Lewy Body Dementia dan Alzheimer, Apa Bedanya?

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
lewy body dementia, alzheimer

Halodoc, Jakarta - Lewy body dementia dan alzheimer merupakan kedua masalah yang mengakibatkan adanya penurunan daya ingat yang terjadi pada lansia. Selain penurunan daya ingat, kedua penyakit ini juga akan menyebabkan perubahan perilaku secara, bertahap karena mengalami halusinasi visual serta tidak fokus. Apa yang membedakan kedua penyakit tersebut?

Baca juga: Inilah 7 Gejala Umum Demensia Alzheimer

Berikut Perbedaan Lewy Body Dementia dan Alzheimer

Lewy body dementia merupakan salah satu jenis demensia yang paling sering terjadi. Kondisi ini terjadi ketika adanya penumpukan protein pada sel saraf di bagian otak yang berfungsi dalam mengatur daya ingat atau cara berpikir.

Sedangkan penyakit alzheimer merupakan penyakit pada otak yang menyebabkan penurunan daya ingat, perubahan perilaku secara bertahap, kemampuan berbicara, serta kemampuan berpikir. Kondisi ini terjadi karena adanya pengendapan protein dalam otak, sehingga menghalangi asupan nutrisi menuju sel-sel dalam otak. Sama seperti lewy body dementia, alzheimer juga banyak dialami oleh orang-orang yang berusia di atas 60 tahun.

Gejala yang Muncul pada Pengidap Lewy Body Dementia

Pada pengidap lewy body dementia, gejala akan ditandai dengan:

  • Halusinasi yang menjadi gejala utama dari lewy body dementia. Selain halusinasi visual atau gambar, pengidap lewy body dementia juga akan mengalami halusinasi penciuman, halusinasi indra peraba, serta halusinasi suara.

  • Mengalami gangguan gerakan tubuh karena otot yang kaku. Akibatnya, gerakan tubuh melambat dan mengalami tremor.

  • Mengalami gangguan kognitif atau gangguan berpikir. Pengidap lewy body dementia tidak akan bisa fokus pada satu kejadian, linglung, terjatuh tiba-tiba, dan kehilangan sebagian daya ingat.

  • Mengalami gangguan rapid eye movement (REM). Bahayanya, ketika pengidap mengalami ini, mereka akan bergerak mengikuti mimpinya.

  • Mengalami gangguan fungsi tubuh yang diatur oleh saraf yang mengatur tekanan darah, produksi keringat, denyut nadi, serta sistem pencernaan. Karena hal ini, pengidap akan sering merasa pusing, mengalami masalah pencernaan, serta sering terjatuh tiba-tiba.

Baca juga: 5 Faktor Penyebab Alzheimer Pada Seseorang

Sedangkan pada Pengidap Alzheimer, Ini Gejala yang Akan Muncul

Perkembangan gejala pada pengidap alzheimer dibagi menjadi tiga tahapan. Gejala akan berkembang secara perlahan selama beberapa tahun sesuai dengan tahapan yang sedang dialaminya. Berikut ini gejala yang dialami:

  • Tahap Awal

Pada tahap ini, pengidap akan kehilangan ingatan secara perlahan. Gejala yang muncul meliputi kesulitan menulis, lupa nama tempat atau benda, lupa dengan kejadian yang belum lama terjadi, sulit dalam merangkai kata dalam berkomunikasi, sering mengulang pertanyaan yang sama, lebih banyak melakukan waktu untuk tidur, serta sulit membuat keputusan.

  • Tahap Menengah

Pada tahap ini, pengidap akan membutuhkan bantuan dalam menjalani aktivitas harian. Gejala dapat berupa gelisah, lupa nama anggota keluarga, mulai berhalusinasi, kesulitan memecahkan masalah, tampak sering kebingungan, perubahan suasana hati yang drastis, serta merasa frustasi atau cemas yang berlebihan.

  • Tahap Akhir

Pada tahap ini, pengidap akan membutuhkan pengawasan dan bantuan penuh dari orang lain untuk melakukan aktivitas hariannya. Pengidap bahkan bisa saja merasa tertekan dengan dirinya sendiri. Gejala dapat meliputi kehilangan kemampuan berkomunikasi, kesulitan bergerak tanpa bantuan orang lain, mengalami infeksi kulit, sering mengompol tanpa sadar, halusinasi yang bertambah parah, serta sulit menelan makanan.

Baca juga: Beda Demensia dan Alzheimer, Penyakit yang Rentan Menyerang Lansia

Untuk menghindari terjadinya penyakit-penyakit tersebut, selalu konsumsi makanan dengan gizi seimbang, batasi konsumsi alkohol, berhenti merokok, jaga berat badan ideal, rajin berolahraga, serta periksakan tekanan darah kamu secara rutin ketika menginjak usia 40 tahun. Jika ada yang salah dengan kesehatan kamu, diskusikan saja dengan dokter ahli Halodoc! Penanganan yang tepat dapat mencegah terjadinya komplikasi yang berbahaya. Yuk, download aplikasinya di Google Play atau App Store!