• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ketahui Penyebab Terjadinya Ablasi Retina

Ketahui Penyebab Terjadinya Ablasi Retina

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta – Ablasi retina adalah kondisi mata serius yang terjadi ketika retina (lapisan jaringan tipis) di belakang mata menjauh dari posisi normalnya. Dokter menyebutnya juga sebagai retina terpisah. Apa yang menyebabkan ablasi retina bisa terjadi? Yuk, simak penjelasannya di bawah ini.

Pada ablasi retina, sel-sel retina terpisah dari lapisan pembuluh darah yang menyediakan oksigen dan makanan. Bila tidak segera diobati, kondisi tersebut dapat mengakibatkan kehilangan penglihatan mata permanen pada mata yang terkena. Karena itu, kamu dianjurkan untuk segera menemui dokter mata untuk membantu mengatasi ablasi retina.

Baca juga: Mengenal Lebih Jauh Presbiopi, Gangguan Mata Tua di Usia Lansia


Penyebab Ablasi Retina

Berdasarkan penyebabnya, ablasi retina dapat dibagi menjadi tiga jenis:

1. Rhegmatogenous

Ini adalah jenis ablasi retina yang paling umum. Rhegmatogenous disebabkan karena adanya lubang atau robekan pada retina yang memungkinkan cairan untuk lewat dan terkumpul di bawah retina, kemudian menarik retina menjauh dari jaringan di bawahnya. Area di mana retina terlepas dan kehilangan suplai darah, serta berhenti bekerja, dapat mengalami penurunan, bahkan kehilangan penglihatan.

Penyebab paling umum dari rhegmatogenous adalah penuaan. Seiring bertambahnya usia, cairan seperti gel yang mengisi bagian dalam mata kamu yang dikenal sebagai vitreous dapat berubah konsistensi dan menyusut atau menjadi lebih cair. Biasanya, vitreous dapat terpisah dari permukaan retina tanpa menimbulkan komplikasi, atau kondisi umum yang disebut posterior vitreous detachment (PVD). Salah satu komplikasi dari pemisahan tersebut adalah robekan pada retina.

Ketika vitreous memisahkan diri atau terkelupas dari retina, cairan tersebut mungkin menarik retina dengan cukup kuat, sehingga menyebabkan robekan pada retina. Bila tidak diobati, cairan vitreous dapat keluar dari robekan ke dalam ruang di belakang retina yang mengakibatkan retina terlepas.

2. Traksional

Jenis ablasi ini dapat terjadi ketika jaringan parut tumbuh pada permukaan retina, sehingga menyebabkan retina menjauh dari bagian belakang mata. Ablasi traksional biasanya terjadi pada orang yang memiliki diabetes yang tidak terkontrol atau kondisi lainnya.

3. Eksudatif

Pada jenis ablasi retina ini, cairan menumpuk di bawah retina, tetapi tidak ada lubang atau robekan di retina. Ablasi eksudatif dapat disebabkan oleh degenerasi makula terkait usia, cedera pada mata, tumor, atau gangguan inflamasi.


Orang-Orang yang Berisiko Mengalami Ablasi Retina

Berikut ini kelompok orang yang lebih berisiko mengalami ablasi retina:

  • Orang tua yang berusia 50 tahun ke atas.
  • Orang yang memiliki rabun jauh yang parah.
  • Orang yang mengalami cedera mata atau pernah menjalani operasi katarak.
  • Orang yang memiliki riwayat keluarga dengan ablasi retina.
  • Orang yang mengalami degenerasi kisi, yaitu penipisan di sepanjang tepi retina.
  • Orang yang mengalami retinopati diabetik, yaitu kerusakan pembuluh darah di retina karena diabetes.
  • Orang yang mengalami posterior vitreous detachment (PVD).

Baca juga: Usia 40 Tahun, Ini Cara Menjaga Kesehatan Mata


Waspadai Gejala Ablasi Retina

Ablasi retina itu sendiri sebenarnya tidak menimbulkan rasa sakit. Namun, tanda-tanda peringatan biasanya selalu muncul sebelum atau setelah kondisi tersebut terjadi:

  • Muncul banyak floaters, bintik-bintik kecil yang bergerak atau melayang melalui bidang penglihatan kamu.
  • Merasakan kilatan cahaya di satu atau kedua mata (fotopsia).
  • Penglihatan kabur.
  • Penglihatan di sisi (periferal) berkurang secara bertahap.

Baca juga: 4 Kondisi yang Mengharuskan Screening Retina

Bila kamu termasuk orang yang berisiko mengalami ablasi retina dan mengalami gejala-gejala seperti di atas, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter. Untuk melakukan pemeriksaan terkait gejala kesehatan yang kamu alami, bisa langsung buat janji di rumah sakit pilihan kamu lewat aplikasi Halodoc. Yuk, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Retinal detachment.
WebMD. Diakses pada 2020. Retinal detachment.