• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Pemeriksaan untuk Mendeteksi Munculnya Kista Epididimis

Pemeriksaan untuk Mendeteksi Munculnya Kista Epididimis

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani

Halodoc, Jakarta - Pernahkah kamu memegang beberapa bagian tubuh dan secara tidak sengaja menemukan adanya benjolan? Kamu harus berhati-hati karena benjolan tersebut bisa saja terjadi karena kista. Gangguan tersebut dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti radang dan infeksi. Namun, bagaimana jika kista tersebut ditemukan pada area reproduksi pria?

Seseorang yang mengalami pertumbuhan kista pada saluran alat reproduksinya disebut juga dengan kista epididimis. Meski begitu, kista ini bersifat jinak dan tidak menimbulkan bahaya apa pun. Pemeriksaan apa saja yang dapat dilakukan untuk mendeteksi jika seseorang mengidap kista epididimis?

Baca juga: Apakah Kista Epididimis Bisa Sebabkan Komplikasi?

Pemeriksaan Terhadap Kista Epididimis

Kista epididimis adalah sebuah benjolan yang berisi cairan dan ditemukan pada epididimis, yaitu tabung melingkar di bagian belakang testis yang berguna untuk menyimpan dan mengangkut sperma. Gangguan ini membuat benjolan yang jinak pada testis dan bisa sangat umum seiring dengan bertambahnya usia pria. Seorang pria memiliki risiko yang lebih tinggi saat usianya mencapai lebih dari 40 tahun.

Spermatokel termasuk salah satu gangguan yang mirip dengan kista epididimis. Satu-satunya yang membedakan dari kedua gangguan tersebut adalah pada spermatokel, kista yang tumbuh tidak hanya mengandung cairan tetapi juga sel sperma. Umumnya, seseorang dan bahkan ahli medis sulit membedakan kedua gangguan ini dengan pemeriksaan fisik dan USG. Keduanya disebabkan kista yang jinak serta tidak mengganggu reproduksi.

Lalu, pemeriksaan apa saja yang dapat dilakukan untuk mendeteksi kista epididimis? Kista epididimis umumnya ditemukan selama pemeriksaan fisik oleh diri sendiri atau dengan dokter. Selain cara tersebut, untuk mendiagnosis gangguan tersebut dokter akan menyinari di belakang setiap testis untuk menguji transparansi dari masing-masing bagian. Kemudian, dokter akan menentukan jika terdapat benjolan yang menghalangi cahaya untuk lewat. Hal tersebut untuk mengonfirmasi benjolan tersebut adalah kista, karena massa yang padat seperti itu dapat menghalangi cahaya agar tidak masuk.

Dokter juga mungkin akan memilih pemeriksaan dengan USG, yang merupakan cara lebih cepat dan akurat untuk menyimpulkan jika massa yang terbentuk adalah kista atau hal yang lebih serius. Setelah menentukan benjolan tersebut, dokter umum mungkin akan merujuk kamu ke ahli urologi untuk memantau pertumbuhan dari kista tersebut dan gejala yang timbul yang terkait. Belum ada cara untuk mengetahui gangguan tersebut disebabkan kista epididimis atau spermatokel.

Jika kamu mempunyai pertanyaan terkait kista epididimis, dokter dari Halodoc siap menjawab semua pertanyaan yang ada. Caranya mudah sekali, kamu hanya perlu download aplikasi Halodoc di smartphone yang digunakan!

Baca juga: Ini 8 Jenis Kista yang Perlu Diketahui

Pengobatan dari Kista Epididimis

Umumnya, kista epididimis hanya dapat diobati jika seseorang mengalami rasa sakit atau tidak nyaman. Jika hal tersebut tidak terjadi setelah diagnosis, tetap penting untuk melakukan pemantauan secara mandiri dan dokter secara teratur. Selain itu, gangguan tersebut dapat menjadi lebih kecil ukurannya saat tubuh menyerap kembali cairan tersebut. Jika kista tersebut terus membesar dan menimbulkan rasa sakit, berikut beberapa cara pengobatannya:

  1. Operasi

Cara yang paling umum untuk mengatasi kista epididimis adalah dengan operasi atau pembedahan. Kamu akan mendapatkan anestesi agar tidak merasakan sakit, lalu ahli bedah akan membuat sayatan di skrotum untuk mengangkat kista. Skrotum kemudian akan ditutup dengan jahitan agar dapat larut. Pembengkakan dan memar mungkin terjadi beberapa hari setelahnya. Kista tersebut dapat tumbuh kembali tetapi kemungkinannya kecil.

  1. Aspirasi

Metode ini dilakukan dengan cara mengeringkan kista epididimis tersebut dengan memasukkan jarum ke testis, langsung ke arah kista. Hal tersebut untuk menghilangkan penumpukan cairan. Meski begitu, hal ini tidak direkomendasikan karena kemungkinan cairan kembali menumpuk dengan cepat terbilang tinggi.

Baca juga: Jangan Sepelekan 7 Gejala Kista Ini

Itulah beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk mendeteksi kista epididimis. Memang gangguan tersebut tidak menimbulkan bahaya, tetapi jika telah timbul rasa sakit, ada baiknya untuk langsung memeriksakannya ke dokter. Dengan begitu, aktivitas sehari-hari kamu tidak terganggu.

Referensi:
Very Well Health. Diakses pada 2020. An Overview of an Epididymal Cyst.
Children’s Hospital of Philadelphia. Diakses pada 2020. Epididymal Cyst and Spermatocele.