Orang yang Mengidap OCD Berisiko Jadi Korban Bully, Benarkah?

Orang yang Mengidap OCD Berisiko Jadi Korban Bully, Benarkah?

Halodoc, Jakarta – Obsessive compulsive disorder (OCD) ditandai dengan berulangnya pikiran yang tidak diinginkan dan mengganggu, impuls dan gambar (obsesi), serta ritual perilaku dan mental berulang (kompulsi).

Mungkin sulit, menuntut, dan melelahkan untuk hidup dengan orang yang mengidap OCD. Anggota keluarga dan teman-teman dapat menjadi sangat terlibat dalam ritual orang tersebut dan mungkin harus memikul tanggung jawab dan peduli untuk banyak kegiatan sehari-hari yang tidak dapat dilakukan oleh orang dengan OCD. Ini dapat menyebabkan kesusahan dan gangguan bagi semua anggota keluarga.

Orang dengan OCD biasanya menyadari bahwa obsesi dan kompulsi mereka tidak rasional dan berlebihan, namun merasa tidak mampu mengendalikan atau melawannya. OCD dapat memakan waktu berjam-jam dalam sehari seseorang dan dapat sangat memengaruhi pekerjaan, belajar, dan hubungan keluarga dan sosial.

Baca juga: Kenali 4 Gejala yang Dialami Pengidap OCD

Apakah orang yang menjadi korban bully bisa berisiko mengidap OCD? Sejatinya, fobia sosial dan gangguan obsesif-kompulsif (OCD) memiliki beberapa kesamaan di mana keduanya dikategorikan sebagai gangguan kecemasan, gangguan kepribadian penghindaran, dan depresi adalah umum pada keduanya.

Korban Bully dan OCD

Menurut penelitian yang dilakukan oleh University of Florida, anak-anak dengan gangguan obsesif-kompulsif tiga kali lebih mungkin menjadi korban intimidasi daripada anak-anak lain. Ini dikarenakan OCD yang dialaminya memberikan gangguan sosial dan pertemanan pada teman-teman sebaya.

Hampir semua anak dengan OCD diintimidasi setidaknya satu kali dalam hidup mereka. Mulai dari intimidasi kronis sampai dengan menendang atau memukul hingga memanggil nama, termasuk mengucilkan anak-anak dari kegiatan di sekolah.

Sekitar satu dari 100 anak berjuang melawan OCD, gangguan kecemasan yang membuat orang melakukan ritual, seperti mencuci tangan untuk mengusir pikiran obsesif tentang kuman atau kekhawatiran lain. Ritual sering menjadi sangat terlibat, sehingga mereka mengganggu kemampuan seseorang secara sosial.

Baca juga: Penanganan yang Dilakukan pada Pengidap OCD

Pengulangan yang dilakukan membuat anak-anak dengan OCD terisolasi, dikucilkan karena perilakunya dianggap tidak normal. Pada akhirnya dari bully, anak mengalami gangguan lain, yaitu kesepian dan depresi. Anak-anak juga cenderung menginternalisasi komentar negatif pelaku intimidasi dengan mengatakan pada diri sendiri, "Tidak ada yang akan mencintaiku", serta kalimat-kalimat negatif lainnya.

Mengobati OCD baik dengan obat-obatan yang disetujui atau teknik modifikasi perilaku akan membantu pengidapnya  mengendalikan obsesi dan dorongan pengulangan tersebut. Sangat penting buat orangtua untuk membantu anak-anak belajar cara menangani teman sebaya yang agresif, baik di rumah ataupun dengan mencari penasihat yang dapat membantu mereka mengembangkan keterampilan sosial.

Orangtua juga harus membawa keprihatinan mereka ke sekolah anak mereka jika guru atau administrator tidak menghentikan intimidasi sebelum menjadi masalah. Sejatinya, bully adalah salah satu tantangan terbesar yang dihadapi anak-anak dengan OCD dan pada umumnya karena sangat bisa membuat anak mengalami gangguan-gangguan lainnya.

Baca juga: Benarkah Trikotilomania Berkaitan dengan OCD?

Orang dengan OCD sering merasa frustasi dan tertekan tentang kebutuhan mereka untuk bertindak secara kompulsif. Ketika anggota keluarga dan teman-teman lebih mengetahui tentang OCD, lebih mudah untuk bersikap suportif, dan pengertian.

Banyak orang dengan OCD mengalami ketakutan yang intens akan sesuatu yang buruk terjadi pada diri mereka sendiri atau orang lain, memiliki keraguan terus-menerus tentang perilaku mereka, dan sering mencari kepastian dari orang lain.

Kalau ingin mengetahui lebih banyak mengenai OCD dan bully, bisa tanyakan langsung ke Halodoc. Dokter-dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor, kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.