14 December 2018

Ketahui Perbedaan Trombositopenia yang Ringan dan Kronis

 trombositopenia ringan dan kronis, jumlah trombosit, sistem kekebalan tubuh

Halodoc, Jakarta - Gangguan darah trombositopenia merupakan kondisi yang terjadi akibat kurangnya jumlah platelet atau trombosit. Trombosit merupakan sel darah yang berperan penting dalam proses pembekuan darah. Trombositopenia mungkin merupakan akibat dari masalah kesehatan, atau efek dari obat-obatan tertentu.

Gangguan ini dapat menjadi kondisi ringan dan hanya menyebabkan beberapa tanda-tanda atau gejala. Namun, pada kasus yang langka, jumlah trombosit dapat menjadi sangat rendah, yaitu ketika perdarahan internal yang berbahaya dapat terjadi.

Pada kondisi yang lebih kronis, trombositopenia dinamakan ITP (idiopathic thrombocytopenic purpura). Kondisi ini dapat menyebabkan seseorang mudah mengalami memar atau berdarah, dan terjadi secara berlebihan. Perdarahan yang terjadi disebabkan oleh tingkat trombosit yang rendah. Trombosit adalah sel darah yang membantu dalam penggumpalan darah untuk mencegah dan menghentikan perdarahan.

Kondisi ini dapat terjadi pada orang dewasa dan anak-anak. ITP pada anak-anak biasanya terjadi setelah infeksi virus dan dapat pulih sepenuhnya tanpa melalui pengobatan atau penanganan khusus. Sedangkan pada orang dewasa, ITP biasanya merupakan kelainan yang bersifat kronis atau jangka panjang.

ITP adalah kondisi idiopatik (tidak diketahui penyebab atau penyakit dasarnya). Secara istilah, berikut penjelasan mengenai ITP:

  • Idiopatik: tidak diketahui penyebab dasarnya.

  • Trombositopenik: jumlah trombosit di bawah kadar normal.

  • Purpura: ruam berwarna merah keunguan.

Pengobatan yang dilakukan pada ITP sangat bergantung kepada jumlah trombosit dan usia. Pengobatan mungkin tidak perlu dilakukan ketika tidak ada tanda perdarahan dan jumlah trombosit mendekati normal. Sedangkan pada kasus yang lebih serius, obat-obatan akan diberikan, dan bahkan mungkin diperlukan operasi untuk situasi yang cukup parah.

Muncul Memar Hingga Perdarahan

Berikut ini merupakan gejala-gejala yang muncul akibat idiopathic thrombocytopenic purpura atau ITP:

  • Memar mudah muncul atau terjadi pada banyak bagian tubuh.

  • Perdarahan akibat luka yang berlangsung lebih lama.

  • Perdarahan yang terjadi di bawah kulit dan terlihat seperti bintik-bintik merah keunguan yang terjadi pada kaki.

  • Perdarahan dari hidung atau mimisan.

  • Darah pada urine atau tinja.

  • Perdarahan pada gusi, terutama setelah perawatan gigi.

  • Perdarahan berlebihan saat menstruasi.

  • Sangat kelelahan.

Dalam beberapa kasus, terkadang ITP tidak menimbulkan gejala sama sekali, khususnya pada anak-anak. Ketika anak-anak mengidap ITP, sistem kekebalan tubuhnya secara keliru menghasilkan antibodi terhadap trombosit setelah infeksi virus atau kuman lain. Kondisi ini adalah reaksi sistem kekebalan tubuh yang dapat terjadi selama beberapa minggu dan akhirnya menghilang. Namun, dalam beberapa kasus, ITP dapat menjadi kronis atau berkelanjutan.

Berkaitan dengan Kondisi Kekebalan Tubuh

Hingga saat ini, penyebab utama ITP masih belum diketahui. Orang yang mengidap ITP memiliki sistem kekebalan tubuh yang keliru dan akibatnya menyerang trombosit dan menganggapnya sebagai unsur asing yang berasal dari luar tubuh. Sistem kekebalan tubuh menghasilkan antibodi yang menempel pada trombosit, seakan-akan ditandai untuk dihancurkan. Akibatnya, jumlah trombosit dalam tubuh akan berkurang atau menjadi sangat rendah.

Jumlah trombosit normal dalam aliran darah melebihi 150.000 trombosit per mikroliter. Pengidap ITP memiliki trombosit di bawah 20.000 per mikroliter. Semakin rendah jumlah trombosit sudah berada di bawah 10.000 per mikroliter, maka dapat terjadi perdarahan dalam meski tidak terdapat luka.

Meski penyebab ITP belum dapat dipastikan, beberapa faktor dapat meningkatkan risiko terkena ITP. Wanita lebih cenderung terkena ITP dibandingkan dengan pria. Umumnya, anak-anak mengidap ITP pasca terinfeksi cirus tertentu, misalnya campak.

Itulah informasi mengenai trombositopenia kronis yang perlu kamu tahu. Jika kamu mengalami gejalanya, jangan pernah ragu untuk berdiskusi dengan dokter melalui aplikasi Halodoc. Diskusi dengan dokter di Halodoc dapat dilakukan via Chat atau Voice/Video Call kapan dan di mana pun. Saran dokter dapat diterima dengan praktis dengan cara download aplikasi Halodoc di Google Play atau App Store sekarang juga!

Baca juga: