginalis. Selain bakteri ini, biasanya infeksi pada vaginosis bakterialis juga melibatkan bakteri-bakteri anaerob, yang paling sering adalah Bacteroides  dan Peptococcus. Pada jumlah yang berlebihan, ketiga bakteri ini akan bersimbiosis dan menimbulkan gejala.

Vaginosis bakterialis dapat mengenai wanita, baik yang sudah melakukan hubungan intim ataupun yang belum. Penyakit ini juga memiliki nama lain seperti Haemophilus vaginalis vaginitis, Corynebacterium vaginale vaginitis, Gardnerella vaginalis vaginitis, dan Gardnerella vaginalis associated vaginitis.

 

Faktor Risiko Vaginosis Bakterialis

Faktor risiko yang dapat menimbulkan vaginosis bakterialis, antara lain:

  • Menggunakan AKDR (Alat Kontrasepsi dalam Rahim) atau IUD (intrauterine device).

  • Terinfeksi oleh parasit Trichomonas.

  • Memiliki pasangan seksual yang terinfeksi Gardnerella vaginalis.

  • Menggunakan pewangi pada pakaian dalam.

  • Berganti-ganti pasangan.

Baca juga: Keputihan Berbau Tak Sedap, Indikasi Vaginosis Bakterialis?

 

Penyebab Vaginosis Bakterialis

Hal yang dapat membuat bakteri-bakteri ini (Gardnerella vaginalis, Bacteroides, dan Peptococcus) bisa sebabkan keluhan, hingga saat ini masih belum diketahui secara pasti. Sebab, umumnya wanita memiliki kolonisasi Gardnerella vaginalis, pada vaginanya dan tidak mengalami keluhan apapun. Sehingga, kemungkinan penyebab dari terjadinya gejala pada infeksi ini adalah kombinasi antara peningkatan kuman-kuman penyebab dan berkurangnya bakteri baik yang seharusnya mencegah penyakit yang ada di vagina.

 

Gejala Vaginosis Bakterialis

Infeksi ini nyatanya tidak menimbulkan gejala sama sekali pada sebagian wanita. Keluhan utama dari vaginosis bakterialis biasanya adalah keputihan yang berwarna putih keabuan dan berbau tidak enak (amis), terutama setelah berhubungan intim dan saat haid. Selain itu, gejala lainnya adalah iritasi di daerah vagina yang ditandai dengan rasa gatal, rasa terbakar, kemerahan, dan bengkak pada vulva.

 

Diagnosis Vaginosis Bakterialis

Penegakkan diagnosis vaginosis bakterialis dilakukan oleh dokter ahli dan melalui serangkai wawancara dan pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang. Diagnosis vaginosis bakterialis dapat ditegakkan berdasarkan:

  • Adanya keputihan yang berwarna abu-abu dan berbau

  • Pada pemeriksaan sekret vagina terdapat leukosit sedikit atau tidak ada, sel epitel yang banyak, dan adanya kokobasil kecil-kecil yang berkelompok. Sel-sel epitel vagina yang dilapisi sel-sel kokobasil menyebabkan batas sel tidak jelas, yang disebut clue cells. Adanya clue cells ini merupakan salah satu kriteria diagnostik.

  • Adanya pemeriksaan gram bakteri akan meningkatkan konfirmasi diagnosis.

Baca juga: 3 Faktor yang Tingkatkan Risiko Vaginosis Bakterialis

 

Pengobatan Vaginosis Bakterialis

Karena merupakan sebuah infeksi yang disebabkan oleh bakteri, maka pengobatan utama vaginosis bakterialis adalah dengan menggunakan antibiotik. Beberapa jenis antibiotik yang dapat digunakan:

  • Metronidazole

Obat ini merupakan obat yang sangat efektif sebagai terapi vaginosis bakterialis serta tingkat rekurensi yang yang kurang dari 50 persen. Metronidazole tersedia dalam bentuk tablet atau dalam bentuk ovula sebagai kombinasi dengan antijamur. Efek samping yang dapat timbul, antara lain reaksi alergi ringan hingga berat.

Alergi ringan biasanya ditandai dengan gatal-gatal. Bengkak pada wajah, bibir, mata, ataupun tenggorokan, sehingga sulit bernapas dapat terjadi pada alergi yang lebih berat. Selain itu, obat ini juga bisa menyebabkan sakit kepala, mual, serta kebas pada tangan dan kaki. Oleh klarena itu, pastikan berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter sebelum mengonsumsi obat ini.

  • Ampisilin atau Amoksisilin

Antibiotik ini dapat menjadi alternatif terapi bagi vaginosis bakterialis. Namun, angka rekurensi vaginosis bakterialis lebih dari 50 persen. Selain itu, seringnya penggunaan antibiotik ini pada masyarakat menyebabkan munculnya kuman-kuman yang kebal pada obat ini dan menghasilkan laktamase beta, sehingga menyebabkan kegagalan pengobatan.

  • Klindamisin

Antibiotik ini dapat menjadi pilihan apabila terdapat alergi pada metronidazole atau muncul keluhan efek samping saat mengonsumsi metronidazole. Obat ini biasanya dikonsumsi dalam sediaan tablet dan perlu resep dokter.

Selain terapi antibiotik, pengidap juga perlu menghindari faktor risiko jika ada, serta mitra seksual pengidap vaginosis bakterialis juga perlu mendapat pengobatan untuk mengurangi kemungkinan rekurensi.

 

Pencegahan Vaginosis Bakterialis

Cara untuk dapat terhindar dari penyakit vaginosis bakterialis, antara lain:

  • Jika menggunakan AKDR dan mengalami vaginosis bakterialis, konsultasikan kepada bidan atau dokter untuk metode kontrasepsi lain yang dapat digunakan.

  • Tidak berganti-ganti pasangan dan menjaga kebersihan alat reproduksi pasangan.

  • Menjaga kebersihan alat reproduksi diri, yaitu dengan:

    • Selalu menggunakan pakaian dalam yang menyerap keringat dan tidak terlalu ketat.

    • Menghindari menggunakan pewangi yang berlebihan pada pakaian dalam.

    • Menghindari menggunakan pembalut yang terlalu lama dan sering.

    • Tidak menggunakan sabun pembersih vagina terlalu sering, sebab ini bisa merusak ekosistem flora normal di vagina.

    • Tidak menggunakan detergen yang terlalu kuat untuk mencuci pakaian dalam.

Baca juga: Perubahan Gaya Hidup untuk Mencegah Vaginosis Bakterialis

 

Kapan Harus ke Dokter?

Segera hubungi dokter jika mengalami gejala-gejala tadi. Penanganan yang tepat dan cepat bisa meminimalisir komplikasi yang mungkin terjadi. 

Referensi:
Mayo Clinic. DIakses pada 2019. Bacterial Vaginosis.
Healthline.  DIakses pada 2019. Bacterial Vaginosis.
Web MD.  DIakses pada 2019. Bacterial Vaginosis.

Diperbarui pada 24 September 2019