Ketahui Berbagai Faktor Risiko Hidrosefalus Sejak Dini

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
ketahui-berbagai-faktor-risiko-hidrosefalus-sejak-dini-halodoc

Halodoc, Jakarta – Hidrosefalus adalah kondisi ketika terdapat penumpukan cairan pada otak yang mengakibatkan meningkatkan tekanan pada organ tersebut. Secara sederhananya, penyakit ini terjadi karena ada “air di dalam otak”. Hidrosefalus sebenarnya bisa dialami oleh segala usia, tapi kebanyakan pengidapnya adalah bayi dan lansia.

Bahkan, angka bayi yang mengalami hidrosefalus terus meningkat. Karena itu, penting untuk mengetahui penyebab dan faktor risiko hidrosefalus sejak dini, agar penanganan bisa dilakukan secepatnya.  

Baca juga: Enggak Cuma Anak-Anak, Orang Dewasa Bisa Alami Hidrosefalus

Penyebab Hidrosefalus

Jadi, di dalam otak kita, terdapat cairan yang disebut serebrospinal. Cairan ini sebenarnya memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan otak, karena berfungsi untuk membersihkan limbah yang berasal dari metabolisme otak, menjaga otak yang volumenya berat agar tetap terapung di dalam rongga tengkorak, sebagai bantalan untuk melindungi otak dari cedera, dan mencegah terjadinya perubahan tekanan pada otak.

Cairan serebrospinal diproduksi secara rutin oleh jaringan pelapis otak setiap harinya. Bila sudah tidak terpakai, cairan ini akan dibuang dari tubuh setelah diserap oleh pembuluh darah.

Meski bermanfaat bagi kesehatan otak, tapi cairan serebrospinal juga bisa membahayakan otak bila jumlah cairan yang diproduksi lebih besar dibandingkan dengan yang dibuang. Kondisi inilah yang disebut dengan hidrosefalus, yaitu menumpuknya cairan serebrospinal yang berlebihan di dalam otak.

Beberapa kondisi yang menjadi pemicu terjadinya hidrosefalus, di antaranya:

  • Jeleknya mekanisme penyerapan cairan di otak akibat adanya kondisi radang atau cedera pada otak.
  • Terjadinya penyumbatan yang menghambat cairan serebrospinal untuk mengalir dengan normal. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh kelainan pada sistem saraf.
  • Terjadinya perdarahan di dalam otak.
  • Mengalami cedera parah di kepala.
  • Mengidap tumor otak.
  • Mengidap penyakit stroke.

Sedangkan faktor risiko hidrosefalus pada bayi dan balita, yaitu:

  • Infeksi sistem saraf pusat seperti meningitis yang sering terjadi pada bayi.
  • Perdarahan di otak yang terjadi selama atau sesaat setelah dilahirkan. Bayi yang lahir prematur biasanya lebih berisiko mengalami kondisi ini.
  • Cedera otak yang terjadi sebelum, saat, atapun setelah melahirkan.
  • Trauma kepala.
  • Tumor sistem saraf pusat.

Dalam beberapa kasus, hidrosefalus juga bisa terjadi pada bayi sebelum ia dilahirkan. Penyebabnya adalah:

  • Kelainan genetik.
  • Cacat bawaan di mana tulang belakang tidak bisa menutup.
  • Adanya infeksi tertentu yang terjadi selama masa kehamilan, misalnya ibu hamil terkena virus Rubella.

Baca juga: Ibu Hamil Terkena Penyakit Rubella, Apa Dampaknya?

Hidrosefalus sebaiknya tidak dibiarkan saja, karena cairan serebrospinal akan terus bertambah, hingga ventrikel di dalam otak membesar dan menekan struktur serta jaringan otak di sekitarnya. Bila tidak segera ditangani, tekanan ini bisa merusak jaringan dan melemahkan fungsi otak.

Penyakit ini juga bisa menyebabkan gangguan perkembangan fisik maupun intelektual bila terjadi pada bayi. Belum lagi, bila penyakit tersebut menimbulkan komplikasi yang serius.

Karena itu, waspadai ancaman hidrosefalus yang bisa terjadi, baik pada orang dewasa maupun anak-anak. Segera periksakan diri sendiri atau Si Kecil ke dokter bila melihat atau merasakan gejala-gejala hidrosefalus. Berikut gejala hidrosefalus pada balita dan orang dewasa:

  • Sakit kepala.
  • Mengalami gangguan penglihatan, seperti pandangan ganda atau buram.
  • Pembesaran abnormal pada kepala.
  • Merasakan rasa ngantuk yang berlebihan.
  • Sulit untuk bangun dari tempat tidur.
  • Kejang.
  • Mual atau muntah.
  • Nafsu makan berkurang.
  • Koordinasi dan keseimbangan tubuh buruk.

Dengan mengetahui berbagai faktor risiko hidrosefalus sejak dini, kamu yang berisiko tinggi mengalami hidrosefalus diharapkan bisa lebih waspada dan melakukan penanganan secepat mungkin untuk mencegah terjadinya komplikasi yang serius.

Baca juga: Terserang Hidrosefalus, Bisakah Disembuhkan?

Bila kamu ingin mengetahui lebih jauh tentang hidrosefalus, tanyakan saja langsung ke ahlinya dengan menggunakan aplikasi Halodoc. Melalui Video/Voice Call dan Chat, kamu bisa menghubungi dokter untuk minta saran kesehatan kapan saja dan di mana saja. Yuk, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play.