Memiliki Momongan dengan Donor Sperma, Apakah Berisiko?

Memiliki Momongan dengan Donor Sperma, Apakah Berisiko

Halodoc, Jakarta -  Bagi sebagian pasangan yang terbilang sulit memiliki momongan dengan cara “konvensional”, donor sperma terkadang menjadi alternatif yang sering dipilih. Saking banyak diminatinya ini, menurut The Guardian, donor sperma menjadi pekerjaan “sampingan” paling menjanjikan untuk mendapatkan penghasilan ekstra di tahun 2011. Kok bisa?

Pasalnya, di negara Barat banyak wanita dan pasangannya mengalami infertilitas. Di Inggris saja, setidaknya satu di antara tujuh pasangan punya masalah dengan kesuburan. Nah, donor sperma atau sel telur inilah yang terkadang menjadi alternatif lain yang mereka gunakan. Jangan salah, enggak sedikit lho mereka yang ingin punya anak dari donor sperma.

Harus Mendekati Sempurna

Metode ini tentunya dimulai dari sang pendonor sperma. Namun, jangan mengira menjadi donor sperma itu gampang. Sebab, beberapa bank sperma punya prosedur ketat dan kualifikasi yang tinggi untuk menerima calon pendonor. Menurut Direktur Laboratorium dan Bank of New England Cryogenic Center, seleksi donor sperma tak hanya menyoal kesehatan pendonor, tapi juga dilihat secara subjektif.

Singkat kata, klien menginginkan sperma dari sosok pria yang “sempurna”. Masuk akal sih alasannya, pastinya klien ingin memiliki keturunan yang cerdas, sehat, dan tampan atau cantik. Ya, pokoknya mendekati sempurna. Seleksinya, meliputi latar belakang, kondisi fisik, tes kesehatan, mesti berpendidikan, dan harus lolos pemeriksaan sperma.

Semua hal ini tujuannya meminimalkan risiko yang tak diinginkan. Pastinya, hal ini bermuara pada satu tujuan, yaitu memperoleh buah hati sesuai yang diharapkan oleh orangtuanya.

Berisiko Menimbulkan Masalah

Punya anak dari donor sperma memang terkadang memerlukan banyak pertimbangan. Meski proses inseminasi buatan menggunakan donor dari sperma orang lain menjadi salah satu alternatif yang bisa dicoba, tapi bukan berarti hal ini lepas dari berbagai masalah. Sebab dalam prosesnya, bisa jadi timbul beberapa problem yang harus dihadapi. Berikut contohnya:

1. Ketidakjelasan Genetik

Menurut dokter spesialis obstetri dan ginekologi sekaligus pakar bayi tabung, donor sperma ke depannya bisa menimbulkan berbagai risiko yang tak diinginkan. Secara ilmu pengetahuan, donor sperma menyebabkan riwayat genetik yang tidak jelas. Nah, hal ini nantinya bisa memunculkan masalah sosial dalam kehidupan, termasuk medikolegal.

Contohnya, kasus seorang wanita di Amerika Serikat yang pernah menggugat bank sperma. Wanita ini awalnya menginginkan sperma dari pria pendonor berkulit putih. Namun, wanita tersebut malah melahirkan anak berkulit hitam setelah hamil dari sperma pendonor yang salah.

2. Keturunan yang Cacat

Kata ahli, donor sperma biasanya enggak hanya diberikan ke satu wanita. Dengan kata lain, bila empat wanita mendapatkan sperma dari donor yang sama, maka anak-anak mereka akan memiliki kesamaan genetik. Alasannya jelas, karena mereka berasal dari satu ayah.

Coba bayangkan, bagaimana bila anak tumbuh dewasa dan menikah dengan seseorang yang ternyata berasal dari satu sperma yang sama? Peluangnya memang kecil, tapi kemungkinan untuk terjadi tetap ada. Inilah bahayanya, sebab hal ini bisa meningkatkan risiko untuk memiliki keturunan yang cacat.

Nah, risiko-risiko di ataslah yang membuat negara kita tidak memperbolehkan donor sperma. Di Indonesia, pelarangan donor sperma maupun sel telur diatur dalam Undang-Undang tentang Kesehatan Nomor 36 tahun 2009 dan Peraturan Pemerintah tentang Kesehatan Reproduksi Nomor 41 tahun 2014. Namun, inseminasi buatan maupun bayi tabung tetap boleh dilakukan, asalkan sel telur dan sperma berasal dari pasangan suami dan istri itu sendiri.

Punya keluhan kesehatan atau ingin tahu lebih jauh mengenai masalah di atas? Kamu bisa kok bertanya langsung kepada dokter ahli melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Baca juga: