18 January 2019

Mitos dan Fakta Kepribadian Ganda

Mitos dan Fakta Kepribadian Ganda

Halodoc, Jakarta - Gangguan kepribadian ganda nyatanya bukan hanya fantasi yang biasanya disaksikan dalam film-film saja. Kepribadian ganda benar-benar ada di dunia nyata dan merupakan penyakit yang tidak bisa diobati. Gangguan psikologis ini dalam istilah medis disebut sebagai dissociative identity disorder (DID). Mereka yang mengalami kondisi ini tidak hanya mengalami kepribadian yang berubah-ubah, tetapi juga ingatan, kelakuan, kebiasaan, dan umur identitas yang sangat mungkin berubah.

Kepribadian utama dalam diri pasien DID dikenal dengan The Core, sementara pribadi lainnya yang kerap muncul disebut Alter. Mereka yang mengidap kelainan kejiwaan ini bahkan bisa memiliki tiga atau lebih kepribadian.

Satu identitas bisa memiliki nama, aksen bicara, etnis dan kebudayaan, ingatan, usia, sampai jenis kelamin dan orientasi seksual berbeda dengan identitas yang lainnya, juga dengan individu inangnya. Setiap karakter dapat menampilan cara berpakaian yang berbeda antara satu sama lain. Kondisi ini termasuk gangguan mental kronis dan berlangsung seumur hidup. Simak fakta yang perlu kamu ketahui tentang kepribadian ganda.

Baca Juga: 5 Tanda Gangguan Kepribadian, Hati-Hati Terkena Salah Satunya

Fakta: Tidak Ada Obatnya

Kondisi kepribadian ganda umumnya tidak bisa disembuhkan. Namun, pengidap kepribadian ganda dapat melakukan beberapa terapi demi mengatasi gejala yang muncul. Terapi ini dapat diandalkan untuk mengatasi depresi, kecemasan dan rasa khawatir yang berlebihan. Beberapa jenis pengobatan hanya bisa mengobati gejala yang muncul suatu waktu dan tidak bisa menghilangkan gangguan mental ini sepenuhnya dari pengidap atau pasien berkepribadian ganda .

Fakta: Akibat Trauma Masa Kecil

Tidak sedikit pengidap kepribadian ganda mengalami kondisi ini akibat kekerasan, trauma atau rasa sakit akibat pelecehan fisik atau verbal yang ia terima saat masih kecil. Remy Aquarone, seorang psikoterapi analitis dan mantan direktur International Society for the Study of Trauma and Dissociation menyebutkan kebanyakan kasus melibatkan sejarah pelecehan masa kecil, dan biasanya dimulai sebelum umur 5 tahun.

Baca Juga: Semakin Cerdas, Seseorang Rentan Kena Gangguan Mental?

Sebagai usaha untuk menghadapi pengalaman traumatis, teori menyebutkan saat mengalami peristiwa traumatis, anak akan mendisosiasikan dirinya dengan cara membelah kepribadiannya menjadi beberapa bagian. Satu bagian menyimpan pengalaman pelecehan dan dampak emosional dan fisik buruk yang terjadi karenanya sementara bagian lainnya menjalani kehidupan setelah mengalami pelecehan.

Ada juga kasus ketika satu bagian menyimpan pengalaman pelecehan, bagian lain aktif sebelum tidur, dan bagian lainnya lagi aktif di pagi hari. Apabila pelecehan berlangsung bertahun-tahun, dan ada skenario atau pelaku khusus terlibat, maka bisa semakin banyak cabang dari identitas yang akan didisosiasikan oleh anak.

Mitos: Kerap Melakukan Hal Jahat

Dalam masyarakat, telah terbentuk stigma atau pandangan yang buruk terhadap mereka yang memiliki kepribadian ganda akibat tayangan film. Mereka kerap dicurigai sering melakukan tindakan kriminal dan merasa tidak bersalah dengan hal tersebut. Hal ini belum tentu benar.

Seseorang dengan kepribadian ganda tidak berarti ia adalah seorang kriminal. Kenyataannya mereka lebih cenderung  menyakiti dirinya ketimbang menyakiti orang lain. Jika kamu menemukan seseorang dengan kepribadian ganda, maka kamu wajib memperlakukannya dengan baik agar dirinya tidak merasa emosional.

Baca Juga: Waspada Potensi Psikopat Jika Pasangan Lakukan 5 Hal Ini

Jika kamu ingin mengetahui lebih banyak mengenai fakta dan mitos tentang kepribadian ganda serta informasi lainnya mengenai persoalan psikologi, kini kamu bisa tanyakan langsung ke Halodoc. Dokter-dokter yang ahli di bidangnya akan memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Hubungi Dokter, pasangan bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.