• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Korban Bully Bisa Alami Gangguan Kepribadian Ambang

Korban Bully Bisa Alami Gangguan Kepribadian Ambang

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
undefined

Halodoc, Jakarta - Gangguan kepribadian ambang adalah gangguan mental yang memengaruhi cara berpikir dan merasakan tentang diri sendiri dan orang lain. Kondisi ini menimbulkan masalah di kehidupan sehari-hari karena pengidapnya mengalami masalah dengan citra diri, kesulitan mengelola emosi, dan perilaku serta tidak mampu memiliki hubungan yang tidak stabil.

Pengidap gangguan kepribadian ambang sangat takut diabaikan dan hal-hal yang tidak stabil. Padahal, kesulitan mengelola emosi, impulsif, dan perubahan suasana hati yang mereka miliki yang membuat orang lain mudah menjauh. Untuk itu, pengidapnya perlu mendapat perawatan agar belajar untuk mengatasi gejala-gejala yang ada. 

Baca juga: Alasan Lingkungan Bisa Sebabkan Gangguan Kepribadian Ambang

Trauma Akibat Bullying Bisa Picu Kondisi Ini

Melansir dari National Institute of Mental Health, kebanyakan orang yang mengalami gangguan kepribadian ambang pernah mengalami peristiwa traumatis di kehidupannya. Peristiwa traumatis seperti pelecehan, pengabaian, sampai bullying mampu menimbulkan gangguan kepribadian ambang. 

Namun, bukan hanya pengalaman traumatis saja. Seseorang yang memiliki anggota keluarga dekat, seperti orang tua atau saudara kandung dengan gangguan tersebut juga berisiko lebih tinggi terkena gangguan kepribadian ambang di kemudian hari.

Tanda Seseorang Alami Gangguan Kepribadian Ambang

Seseorang yang mengidap gangguan kepribadian ambang sering mengalami perubahan suasana hati dan punya masalah dengan citra dirinya. Mereka cenderung terlalu ekstrem ketika melihat suatu hal yang baik maupun buruk. Pendapat mereka tentang orang lain juga bisa berubah dengan cepat. Seseorang yang dilihat sebagai teman suatu hari dapat dianggap sebagai musuh atau pengkhianat di hari berikutnya. 

Baca juga: Ini Komplikasi Kesehatan Akibat Gangguan Kepribadian Ambang

Pergeseran perasaan ini dapat menyebabkan hubungan yang intens dan tidak stabil. Tanda atau gejala lain mungkin termasuk:

  • Selalu berupaya agar tidak diabaikan, seperti memulai hubungan intim (fisik atau emosional) dengan cepat atau memutuskan komunikasi dengan seseorang untuk mengantisipasi pengabaian.
  • Pola hubungan yang intens dan tidak stabil dengan keluarga, teman, dan orang yang dicintai. Mereka dapat dekat dan mencintai seseorang sangat mendalam, namun rasa itu bisa tiba-tiba berubah menjadi kebencian. 
  • Citra diri yang terdistorsi dan tidak stabil.
  • Perilaku impulsif dan sering berbahaya, seperti menghabiskan waktu, melakukan hubungan seks yang tidak aman, penyalahgunaan narkoba, mengemudi sembrono, dan makan berlebihan. 
  • Berani melukai diri sendiri dan punya pikiran bunuh diri.
  • Memiliki suasana hati yang intens dan sangat berubah-ubah yang setiap episodenya dapat berlangsung dari beberapa jam hingga beberapa hari.
  • Perasaan kosong.
  • Kemarahan yang tidak pantas, intens, atau punya masalah saat mengendalikan kemarahan
  • Kesulitan mempercayai seseorang dan selalu insecure.
  • Perasaan disosiasi, seperti perasaan terputus dari diri sendiri, serta melihat diri sendiri dari luar tubuh, atau perasaan tidak sadar.

Tidak semua orang dengan gangguan kepribadian ambang mengalami setiap gejala di atas. Beberapa individu mungkin hanya mengalami beberapa gejala, sementara yang lain memiliki banyak gejala. Tingkat keparahan dan frekuensi gejala bervariasi tergantung pada individu dan penyakit mereka.

Baca juga: Terapi MBT Bisa Atasi Gangguan Kepribadian Ambang

Kalau kamu pernah mengalami peristiwa traumatis hingga memengaruhi kualitas hidup saat ini, kamu bisa bicara dengan psikolog di aplikasi Halodoc untuk mencari penanganan dan jalan keluarnya. Lewat fitur Talk to A Doctor yang ada di aplikasi Halodoc untuk menghubungi dokter kapan saja dan di mana saja via Chat, dan Voice/Video Call.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Borderline personality disorder.
National Institute of Mental Health. Diakses pada 2020. Borderline personality disorder.