• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ketahui Gejala yang Menandakan Terjadinya Distimia

Ketahui Gejala yang Menandakan Terjadinya Distimia

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Ketahui Gejala yang Menandakan Terjadinya Distimia

Halodoc, Jakarta - Saat memasuki masa work from home, pekerjaan menjadi terasa lebih berat karena waktu kerja yang tidak menentu. Ditambah kamu kesulitan untuk bercengkrama dengan teman agar dapat melepas penat di pikiran. Hal tersebut membuat perasaan stres menjadi sulit untuk diatasi. Lama-kelamaan, stres tersebut dapat berkembang menjadi gangguan depresi yang sangat memengaruhi aktivitas harian.

Jika depresi tersebut ringan tetapi terjadi dalam waktu yang lama, kemungkinan kamu mengidap distimia. Seseorang yang mengalami gangguan depresi ini dapat terjadi hingga hitungan tahun. Meski begitu, gangguan depresi ini terbilang ringan, sehingga mungkin sulit untuk didiagnosis. Salah satu cara agar kamu tahu jika mengidap distimia adalah dengan mendeteksi gejala yang timbul.

Baca juga: Depresi dan Bipolar, Apa Perbedaannya?


Gejala saat seseorang Mengidap Distimia

Distimia, atau gangguan depresi persisten, adalah bentuk depresi kronis dengan jangka waktu yang panjang. Gangguan ini dapat menyebabkan pengidapnya mengalami kehilangan minat pada aktivitas harian, kerap merasa putus asa, kurang produktivitas, hingga perasaan tidak bisa melakukan apapun pada semua aspek. Perasaan depresi ini dapat terjadi selama bertahun-tahun dan mengganggu hubungan pengidapnya dengan orang-orang di sekitarnya.

Jika kamu mengidap gangguan depresi yang persisten ini, perasaan bahagia dan senang mungkin akan sulit timbul. Orang ini kerap digambarkan memiliki kepribadian yang suram, tidak berhenti mengeluh, hingga tidak tahu caranya bersenang-senang. Jika dibiarkan, pengidapnya dapat mengalami banyak masalah besar di masa depan. Maka dari itu, alangkah lebih baik jika distimia segera diatasi.

Namun, kamu benar-benar harus memastikan jika gangguan yang menyerang disebabkan oleh distimia. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan melihat segala gejala yang timbul selama ini. Gejala dari gangguan depresi kronis ini biasanya dapat datang dan pergi selama bertahun-tahun dengan intensitas yang naik-turun. Selain itu, kamu juga dapat mengalami gangguan depresi mayor bersamaan dengan distimia, yang disebut depresi ganda.

Berikut beberapa gejala dari depresi agar kamu dapat mendeteksi jika gangguan ini terjadi:

  • Hilangnya minat dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
  • Kerap merasakan kesedihan, kehampaan, hingga perasaan sedih.
  • Selalu merasa putus asa.
  • Rasa lelah dan kurang energi yang tidak pernah teratasi.
  • Sulit berkonsentrasi dan membuat keputusan.
  • Mudah untuk marah dan terkadang berlebihan.
  • Efektivitas dan produktivitas yang menurun.
  • Kerap menghindari kegiatan sosial.
  • Nafsu makan yang buruk atau berlebihan.

Baca juga: Jaga Kesehatan, Ini Bedanya Gangguan Stres Akut dan PTSD

Memang gejala yang dapat ditimbulkan oleh gangguan distimia juga dapat dimiliki oleh penyakit mental lainnya. Maka dari itu, kamu dapat memastikan gangguan yang menyerang pada dokter atau psikolog di Halodoc. Dengan menilai gejalanya, dokter atau psikolog dapat menentukan jenis gangguan mental yang menyerang. Caranya mudah, cukup download aplikasi Halodoc di smartphone kamu!

Selain itu, gejala-gejala ini juga dapat mulai muncul ketika masa kanak-kanak atau remaja. Seorang anak yang mengidap penyakit ini mungkin lebih mudah untuk tersinggung, merasa murung, serta pesimis dalam waktu yang lama. Pengidapnya juga kerap menunjukkan masalah pada perilaku, kinerja yang buruk di sekolah, dan sulit berinteraksi dalam situasi sosial. Lama-kelamaan, mungkin saja gangguan ini dapat bertambah parah.

Baca juga: 4 Gangguan Mental yang Terjadi Tanpa Disadari

Saat perasaan depresi tersebut telah terjadi begitu lama, banyak orang yang merasa jika sudah menjadi bagian hidupnya. Maka dari itu, jika kamu merasakan gejala dari distimia, ada baiknya untuk segera mendapatkan pengobatan profesional. Dengan begitu, gangguan yang menyerang kesehatan mental tersebut dapat lebih mudah diatasi. Hal ini juga dapat mencegah kamu untuk melukai diri sendiri.

 


Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Persistent depressive disorder (dysthymia).
Healthline. Diakses pada 2020. Persistent Depressive Disorder (Dysthymia).