Sering Konsumsi Minuman Panas Sebabkan Kanker Tenggorokan, Benarkah?

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Sering Konsumsi Minuman Panas Sebabkan Kanker Tenggorokan, Benarkah?

Halodoc, Jakarta - Pagi hari, atau saat cuaca sedang dingin adalah momen terbaik untuk menikmati minuman hangat seperti teh, kopi, atau cokelat panas. Rasa hangatnya membuat tubuh terasa lebih nyaman dan membantu tubuh terasa lebih hangat. 

Namun, sebaiknya hal ini tidak baik untuk dijadikan kebiasaan. Pasalnya, beberapa penelitian membuktikan ada bahaya konsumsi minuman panas. Kondisi ini bisa memicu tumbuhnya kanker dalam tubuh, khususnya kanker tenggorokan. Untuk mengetahui kebenarannya, simak penjelasannya berikut ini!

Baca Juga: Minum Es Sebabkan Radang Tenggorokan, Benarkah?

Minum Minuman Panas dan Kaitannya dengan Kanker Tenggorokan

Anggapan bahwa kebiasaan minum minuman panas mendatangkan kanker tenggorokan diperkuat oleh pernyataan dari The International Agency for Research on Cancer (IARC). Mereka mengungkapkan bahwa konsumsi minuman yang terlalu panas menimbulkan zat karsinogen yang diduga mampu merusak jaringan tenggorokan.

Namun, sebenarnya tidak semua jenis minuman panas yang menyebabkan kerusakan jaringan. Menurut sebuah penelitian yang dilakukan di Iran yang melibatkan sebanyak 300, diperoleh fakta bahwa kelompok yang mengonsumsi minumannya dalam keadaan sangat panas (suhu lebih dari 65 derajat celcius) memiliki peluang 8 kali lebih tinggi untuk mengalami kanker tenggorokan.

Sementara mereka yang mengonsumsi minuman yang bersuhu antara 60 hingga 64 derajat celcius, berisiko mengalami kanker tenggorokan 2 kali lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok yang menunggu minumannya hingga dingin atau suhunya turun.

Hal ini bisa terjadi karena suhu yang sangat panas melukai tenggorokan dan membuatnya terbakar. Beberapa waktu setelah minuman panas tersebut kamu teguk, maka suhu di dalam tenggorokan meningkat sekitar 6 hingga 12 derajat celcius. Akibatnya, hal ini menyebabkan tenggorokan terbakar dan merusak jaringan tenggorokan, tepatnya sel skuamosa. Sel tersebut kemudian bermutasi dan menyebabkan terbentuknya jaringan tumor baru. 

Baca Juga: Bubble Tea Bisa Sebabkan Kematian, Begini Penjelasannya

Gejala yang Muncul Saat Mengidap Kanker Tenggorokan

Gejala kanker tenggorokan bisa beragam dan tidak sama pada tiap orang. Beberapa gejala yang bisa muncul akibat kanker tenggorokan, antara lain: 

  • Batuk kronis;

  • Sakit tenggorokan;

  • Gangguan makan seperti sulit menelan;

  • Perubahan suara, misalnya serak atau cara bicara yang tidak jelas;

  • Telinga yang sakit atau berdengung;

  • Benjolan yang tidak kunjung sembuh;

  • Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas;

  • Pembengkakan pada mata, rahang, tenggorokan, atau leher.

Gejala kanker tenggorokan bisa saja sulit terdeteksi. Jika salah satu gejala di atas terjadi, maka kamu wajib memeriksakannya ke dokter. Supaya lebih praktis, kamu bisa menghubungi dokter di Halodoc

Langkah Pencegahan Kanker Tenggorokan

Meski hingga kini masih dibutuhkan penelitian dan bukti ilmiah lebih lanjut, namun tidak ada salahnya untuk menghindari kebiasaan minum minuman panas. Biasakan untuk menunggunya hingga dingin agar lebih nyaman saat dikonsumsi. Lebih baik mengonsumsi minuman yang suhunya sudah turun hingga 60 derajat celcius atau bahkan kurang, untuk mengurangi risiko kanker tenggorokan dan sensasi tenggorokan terbakar.

Jika Sudah Terjadi, Bagaimana Cara Mengobatinya?

Jika masih dalam stadium yang ringan, kanker ini bisa diatasi dengan beberapa cara sehingga mampu memperpanjang usia harapan hidup penderitanya. Penanganan umumnya bisa dilakukan dengan cara operasi, radioterapi, kemoterapi, atau kombinasi ketiganya. 

  • Operasi. Jika tumor masih kecil, dokter akan mengangkatnya dengan operasi di bawah obat penenang.

  • Terapi Radiasi. Terapi ini memanfaatkan sinar berenergi tinggi untuk menghancurkan sel kanker yang ganas. Tujuan terapi ini adalah menghancurkan sel kanker yang tertinggal oleh tumor.

  • Kemoterapi. Langkah ini akan memperlambat dan mencegah pertumbuhan sel ganas. Apabila tumor sudah semakin besar dan telah menyebar ke kelenjar getah bening serta jaringan lain, dokter dapat menyarankan radiasi dan kemoterapi.

Baca Juga: Agar Sehat, Benarkah Orang Butuh Minum 8 Gelas Sehari?