• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Buta Warna pada Anak, Ini yang Perlu Diketahui

Buta Warna pada Anak, Ini yang Perlu Diketahui

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta - Mau tahu banyaknya pengidap buta warna secara global? Bagi kamu yang menjawab kisaran 1-10 juta rasanya kurang tepat. Berdasarkan data Colour Blind Awareness, setidaknya 300 juta orang di seluruh dunia mengidap buta warna. Dengan kata lain, melebihi jumlah penduduk Indonesia, sangat banyak bukan?

Buta warna adalah gangguan penglihatan yang bisa terjadi pada siapa saja, termasuk ke anak-anak. Meski sering tidak dianggap sebagai kondisi yang serius, tetapi buta warna bisa membuat pengidapnya kesulitan dalam menjalankan aktivitas harian.

Sayangnya, buta warna pada anak-anak seringnya terlambat untuk diketahui. Sebab, anak-anak cenderung belum mengetahui dan tidak menyadari bahwa apa yang dilihatnya mungkin saja tidak sempurna. Sebagian besar anak-anak mungkin merasa cukup hanya dengan melihat beberapa gradasi warna, padahal pada orang normal ada ratusan jenis warna yang sebenarnya bisa dikenali.

Anak-anak yang mengalami buta warna mungkin akan kesulitan untuk membedakan rambu lalu lintas, hingga kesulitan memahami pelajaran yang melibatkan kemampuan pengenalan warna secara akurat. Buta warna anak bisa diketahui melalui beberapa jenis tes yang bisa dilakukan.

Baca juga: 5 Cara Tes Buta Warna yang Akurat

Berbagai Faktor Penyebabnya

Mata seorang pengidap buta warna tidak dapat mengenali dan membedakan warna seperti yang dilakukan mata normal. Pada dasarnya, hal itu bisa terjadi karena adanya gangguan pigmen dalam reseptor penglihatan mata, yaitu sel kerucut di mata. Ada beberapa faktor yang bisa jadi penyebab buta warna pada anak, mulai dari faktor genetik hingga efek samping obat tertentu.

1. Faktor Genetik

Ada kondisi buta warna yang terjadi karena faktor genetik, artinya buta warna anak merupakan “warisan” dari orangtua. Hal itu berkaitan dengan kondisi kromosom X, artinya laki-laki yang memiliki riwayat buta warna tidak akan menurunkan kondisi tersebut, kecuali pasangannya juga memiliki gen buta warna.

Peluang anak buta warna semakin tinggi mengingat ibu atau wanita lebih berperan dalam proses penurunan gen ke anak. Selain itu, buta warna juga cenderung lebih sering mengintai anak lelaki dibandingkan anak perempuan.

Baca juga: Mengapa Mata Mengalami Buta Warna?

2. Kondisi Medis

Buta warna juga bisa terjadi karena kondisi medis tertentu yang dialami anak. Tak dapat dimungkiri, ada beberapa penyakit yang bisa menyebabkan seseorang memiliki peluang besar mengalami buta warna, misalnya parkinson, diabetes, kanker darah alias leukemia, hingga anemia sel sabit. Untuk mengetahui lebih lanjut, sebaiknya orangtua segera membawa anak untuk melakukan pemeriksaan. Sebab, buta warna yang terjadi karena penyakit yang tidak ditangani segera, bisa berdampak negatif.

3. Efek Samping Obat

Siapa sangka, buta warna ternyata juga bisa terjadi karena efek samping dari obat tertentu. Namun jangan khawatir, jika buta warna terjadi karena konsumsi obat, maka biasanya kondisi akan kembali normal setelah pengobatan dihentikan.

Jangan Tunggu Masalah Muncul, Apalagi Dewasa

Kira-kira sekitar 5-1 persen akan di usia pra sekolah, dan 25 persen mereka yang menginjak usia sekolah, mengalami gangguan pada penglihatannya. Artinya, gangguan mata bukanlah monopoli orang dewasa atau lansia saja. Di samping itu, risiko gangguan mata pada anak ini juga makan meningkat ketika ada anggota keluarga yang memiliki masalah penglihatan.

Kembali ke pertanyaan di atas, kapan sih waktu yang tepat untuk melakukan tes buta warna? Jawabannya simepel, sedini dan segera mungkin. Menurut ahli di Amerraican Academy of Ophthalmology dan American Association for Pediatric Ophthalmology and Strabismus, orangtua peru mulai memeriksakan mata anaknya sejak awal di lahirkan. Tujuannya untuk menelisik ada tidaknya kemungkinan tanda-tanda kelainan penglihatan.

Baca juga: 4 Tes Buta Warna pada Anak di Rumah

Selanjutnya ketika dirinya sudah menginjak usia enam bulan sampai satu tahun, cobalah periksa kembali pekembangan matanya. Tahap selanjutnya pada usia 3 sampai 3,5 tahun, lakukan pemeriksaan lanjutan dan tes ketajaman mata. Nah, di usia 5-6 tahun, ketika Si Kecil sudah mulai mengenal warna, cobalah lakukan pemeriksaan tes buta warna. Andaikan anak sudah mulai mengenai warna di bawah usia tersebut, tes buta warna juga boleh saja kok dilakukan.

Hal yang perlu digarisbawahi, lakukanlah pemeriksaan tes buta warna bila anak atau dirimu mengalami gejala-gejala di bawah ini:

  • Sulit membedakan warna lampu lalu lintas.

  • Sulit mengikuti pelajaran di sekolah yang berhubunga dengan warna.

  • Sulit membedakan warna makanan atau buah-buahan.

  • Sulit mengidentifikasinan warna.

  • Sensitif terhadap cahaya terang.

  • Sulit mengidentifikasi warna ketika saat berada di lingkungan atau kondisi dengan cahaya yang redup.

Mau tahu lebih jauh mengenai masalah di atas? Atau memiliki keluhan kesehatan lainnya? Kamu bisa kok bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Referensi:
National Institutes of Health - National Eye Institute. Diakses pada 2020. Facts about Color Blindness.
The American Academy of Ophthalmology (AAO). Diakses pada Oktober 2019. Eye Screening for Children.
Healthline. Diakses pada Oktober 2019. What Causes Color Blindness?
WebMD. Diakses pada 2020. Color Blindness.