14 January 2019

Anak Gagap Jadi Korban Bully, Ini yang Harus Dilakukan

Anak Gagap Jadi Korban Bully, Ini yang Harus Dilakukan

Halodoc, Jakarta - Semua orangtua pasti menginginkan anaknya dapat berbicara lancar. Namun, tidak semua anak dapat berbicara dengan lancar. Salah satu faktor anak mengalami kesulitan berbicara adalah ketika anak tersebut mengidap gagap.

Gagap pada anak adalah sebuah gangguan yang menyebabkan anak sulit untuk berbicara dengan lancar. Dalam istilah kedokteran kondisi ini disebut dengan disfluensi berbahasa. Seorang anak yang mengidap gagap umumnya akan mengulang awalan kata yang akan diungkapkan. Gagap juga dapat terjadi ketika seorang anak menggerakkan mulutnya, tetapi suara tidak keluar dari mulutnya.

Baca juga: Anak Gagap, Butuhkah Bantuan Psikolog?

Selain itu, gagap juga dapat terjadi pada seorang anak yang kerap mengeluarkan suara-suara pendek ketika berpikir. Pun, anak yang mengidap gagap juga melakukan hal-hal lain ketika gagapnya terjadi, seperti mengedipkan mata, mengepalkan tangan, dan meringis.

Gagap terjadi pada seorang anak bisa tanpa alasan yang pasti, tetapi umumnya terjadi ketika anak merasa kaget atau terlalu gembira. Pada anak pengidap gagap, proses bahasa di otaknya mengalami keterlambatan pengiriman saat ke otot, sehingga menyebabkan terhambatnya bicara.

Baca juga: Inilah 5 Penyebab Gagap

Seorang anak yang mengidap gagap umumnya menjadi sasaran perundungan atau bullying. Hal tersebut karena orang sekitar menganggap bahwa ia tidak sama dengan anak normal lainnya, sehingga dianggap "berbeda".

Ciri-ciri anak yang terkena bullying di sekolahnya, yaitu:

  • Enggan masuk sekolah.

  • Nafsu makan yang mengalami penurunan.

  • Anak lebih takut ketika bertemu orang asing dibandingkan sebelumnya.

  • Kesulitan tidur saat malam hari.

  • Terdapat luka di badan anak.

Baca juga:  Penyebab Gagap pada Usia Anak Sekolah

Hal yang Harus Dilakukan Orangtua Terhadap Anak yang Mengalami Bullying

Pada anak yang mengalami bullying karena gagap, peran orangtua sangatlah penting. Orangtua harus melihat gejala-gejala apakah anak ibu mengalami bullying di sekolah atau tidak. Orangtua harus selalu mendampingi anak dan harus selalu berada di sampingnya, karena ia butuh seseorang untuk menguatkan dirinya.

Beberapa cara yang dapat ibu lakukan untuk meminimalisir dampak bullying pada anak, yaitu:

  1. Bicara dari Hati ke Hati dengan Anak

Hal yang dapat ibu lakukan ketika anak ibu sedih akibat bullying adalah berbicara berdua dari hati ke hati. Buatlah suasana hati anak kembali bahagia dan nyaman terlebih dahulu. Setelah itu, coba gali secara perlahan apakah ia mengalami bullying di sekolah. Ibu dan ayah harus sabar, karena biasanya anak tidak langsung berkata jujur tentang apa yang terjadi dan dirasakannya.

  1. Bicara dengan Guru atau Pihak Berwenang di Sekolah

Hal lainnya yang dapat ibu dan ayah lakukan apabila Si Kecil tidak ingin ke sekolah akibat bullying adalah mencoba berbicara dengan guru atau seseorang yang dapat menyelesaikan masalah tersebut di sekolah. Walau begitu, ibu dan ayah harus tetap tenang ketika berbicara dengan guru di sekolah dan mencari jalan keluar terbaik. Karena, jika semua didiskusikan dengan baik, akan berdampak baik juga pada Si Kecil.

  1. Ajak Anak Bergaul dengan Teman Sebayanya

Ibu dan ayah juga dapat mengajak anak untuk bergaul dengan teman sebayanya, mungkin dengan anak tetangga sekaligus silaturahmi dengan orangtuanya. Anak mungkin saja mengalami bullying dikarenakan sulit untuk bergaul dengan teman-temannya. Hal tersebut dapat menyebabkan anak menjadi seseorang yang tertutup dan menghindari keramaian. Maka dari itu, cobalah carikan teman untuknya dan dampingi dia, agar ibu dan ayah tahu bagaimana cara ia berkomunikasi dengan teman-temannya dan mengajarkannya.

Itulah beberapa cara yang dapat ibu dan ayah lakukan jika anak ibu mengalami bullying karena gagap yang dialaminya. Jika ibu dan ayah mempunyai pertanyaan perihal perkembangan anak, dokter dari Halodoc siap membantu. Caranya yaitu dengan download aplikasi Halodoc di App Store atau Google Play sekarang juga!