• Beranda
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Vulvodynia
  • Beranda
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Vulvodynia

Vulvodynia

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
vulvodynia-halodoc

Pengertian Vulvodynia

Vulvodynia ditandai dengan nyeri kronis atau ketidaknyamanan di sekitar vulva. Wanita dikatakan mengalami kondisi ini apabila nyeri tidak dapat diidentifikasi penyebabnya dan berlangsung setidaknya tiga bulan. Kondisi ini bahkan bisa berlangsung berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Itu sebabnya, penting untuk mencari perawatan untuk mengurangi ketidaknyamanan saat berhubungan seksual. 

Penyebab Vulvodynia

Ada banyak penyebab yang dicurigai, seperti peradangan, cedera saraf di area vulva, faktor hormonal, masalah muskuloskeletal sampai faktor genetik. Seringkali, pengidapnya juga mengidap sebuah sindrom yang memicu nyeri, seperti:

  • Sindrom kandung kemih
  • Fibromyalgia
  • Sindrom iritasi usus
  • Gangguan temporomandibular

Infeksi vagina, alergi, kulit sensitif dan kelemahan otot di dasar panggul juga dicuragi menjadi penyebabnya.

Faktor Risiko Vulvodynia

Hingga kini, faktor risiko vulvodynia tidak diketahui secara pasti. Namun, sejumlah faktor yang diduga bisa memicunya yaitu:

  • Kecemasan
  • Depresi
  • Gangguan stres pasca trauma
  • Punya riwayat penyalahgunaan obat-obatan

Gejala Vulvodynia

Nyeri di area vulva adalah gejala khas dari kondisi ini. Selain rasa nyeri, vulvodynia juga ditandai dengan:

  • Rasa terbakar
  • Kemerahan
  • Hubungan seksual yang menyakitkan (dispareunia)
  • Denyutan
  • Gatal

Rasa sakit bisa terjadi secara konstan atau sesekali. Vulvodynia mungkin juga timbul hanya ketika area sensitif disentuh. Pengidapnya bisa merasakan nyeri di seluruh area vulva atau nyeri di area tertentu. Meski nyeri, area vulva umumnya tampak normal. Kendati begitu, ada pula pasien yang mengeluhkan vulva yang terlihat sedikit meradang atau bengkak. 

Diagnosis Vulvodynia

Sebelum mendiagnosis vulvodynia, dokter akan bertanya seputar riwayat medis, seksual, dan pembedahan untuk memahami lokasi, sifat, dan tingkat gejala vulvodynia. Setelah itu, pemeriksaan penunjang di bawah ini bisa dilakukan:

  • Pemeriksaan panggul. Dokter akan memeriksa alat kelamin luar dan vagina untuk mencari tanda-tanda infeksi atau penyebab lain dari gejala. Apabila tidak ditemukan bukti visual infeksi, dokter perlu mengambil sampel sel dari vagina untuk diuji.
  • Tes kapas. Dokter menggunakan kapas yang dibasahi untuk memeriksa dengan lembut area nyeri tertentu yang terlokalisir di daerah vulva.

Pengobatan Vulvodynia

Perawatan berfokus untuk menghilangkan gejala. Sebagian besar kasus vulvodynia membutuhkan kombinasi perawatan untuk mengurangi gejala. Namun, butuh waktu untuk menemukan perawatan apa yang paling tepat dan efektif. Pilihan pengobatan meliputi:

  • Obat-obatan. Steroid, antidepresan trisiklik atau antikonvulsan dapat membantu mengurangi nyeri kronis. Antihistamin juga bisa diberikan untuk mengurangi rasa gatal.
  • Terapi biofeedback. Tujuannya membantu mengurangi rasa sakit dengan mengajarkan pengidap cara mengendurkan otot panggul dan mengontrol respons tubuh terhadap gejala.
  • Anestesi lokal. Obat-obatan, seperti salep lidokain, dapat meredakan gejala sementara. Dokter mungkin merekomendasikan penggunaan lidokain, 30 menit sebelum hubungan seksual untuk mengurangi ketidaknyamanan. Menggunakan salep lidokain dapat menyebabkan pasangan mengalami mati rasa sementara setelah kontak seksual.
  • Blok saraf. Wanita yang mengalami nyeri dalam waktu lama dan tidak merespon pengobatan lain bisa menggunakan suntikan blok saraf lokal untuk atasi nyeri.
  • Terapi dasar panggul. Sebagian besar pengidap mengalami ketegangan pada otot-otot dasar panggul. Latihan untuk mengendurkan otot-otot tersebut dapat membantu meredakan nyeri.
  • Operasi. Pembedahan untuk mengangkat kulit dan jaringan yang terkena (vestibulektomi) dapat dilakukan untuk mengurangi rasa sakit pada beberapa wanita. Meski begitu, opsi perawatan ini jarang sekali dilakukan.

Selain melakukan pengobatan di atas, terdapat perawatan rumahan yang bisa dicoba untuk mengurangi nyeri. Perawatannya meliputi kompres dingin, berendam dalam bak mandi hangat dan membasuh area vulva secara lembut dengan air bersih. 

Komplikasi Vulvodynia

Vulvodynia bisa terasa amat menyakitkan dan membuat frustasi. Rasa nyeri bahkan membuat pengidapnya enggan berhubungan seks hingga mengalami masalah emosional. Pasalnya, rasa takut berhubungan seks karena nyeri dapat menyebabkan kejang pada otot-otot di sekitar vagina (vaginismus). Komplikasi lain mungkin termasuk:

  • Kecemasan
  • Masalah hubungan
  • Depresi
  • Gangguan tidur
  • Disfungsi seksual
  • Masalah dengan citra diri
  • Kualitas hidup menurun

Pencegahan Vulvodynia

Sejauh ini tidak ada cara yang mampu mencegah kondisi ini secara pasti. Pasalnya, penyebab vulvodynia seringkali sulit diidentifikasi dan tidak jelas. Meski begitu, ada beberapa hal yang bisa kamu coba untuk mencegahnya, seperti:

  • Hindari mengenakan stoking ketat dan celana dalam nilon. Pakaian ketat membatasi aliran udara ke area genital. Akibatnya, terjadi peningkatan suhu dan kelembapan yang memicu menyebabkan iritasi. Kenakan pakaian dalam katun untuk meningkatkan ventilasi dan kekeringan. Kamu juga bisa mencoba tidur tanpa pakaian dalam di malam hari.
  • Jangan gunakan tampon atau pembalut deodoran karena dapat menyebabkan iritasi. 
  • Hindari mandi air panas yang dapat menyebabkan rasa tidak nyaman dan gatal.
  • Hindari aktivitas yang memberi tekanan pada vulva, seperti bersepeda atau menunggang kuda.
  • Gunakan pelumas sebelum berhubungan seks. Jangan gunakan produk yang mengandung alkohol, perasa, atau bahan penghangat atau pendingin.

Kapan Harus ke Dokter?

Apabila mengalami tanda dan gejala di atas, segera periksakan diri ke dokter. Bila kamu butuh pelumas untuk mencegah vulvodynia, dapatkan di toko kesehatan Halodoc. Tak perlu ke luar rumah, download Halodoc sekarang juga!

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2022. Vulvodynia.
National Health Services. Diakses pada 2022. Vulvodynia.
WebMD. Diakses pada 2022. Vulvodynia.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2022. Vulvodynia.