21 September 2018

Inilah yang Dimaksud dengan Hepatitis B

hepatitis B

Halodoc, Jakarta – Ancaman hepatitis B memang tidak bisa disepelekan. Di Indonesia sendiri, jumlah pengidap hepatitis B selalu mengalami peningkatan setiap tahunnya. Bahkan berdasarkan data dari Riskesda 2017, ada sebanyak 7,1 persen penduduk Indonesia yang mengidap penyakit hati ini. Itulah mengapa kamu diharapkan untuk selalu waspada terhadap hepatitis B. Pasalnya, penyakit yang disebabkan oleh virus hepatitis B (HBV) ini bisa berkembang menjadi kondisi akut dan membahayakan nyawa pengidapnya. Jadi, yuk kenali hepatitis B lebih lanjut agar kamu bisa mengetahui langkah-langkah pencegahannya.

Apa itu Hepatitis B?

Hepatitis B adalah infeksi hati yang cukup serius yang disebabkan oleh virus hepatitis B (HBV). Selain mudah menular, infeksi hati ini juga berbahaya karena bisa membuat pengidapnya mengalami kondisi akut atau kronis. Bila tidak segera ditangani, hepatitis B yang sudah mencapai level kronis bisa berujung pada kondisi serius, seperti sirosis, kanker hati, atau gagal hati yang bisa membahayakan nyawa pengidapnya.  

Hepatitis B Akut dan Kronis

Infeksi hepatitis B dibagi menjadi dua jenis, yaitu akut dan kronis. Infeksi akut biasanya terjadi dalam waktu yang singkat dan lebih sering dialami oleh orang dewasa. Hepatitis B akut dapat sembuh dalam beberapa bulan karena sistem kekebalan tubuh yang dimiliki pengidap mampu melawan dan melenyapkan virus dari tubuh.

Sedangkan hepatitis B kronis, bisa berlangsung selama lebih dari enam bulan dan biasanya lebih sering dialami oleh bayi dan anak-anak. Terutama pada anak-anak yang pernah terinfeksi virus HBV pada saat lahir. Mereka berisiko 4–5 kali lebih besar terkena hepatitis B dibanding anak-anak yang baru terinfeksi pada masa balita.

Cara Penularan Hepatitis B

Cara penyebaran hepatitis B yang paling utama adalah melalui darah dan cairan tubuh, misalnya melalui sperma dan cairan Miss V. Selain itu, berikut beberapa cara penularan hepatitis B lainnya:

  • Hubungan Intim. Bergonta-ganti pasangan dan melakukan hubungan intim tanpa alat pengaman bisa meningkatkan risiko penularan virus hepatitis B.
  • Suka Berbagi Jarum Suntik. Pasalnya, orang yang sering berbagi jarum suntik bisa saja menggunakan alat suntik yang sudah terkontaminasi dengan darah pengidap hepatitis B.
  • Tidak Sengaja Terkena Jarum Suntik. Cara penularan yang satu ini biasanya sering terjadi pada petugas kesehatan atau paramedis yang sering berurusan dengan darah manusia.
  • Ibu dan Janin. Ibu hamil yang mengidap hepatitis B berpotensi menularkan penyakit ini pada bayinya saat persalinan.

Gejala Hepatitis B

Banyak orang yang tidak menyadari bahwa dirinya mengidap hepatitis B lantaran gejalanya yang tidak terlalu terasa. Memang butuh waktu sekitar 1–5 bulan bagi virus hepatitis B untuk berkembang sejak terpapar virus sampai menimbulkan gejala pertamanya. Secara umum, berikut beberapa gejala hepatitis B:

  • Nafsu makan menurun.
  • Mual dan muntah.
  • Perut bagian bawah terasa nyeri.
  • Sakit kuning (bisa dilihat dari kulit dan bagian putih mata yang menguning).
  • Gejala menyerupai flu, seperti lelah, badan terasa nyeri, dan sakit kepala.

Cara Mencegah Hepatitis B

Tindakan pencegahan paling efektif terhadap hepatitis B tentu saja adalah dengan melakukan vaksinasi. Di Indonesia, vaksin hepatitis B menjadi vaksin yang wajib dilakukan saat imunisasi. Biasanya vaksinasi dilakukan sebanyak tiga kali, yaitu saat anak lahir, saat anak berusia 1 bulan, dan saat anak berusia 3–6 bulan. Tidak hanya pada anak-anak, orang dewasa dari segala usia pun juga perlu melakukan vaksin hepatitis B, terutama bagi mereka yang berisiko tinggi tertular infeksi hati ini.

Bagi ibu hamil, melakukan pemeriksaan hepatitis B sangat penting. Pasalnya, bila ibu hamil ternyata mengidap infeksi hati ini, maka bayinya harus segera menerima vaksin 12 jam setelah lahir untuk mencegah penularan virus dari ibu ke bayi.

Berikut langkah-langkah pencegahan hepatitis B lainnya yang bisa kamu lakukan:

  • Hindari berhubungan intim tanpa alat pengaman, kecuali bila kamu yakin pasanganmu tidak mengidap hepatitis B.
  • Berhenti menggunakan obat-obatan terlarang.
  • Selalu hati-hati saat ingin menindik atau menato tubuh.
  • Hindari pinjam-meminjam barang-barang, seperti sikat gigi, alat cukur, atau anting-anting.

Bila kamu mengalami gejala-gejala hepatitis B atau tidak sengaja bersentuhan dengan pengidap hepatitis B, segera periksakan diri ke dokter. Kamu juga bisa membicarakan gejala yang kamu alami dengan dokter lewat aplikasi Halodoc. Para dokter yang ahli siap memberikan saran kesehatan melalui Video/Voice Call dan Chat kapan saja dan di mana saja. Yuk, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play.

Baca juga: