• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Memaafkan Kesalahan Orang Lain Bisa Mengurangi Depresi 

Memaafkan Kesalahan Orang Lain Bisa Mengurangi Depresi 

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
undefined

Halodoc, Jakarta - Berbicara kata “memaafkan”, apa hal tersebut di benakmu? Hal yang sulit dilakukan? Sesuatu harus dilakukan? Atau solusi terampuh menyelesaikan masalah? Memang banyak hal yang berkaitan dengan “memaafkan”. Memaafkan simpelnya memberikan maaf atau ampunan atas kesalahan dan sebagainya. Memaafkan juga bisa diibaratkan sebagai pelepasan dendam atau kemarahan pada orang lain. 

Ada satu hal yang mesti ditegaskan di sini. Memaafkan bukan berarti rekonsiliasi. Artinya, seseorang tidak harus kembali ke hubungan yang sama atau menerima perilaku negatif yang sama dari orang yang telah menyakiti kita. 

Di balik itikad baik memaafkan, ternyata ada berbagai manfaat yang bisa kita petik. Nah, beberapa manfaat dari memaafkan kesalahan orang lain. 

Baca juga: Depresi Bisa Terjadi pada Segala Usia

Menjauhkan Trauma, Baik untuk Kesehatan Mental

Menurut para ahli, memaafkan sangat penting bagi kesehatan mental seseorang yang telah menjadi korban dari kesalahan perlakuan tak menyenangkan orang lain. Tindakan memaafkan mendorong mereka untuk melangkah ke depan, alih-alih terlibat secara emosional dalam ketidakadilan atau trauma.

Menariknya lagi, ada beragam keistimewaan dari tindakan mulia ini. Menurut studi, memaafkan terbukti dapat meningkatkan suasana hati, meningkatkan optimisme, dan menjaga dari kemarahan, stres, kecemasan, dan depresi.

Terapi memaafkan seperti Forgiveness and Forgiveness Therapy, dikaitkan dengan perasaan kebahagiaan, harapan, dan optimisme yang lebih besar. Di samping itu, proses memaafkan juga dapat melindungi  kita dari kondisi serius, seperti kecemasan, depresi, dan gangguan stres pascatrauma. 

Ternyata rasa marah, dongkol, kesal, muak, benci, dendam–apapun namanya– bisa mengarahkan tubuh untuk melepaskan hormon stres, seperti kortisol dan adrenalin. Nah, bila kadar kedua zat kimia tersebut tak stabil dalam tubuh, maka jangan heran stres dan kecemasan akan muncul. 

Lalu, benarkah tindakan memaafkan bisa membantu kita mengurangi depresi? Menurut para pakar, terapi memaafkan  meminta pasien untuk menghadapi ketidakadilan dan rasa sakit emosional, menuju pengampunan untuk menyelesaikan kemarahan yang tidak sehat. Nah, bersamaan dengan pengobatan atau terapi perilaku kognitif, terapi memaafkan dapat membantu mengobati depresi.

Baca juga: Cyberbullying Bisa Sebabkan Depresi Hingga Bunuh Diri

Hal yang perlu di ditegaskan, ada skenario di mana memaafkan bukanlah jalan terbaik bagi orang-orang tertentu. Terkadang korban pelecehan seksual menjadi lebih berdaya, ketika mereka memberikan dirinya izin untuk tidak memaafkan pelakunya. 

Beragam Jalan untuk Memaafkan

Memaafkan bisa menjadi tantangan tersendiri, terutama ketika pihak yang bersalah menawarkan permintaan maaf yang tidak tulus atau tidak sama sekali. Namun, seringkali tindakan memaafkan ini jalan paling sehat untuk kedepannya. 

Menurut psikolog Robert Enright dalam Psychology Today, ada langkah atau jalan memaafkan. Pertama, mengungkap kemarahanmu dengan menjelajahi bagaimana dirimu telah menghindari atau mengatasi emosi. 

Kedua dengan membuat keputusan untuk memaafkan. Mulailah dengan mengakui bahwa mengabaikan atau mengatasi perasaan negatif tidak berhasil,  dan oleh karena itu memaafkan dapat memberikan jalan ke depan.

Baca juga: Hubungan Obesitas dan Depresi yang Perlu Diwaspadai

Ketiga, tumbuhkan keinginan untuk memaafkan dengan mengembangkan belas kasih bagi pelaku. Renungkan apakah tindakan itu disebabkan oleh niat jahat atau keadaan lainnya dalam kehidupan pelaku. 

Terakhir, lepaskan emosi berbahaya atau negatif, dan renungkan bagaimana dirimu akan tumbuh  atau  memetik manfaat dari  tindakan memaafkan itu sendiri

Mau tahu lebih jauh mengenai masalah di atas? Atau memiliki keluhan kesehatan lainnya? Kamu bisa kok bertanya langsung pada psikolog atau dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli kapan dan di mana saja tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Referensi:
Psychology Today. Diakses pada 2020. Forgiveness.