Pemeriksaan untuk Mendiagnosis Hepatitis B

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
 Hepatitis B, pengidap hepatitis B

Halodoc, Jakarta - Siapa yang tidak mengenal penyakit hepatitis B? Penyakit berbahaya yang satu ini disebabkan oleh virus hepatitis B (HBV) yang dapat menular karena adanya kontak dengan darah atau cairan tubuh seseorang yang terinfeksi. Hepatitis B sendiri terbagi menjadi dua jenis, yaitu:

  1. Hepatitis B akut, yaitu infeksi baru yang gejalanya baru akan muncul setelah 1–4 bulan pengidap terpapar virus. Pada sebagian pengidap, gejala dapat mereda dalam beberapa minggu. Namun, pada kasus yang parah, hepatitis B akut akan membahayakan nyawa pengidapnya.

  2. Hepatitis B kronis, yaitu infeksi hepatitis B yang berlangsung selama lebih dari enam bulan. Ketika infeksi telah berubah menjadi kronis, pengidap tidak akan pernah sembuh total.

Baca juga: Inilah yang Dimaksud dengan Hepatitis B

Pada kebanyakan kasus, hepatitis B yang dialami oleh orang dewasa, penyakit ini dapat sembuh karena sistem imunitas yang kuat dapat melawan virus. Hal tersebut dapat terjadi karena kebutuhan gizi harian yang terpenuhi, sehingga sistem imunitas tubuh semakin membaik setiap harinya.

Pemeriksaan untuk Mendiagnosis Hepatitis B

Biasanya, dokter akan menyarankan pengidap hepatitis B untuk melakukan tes darah guna mendeteksi adanya virus dalam tubuh. Selain itu, tes darah juga dilakukan untuk mendeteksi jenis hepatitis B yang dialami. Kemudian, dokter akan melakukan biopsi pada jaringan hati untuk melihat apakah pengidap mengidap kerusakan hati.

Bahayanya, virus hepatitis B bisa saja merusak organ hati tanpa menimbulkan gejala pada pengidapnya. Berikut ini kelompok orang yang berisiko tinggi mengidap hepatitis B:

  • Mengidap HIV atau hepatitis C.

  • Tinggal satu atap dengan orang yang terinfeksi hepatitis B.

  • Bekerja sebagai anggota medis di rumah sakit.

  • Tes fungsi hati menunjukkan kelainan yang tidak jelas.

  • Melakukan kunjungan ke negara-negara yang mewabah virus hepatitis B.

  • Menggunakan jarum suntik secara bergantian.

  • Melakukan hubungan seks oral.

  • Rutin menjalani cuci darah.

  • Wanita yang sedang hamil.

Baca juga: Risiko yang Bisa Ditimbulkan oleh Hepatitis B

Jika kamu merupakan kelompok orang yang berisiko tinggi mengidap hepatitis B, kamu dapat langsung membuat janji dengan dokter di rumah sakit pilihan melalui aplikasi Halodoc. Dengan penanganan yang tepat, kamu yang berisiko tinggi mengidap hepatitis B akan terhindar dari penyakit berbahaya yang satu ini.

Langkah Efektif Guna Mencegah Hepatitis B

Melakukan vaksin merupakan langkah efektif dalam mencegah hepatitis B. Vaksin ini merupakan vaksin wajib yang biasanya dilakukan saat imunisasi. Vaksin hepatitis B akan dilakukan sebanyak tiga kali, yaitu saat bayi lahir, saat berusia satu bulan, dan saat berusia 3–6 bulan. Sekelompok orang yang berisiko tinggi mengidap penyakit ini juga disarankan untuk menerima vaksin hepatitis B.

Ketika wanita hamil divonis mengidap hepatitis B, 12 jam setelah bayi lahir wajib menerima vaksin hepatitis B untuk mencegah penularan penyakit dari ibu pada bayi. Selain itu, langkah-langkah yang dapat dilakukan guna mengurangi risiko mengidap hepatitis B, antara lain:

  • Hindari narkotika.

  • Waspada dengan jarum, seperti ketika menindik atau tato.

  • Gunakan kondom saat berhubungan seksual.

  • Jangan menggunakan barang pribadi secara bersamaan, seperti sikat gigi atau alat cukur.

Baca juga: 5 Fakta Penting tentang Hepatitis B

Segera periksakan diri ke dokter dalam rentan waktu 24 jam setelah kamu melakukan kontak dengan pengidap hepatitis B. Risiko penularan hepatitis B dapat dicegah dengan pemberian suntikan imunoglobulin hepatitis B, yaitu larutan obat yang berisi antibodi guna melawan virus hepatitis B.

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2019. Hepatitis B.
NHS. Diakses pada 2019. Hepatitis B.