Menopause Tingkatkan Risiko Hemokromatosis

Ditinjau oleh: dr. Gabriella Florencia
Menopause Tingkatkan Risiko Hemokromatosis

Halodoc, Jakarta – Pernahkah kamu mendengar penyakit hemokromatosis? Kondisi hemokromatosis terjadi ketika kadar zat besi di dalam tubuh jumlahnya berlebihan. Zat besi merupakan salah satu mineral yang dibutuhkan oleh tubuh untuk menghasilkan hemoglobin. Hemoglobin adalah zat yang ada dalam sel darah merah yang berfungsi untuk mengikat oksigen dan menyebarkannya dalam tubuh.

Baca juga: Pengidap Thalasemia Berisiko Tinggi Terkena Hemokromatosis

Zat besi didapatkan oleh tubuh melalui makanan. Namun, bagi pengidap hemokromatosis, zat besi diserap secara berlebihan dan tidak dapat dikeluarkan oleh tubuh. Hasilnya, zat besi menumpuk dalam tubuh terutama pada organ hati, jantung, pankreas dan sendi. Kondisi yang tidak segera diatasi bisa mengakibatkan organ yang menjadi lokasi penumpukan zat besi alami kerusakan.

Ketahui Penyebab dan Faktor Risiko Hemokromatosis

Hemokromatosis disebabkan oleh kelainan genetik atau mutasi pada gen yang berfungsi menyerap zat besi dalam tubuh. Ada beberapa kondisi yang sebabkan kelainan genetik atau mutasi gen, salah satunya adalah riwayat orangtua. Memiliki 2 gen HFE yang bermutasi adalah risiko besar seseorang alami hemokromatosis turunan.

Selain itu, seseorang yang mengalami penyakit autoimun berisiko alami hemokromatosis. Selain itu, ada beberapa pemicu lainnya yang sebabkan seseorang alami hemokromatosis, seperti penyakit gagal ginjal, penyakit liver yang kronis, dan penyakit thalasemia.

Ketahui faktor risiko lainnya yang meningkatkan seseorang alami hemokromatosis, seperti:

1. Jenis Kelamin

Penyakit hemokromatosis lebih banyak dialami oleh pria. Tidak ada salahnya para pria untuk lebih memerhatikan kondisi kesehatan agar terhindar dari berbagai gangguan penyakit.

2. Menopause

Meskipun penyakit ini lebih banyak dialami pria, namun wanita yang memasuki masa menopause perlu menjaga kesehatan lebih baik karena menopause menjadi faktor yang tingkatkan wanita alami hemokromatosis. Hal ini disebabkan kelebihan zat besi pada wanita umumnya dapat dikeluarkan melalui darah menstruasi.

3. Histerektomi

Histerektomi adalah tindakan pengangkatan rahim pada wanita. Umumnya, kondisi ini dilakukan sebagai pengobatan bagi jenis penyakit tertentu. Wanita yang pernah mengalami prosedur histerektomi nyatanya rentan alami kondisi hemokromatosis.

Baca juga: Hemokromatosis Bisa Sebabkan Kulit Menggelap

Perhatikan Gejala yang Muncul Akibat Hemokromatosis

Umumnya, hemokromatosis tidak gejala apa pun. Namun, gejalanya biasanya mulai dialami wanita ketika memasuki masa menopause. Tidak ada salahnya mengetahui gejala-gejala yang terjadi pada pengidap hemokromatosis.

Pengidap hemokromatosis biasanya mengalami perubahan pada tubuh, seperti lemas, nyeri sendi, mengalami kerontokan bulu tubuh, perubahan warna kulit menjadi keabuan, penurunan berat badan, linglung, dan penurunan gairah seksual. Segera atasi kondisi dan lakukan pemeriksaan pada rumah sakit terdekat untuk melakukan beberapa pemeriksaan, seperti tes fungsi hati dan biopsi hati.

Kondisi hemokromatosis yang tidak segera diatasi dapat bertambah buruk dan menimbulkan komplikasi pada kesehatan, seperti gagal jantung, sirosis, diabetes, radang sendi, dan impotensi.

Baca juga: Mengenal Lebih Dekat Tes Kadar Zat Besi

Hemokromatosis dapat diatasi dengan melakukan beberapa cara pengobatan, seperti phlebotomy atau proses pembuangan darah. Proses ini dilakukan seperti donor darah. Untuk membantu proses pengobatan, pengidap hemokromatosis dilarang untuk mengonsumsi makanan atau minuman yang meningkatkan kadar zat besi dalam tubuh. 

Selain phlebotomy, hemokromatosis dapat diatasi dengan penggunaan obat-obatan. Jenis obat yang diberikan nyatanya mampu mengikat zat besi dan dikeluarkan melalui urine atau feses.

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2019. Hemochromatosis
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Hemochromatosis