Suka Menyebar Kebencian di Media Sosial Tanda Gangguan Mental, Benarkah?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
suka-menyebar-kebencian-di-media-sosial-tanda-gangguan-mental-benarkah-halodoc

Halodoc, Jakarta – Beberapa minggu ini linimasa diramaikan oleh berita pencopotan beberapa anggota TNI akibat ulah istri mereka yang menyebar kebencian lewat unggahan di media sosial. Melalui kejadian tersebut, masyarakat pun kembali diingatkan untuk bijak bermain media sosial, khususnya dalam mengunggah status atau postingan. 

Sebenarnya orang yang suka menebar kebencian atau sering disebut juga haters ada banyak dan sering berkeliaran di media sosial. Namun, pernahkah kamu berpikir, mengapa ada orang yang begitu mudahnya melontarkan ujaran kebencian, menyerang orang yang tidak disukainya, sampai menindas dan mem-bully dengan parah? Nah, kesenangan akan menyebar kebencian di media sosial sebenarnya bisa menjadi tanda gangguan mental, lho. Yuk, simak penjelasannya di sini.

Munculnya berbagai macam sosial media, seperti Facebook, Twitter, dan Instagram sebenarnya sangat baik sebagai wadah untuk menjalin koneksi dan menyampaikan aspirasi. Namun, makin kesini, media sosial rasanya semakin memberi dampak negatif akibat munculnya banyak haters. Mereka sering menyiarkan pikiran bersifat amarah dan kebencian secara instan kepada banyak orang. Lebih parahnya lagi, ujaran kemarahan tersebut bisa dilihat oleh masyarakat luas ketika dipublikasikan di media sosial.

Baca juga: Pengaruh Sosial Media pada Remaja

Mencibir, melecehkan, menghujat, dan bertindak agresif di dunia maya seolah memberikan kepuasan tidak tertandingi buat para haters. Apalagi bila pihak yang diserang sampai merasa menderita. Perilaku agresi di sosial media tersebut bisa disebut juga cyber bullying

Baca juga: Cyberbullying Bisa Sebabkan Depresi Hingga Bunuh Diri

Menurut ahli, haters yang sering melakukan cyber bullying kemungkinan memiliki gangguan mental. Mereka tidak bisa mengendalikan pikiran amarah dengan baik, sehingga mengeluarkan kata-kata agresi di dunia maya. Sama halnya seperti perilaku agresi pada umumnya, agresi dibagi menjadi dua jenis, yaitu agresi instrumental dan agresi karena kemarahan. Agresi instrumental adalah perilaku agresi yang dilakukan sebagai alat untuk mencapai sebuah tujuan tertentu. Misalnya, untuk mendukung kepentingan kelompok politik, agama, dan lainnya. Sementara itu, agresi kemarahan dilakukan karena orang tersebut memiliki kemarahan terhadap orang atau situasi yang ada yang kemudian dilampiaskan ke dunia maya.

Tidak hanya itu, mereka yang punya “hobi” menghujat, menindas, atau melecehkan lewat media sosial mungkin juga memiliki trauma tersendiri. Pelaku mungkin pernah menjadi korban penindasan sebelumnya dan selama ini memendam amarah. Jadi, mereka melakukan cyber bullying sebagai bentuk pelampiasan. Kemungkinan penyebab lain adalah pelaku pernah mendapatkan manfaat dari tindakan bullying yang mereka lakukan, sehingga mereka terdorong untuk mengulang kembali perilaku tersebut untuk mendapatkan manfaat yang sama.

Selain itu, kesukaan menyebar kebencian di media sosial justru bisa menunjukkan kelemahan orang tersebut, yaitu tanda bahwa dirinya kurang mendapatkan kasih sayang, baik dari keluarga maupun orang lain. Orang yang kurang kasih sayang akan cenderung lebih mudah mengeluarkan kata-kata kasar yang penuh dengan kebencian. Saat berinteraksi secara langsung pun, ia akan cenderung bersikap intimidatif pada orang lain. Secara psikologis, hal ini terjadi karena di dalam pikirannya sudah tertanam pola pikir bahwa ia sulit menjalin hubungan dengan orang lain, sehingga memilih untuk menjauh dari orang lain dengan cara menebar kebencian.

Baca juga: Ini Alasan Anak Jadi Pelaku Bullying

Itulah penjelasan gangguan mental yang mungkin dialami oleh haters atau penebar kebencian di media sosial. Bila kamu memiliki masalah dalam mengendalikan emosi, coba bicarakan saja dengan psikolog melalui aplikasi Halodoc. Kamu bisa menghubungi psikolog atau psikiater melalui Video/Voice Call dan Chat kapan dan di mana saja. Sampaikan keluh kesah dan dapatkan saran terbaik dari ahlinya. Download Halodoc sekarang di App Store dan Google Play!

Referensi:
Medscape. Diakses pada 2019. Cyberbullying Perpetrators and Victims at Risk for Physical and Psychiatric Problems.