Ketahui Tes Pemeriksaan untuk Deteksi Skiatika

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Ketahui Tes Pemeriksaan untuk Deteksi Skiatika

Halodoc, Jakarta - Skiatika dapat menyebabkan pengidapnya mengalami nyeri di sepanjang jalur saraf panggul (sciatic nerve). Perlu diketahui bahwa saraf panggul ini merupakan saraf terpanjang dalam tubuh yang terletak pada belakang tulang panggul, bokong, hingga tungkai. Lalu, bagaimana cara deteksi skiatika?

Sama seperti penyakit lainnya, skiatika dapat dideteksi melalui peninjauan gejala, riwayat kesehatan, serta tes fisik yang meliputi pemeriksaan kekuatan otot dan refleksnya. Namun, untuk memastikan diagnosis secara tepat, biasanya dibutuhkan serangkaian tes lanjutan berupa metode pemindaian berikut:

  • Elektromiografi (EMG), untuk mengukur impuls listrik yang dihantarkan saraf serta respon dari otot.

  • MRI, untuk menghasilkan gambar tulang dan jaringan lunak secara detail dengan menggunakan gelombang radio.

  • Foto Rontgen, untuk mengetahui adanya suatu gangguan yang menekan saraf tulang belakang.

  • CT myelogram. Pemeriksaan sinar-X dengan yang dikombinasikan dengan zat kontras atau pewarna, untuk melihat gambaran tulang belakang dan saraf-sarafnya secara lebih jelas.

Baca juga: Saraf Terjepit Dapat Sebabkan Skiatika, Ini Alasannya

Jika kamu mengalami nyeri di sepanjang jalur saraf panggul, jangan ragu untuk konsultasi dan melakukan pemeriksaan. Untuk melakukan pemeriksaan, kini kamu bisa langsung buat janji dengan dokter di rumah sakit melalui aplikasi Halodoc, lho. Tunggu apa lagi? Yuk download aplikasinya sekarang!

Tentang Skiatika dan Hal-Hal yang Menyebabkannya     

Skiatika umumnya terjadi karena adanya saraf terjepit atau gangguan lain yang menekan saraf panggul. Tingkat keparahan nyeri yang dapat dialami pengidapnya dapat bervariasi, mulai dari ringan hingga berat. 

Umumnya, gejala skiatika ditandai dengan rasa nyeri di sepanjang jalur saraf panggul. Rasa nyeri tersebut dapat berupa rasa panas atau seperti tersengat listrik, yang biasanya akan bertambah parah ketika duduk lama, bersin, dan batuk. 

Sedangkan beberapa gejala lain yang juga bisa dirasakan oleh pengidap skiatika adalah:

  • Kesemutan yang menjalar dari punggung hingga kaki.

  • Otot tungkai dan kaki menjadi lemah.

  • Mati rasa atau kebas.

Jika kamu mengalami berbagai gejala tersebut, jangan ragu untuk mendiskusikannya dengan dokter, supaya penanganan bisa dilakukan sesegera mungkin. Sekarang, diskusi dengan dokter spesialis yang kamu inginkan juga bisa dilakukan di aplikasi Halodoc, lho. Lewat fitur Talk to a Doctor, kamu bisa obrolkan langsung gejalamu melalui Chat atau Voice/Video Call.

Baca juga: Enggak Hanya Meningitis, Ini Jenis-Jenis Penyakit Saraf

Selain karena saraf terjepit, skiatika juga bisa terjadi karena adanya pertumbuhan tumor pada tulang belakang, stenosis spinal, keluarnya tulang belakang dari posisinya (spondylolisthesis), cedera atau infeksi tulang belakang, serta gangguan pada saraf sumsum tulang belakang (cauda equina syndrome).

Skiatika juga dapat meningkat risikonya karena beberapa hal berikut:

  • Duduk terlalu lama. 

  • Mengidap diabetes

  • Kerja berat. Orang yang sering mengangkat beban berat atau berkendara dalam waktu yang lama berpotensi mengidap skiatika.

  • Obesitas. Pertambahan berat badan dapat meningkatkan tekanan pada tulang belakang sehingga memicu skiatika.

  • Usia. Pertambahan usia dapat menyebabkan seseorang rentan terhadap gangguan tulang belakang.

Pengobatan yang Dapat Dilakukan

Pada kebanyakan kasus, skiatika dapat sembuh sendiri dengan melakukan perawatan mandiri, dalam waktu sekitar 6 minggu. Penanganan mandiri bisa dilakukan dengan cara memakai kompres hangat atau dingin atau mengonsumsi obat pereda nyeri yang dijual bebas di apotik. 

Pada beberapa kasus, tindakan operasi perlu untuk dilakukan. Terutama untuk skiatika yang terjadi karena gangguan pada usus, kandung kemih, atau yang disertai kelemahan pada tungkai. Beberapa pilihan pengobatan untuk mengatasi skiatika adalah:

  • Pemberian obat. Obat yang umumnya diresepkan adalah antiinflamasi, penenang otot (misalnya diazepam), antikejang (misalnya gabapentin dan pregabalin), atau antidepresan.

  • Suntikan steroid. Suntikan ini diberikan untuk meredakan nyeri dan peradangan di sekitar saraf yang terganggu.  

  • Operasi. Tindakan ini bertujuan untuk menghilangkan pertumbuhan tulang, mengatasi saraf terjepit, atau mengatasi kondisi lain yang menekan saraf tulang belakang. 

Baca juga: Ini Ciri-Ciri Alami Kerusakan Saraf

Ketika kondisi membaik pasca pengobatan, dokter biasanya akan menyarankan program rehabilitasi fisik guna mencegah cedera lanjutan. Terapi fisik juga akan dipusatkan untuk menguatkan otot yang menopang tulang belakang, memperbaiki postur tubuh, serta meningkatkan kelenturan tubuh.