Mengenal Penyakit Kuning pada Bayi, Berbahaya atau Normal?

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Mengenal Penyakit Kuning pada Bayi, Berbahaya atau Normal?

Halodoc, Jakarta – Bayi kuning (jaundice) adalah kondisi umum yang terjadi pada bayi berusia 2 - 3 hari. Tak jarang, kondisi ini membuat kebanyakan ibu khawatir. Hal ini karena bayi kuning biasanya disertai dengan penurunan berat badan dan gula darah rendah.

Ketahui Beda Bayi Kuning Normal dan Tidak

Bayi kuning umumnya tidak berbahaya karena hanya berlangsung 24 jam di kehidupan pertama Si Kecil. Kondisi ini disebabkan oleh kelebihan bilirubin (unsur kuning) dalam darah. Bilirubin sebenarnya ada sejak Si Kecil berada dalam kandungan. Namun, karena organ hati Si Kecil belum berkembang dengan sempurna, proses pembuangan bilirubin menjadi terhambat. Hal ini berdampak pada menumpuknya bilirubin dalam darah, sehingga menyebabkan penyakit kuning fisiologis.

Kondisi ini rentan terjadi pada bayi yang lahir prematur, bayi yang mengalami sumbatan di saluran cerna dan bayi yang mengalami perdarahan. Gejalanya berupa kulit bagian putih mata yang menguning, urine berwarna kuning pekat, feses berwarna pucat, serta telapak tangan dan kaki yang menguning.

Sementara bayi kuning yang abnormal disebabkan oleh masalah kesehatan yang diidap Si Kecil, seperti anemia hemolitik, perbedaan golongan darah (ketidakcocokan ABO atau rhesus) dan kekurangan enzim tertentu. Kondisi ini membuat bayi kuning lebih dari 1 minggu sehingga perlu mendapat perawatan segera. Ibu juga perlu membawa Si Kecil ke dokter jika kondisi bayi kuning mulai menyebar ke bagian tubuh lain yang disertai gejala lain, seperti Si Kecil tidak mau makan, rewel, tampak lemas, demam tinggi (38 derajat Celsius lebih), sesak napas dan kejang.

Bayi Kuning Tidak Berbahaya, Tapi Perlu perhatian Khusus

Meskipun tidak berbahaya, bayi kuning perlu mendapat perhatian khusus. Selain penanganan medis dengan fototerapi, ibu bisa mencegah kenaikan bilirubin dengan cara memberikan asupan yang cukup, yaitu dengan ASI atau suplementasi.

Dilansir melalui situs Ikatan Dokter Anak Indonesia, idai.org, berikut ini tips mengatasi bayi kuning agar Si Kecil tetap mendapat ASI dan sehat:

  • Usahakan agar Si Kecil tetap mendapat ASI. Jika mungkin, berikan ASI sesering mungkin, yaitu 8 - 12 kali per hari. Namun, jika cara ini tidak bisa dilakukan, pemberian suplementasi (asupan pengganti ASI) merupakan alternatif.

  • Pemberian suplementasi dapat diberikan dengan cara memerah ASI (jika  ada kondisi khusus yang membuat Si kecil tidak bisa menyusu langsung), ASI donor yang sudah diskrining dan sudah dipasteurisasi, serta susu formula (sufor). Sufor biasanya diberikan sekitar 6 - 10 botol dalam 24 jam. Namun, pastikan ibu memberikan sufor sesuai dengan waktu yang disarankan oleh dokter.

Pemberian suplementasi memang disarankan. Namun, pemberiannya baru bisa dipertimbangkan jika ibu dan Si Kecil memiliki kondisi khusus. Antara lain:

  • Si Kecil memiliki gula darah rendah tanpa gejala, dehidrasi, penurunan berat badan, produksi ASI dan gerakan usus melambat, hiperbilirubin (kadar bilirubin sangat tinggi), serta kondisi yang membuat Si Kecil membutuhkan zat mikronutrien dalam makanannya.

  • Ibu mengidap kelainan payudara, yang berdampak pada buruknya produksi ASI atau rasa nyeri pada payudara saat menyusui.

Jika setelah tiga hari dilahirkan kulit Si Kecil menguning, jangan ragu untuk berbicara dengan dokter. Ibu bisa menghubungi dokter yang ada di Halodoc untuk mendapat rekomendasi saran terpercaya. Ibu bisa menghubungi dokter kapan saja dan dimana saja melalui Chat, dan Voice/Video Call. Jadi, segera download aplikasi Halodoc di App Store atau Google Play sekarang juga!

Baca Juga: