Pengidap Thalassemia Berisiko Tinggi Terkena Hemokromatosis

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Pengidap Thalassemia Berisiko Tinggi Terkena Hemokromatosis

Halodoc, Jakarta – Terjadi ketika kadar zat besi dalam darah terlalu berlebihan, hemokromatosis dapat menyebabkan pengidapnya mengalami kondisi serius. Penyebab dari hemokromatosis cukup banyak, pun hal-hal yang dapat meningkatkan risikonya, seperti thalassemia.

Thalassemia adalah kelainan darah yang menyebabkan protein dalam sel darah merah tidak berfungsi secara normal. Akibatnya, kadar hemoglobin yang berfungsi dengan baik dalam tubuh pengidap thalassemia akan sangat sedikit, sehingga mereka memerlukan transfusi darah secara rutin dalam jangka panjang. Hal inilah yang membuat pengidap thalassemia menjadi rentan terhadap hemokromatosis.

Baca juga: Kekurangan Zat Besi Bisa Tingkatkan Risiko Gagal Jantung

Bicara soal penyebab hemokromatosis, hal utama dan yang paling umum menyebabkan kondisi ini adalah kelainan atau mutasi gen yang mengatur penyerapan zat besi dalam tubuh. Penyakit ini juga dapat disebabkan oleh penyakit autoimun, yang biasanya terjadi pada masa perkembangan janin. Hemokromatosis jenis ini dapat menyebabkan kematian dini pada bayi yang baru lahir.

Selain beberapa hal tadi, faktor lain yang juga meningkatkan risiko seseorang untuk mengidap hemokromatosis adalah:

  • Gagal ginjal kronis yang sudah di tahap bergantung pada cuci darah.

  • Penyakit liver kronis, seperti hepatitis C atau perlemakan hati.

Baca juga: Kapan Bumil Butuh Tambahan Zat Besi? Ini Kata Ahli

Gejala yang Dialami Pengidap Hemokromatosis

Pada beberapa kasus, hemokromatosis bisa tidak menimbulkan gejala yang berarti. Pada wanita, kelebihan kadar zat besi dalam darah dapat terbuang saat menstruasi, sehingga gejala hemokromatosis biasanya baru muncul setelah memasuki masa menopause. Ketika gejala timbul, hemokromatosis dapat membuat pengidapnya mengalami:

  • Lemas.

  • Nyeri sendi.

  • Sakit perut.

  • Gairah seks berkurang.

  • Bulu badan rontok.

  • Warna kulit keabuan.

  • Berat badan turun.

  • Linglung.

  • Jantung berdebar.

Jika mengalami berbagai gejala tersebut, segera download dan manfaatkan aplikasi Halodoc untuk diskusi dengan dokter, atau buat janji dengan dokter di rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut. Penting juga untuk diingat, jika kamu mengidap thalassemia atau penyakit tertentu yang membutuhkan transfusi darah dalam jangka panjang, konsultasikan dengan dokter tentang risiko terjadinya hemokromatosis dan efek samping lainnya.

Baca juga: 10 Makanan dengan Kandungan Zat Besi Tinggi untuk Orangtua

Pengobatan untuk Mengatasi Hemokromatosis

Untuk memastikan diagnosis hemokromatosis, dokter akan melakukan pengambilan sampel darah untuk mengetahui jumlah kadar zat besi di dalamnya. Jika ditemukan ketidaknormalan, dokter akan melakukan serangkaian tes lainnya.

Ketika diagnosis telah dipastikan, pengobatan untuk hemokromatosis dilakukan untuk untuk mengembalikan kadar zat besi dalam darah menjadi normal dan mencegah komplikasi akibat penumpukan zat besi. Beberapa metode pengobatan yang dapat dilakukan dokter untuk mengatasi hemokromatosis adalah:

  • Phlebotomy atau membuang darah. Dilakukan seperti donor darah, jumlah darah yang perlu dibuang dan frekuensi dilakukannya akan tergantung pada usia dan tingkat keparahan yang dialami pengidap. Untuk menunjang proses penyembuhan, pengidap hemokromatosis akan dilarang untuk mengonsumsi makanan atau minuman yang dapat meningkatkan zat besi, seperti vitamin C, minuman beralkohol, ikan mentah, dan kerang.

  • Pemberian obat-obatan. Dapat berbentuk pil atau suntik, pemberian obat-obatan untuk pengidap hemokromatosis bertujuan untuk mengikat dan membuang kelebihan zat besi dalam tubuh melalui urine atau feses. Namun, obat-obatan ini biasanya baru akan diberikan jika pengidap memiliki kondisi yang membuatnya tidak bisa menjalani prosedur pembuangan darah, seperti mengidap thalasemia atau penyakit jantung.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Diseases and Conditions. Hemochromatosis.
Healthline. Diakses pada 2019. Hemochromatosis.
WebMD. Diakses pada 2019. What is Hemochromatosis?