• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Penyakit Kuning pada Bayi Baru Lahir, Ini Penyebabnya

Penyakit Kuning pada Bayi Baru Lahir, Ini Penyebabnya

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani

Halodoc, Jakarta - Penyakit kuning pada bayi baru lahir bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Penyakit yang satu ini umum terjadi pada bayi yang berusia 2-4 hari, dan akan menghilang dengan sendirinya setelah 1-2 minggu. Namun, bila penyakit ini terjadi dalam kurun waktu 24 jam setelah bayi dilahirkan, atau tidak menghilang dengan sendirinya setelah 14 hari bayi dilahirkan, hal ini bisa jadi pertanda adanya penyakit pada bayi.

Baca juga: Ibu Perlu Tahu, Penanganan Tepat Penyakit Kuning pada Bayi

Penyakit Kuning pada Bayi Baru Lahir, Ini Penyebabnya

Penyakit yang menyerang bayi baru lahir disebabkan oleh adanya gangguan pada proses pembentukan dan pembuangan zat bilirubin pada tubuh. Bilirubin sendiri merupakan zat yang terbentuk dari proses penghancuran sel darah merah. Zat ini kemudian akan mengalir di dalam darah dan dibawa menuju organ hati untuk diolah, kemudian dibuang bersama urine dan tinja.

Baca juga: Mengenal Penyakit Kuning pada Bayi, Berbahaya atau Normal?

Pada bayi pengidap penyakit kuning, proses tersebut tidak berjalan dengan normal, sehingga zat bilirubin menumpuk di dalam darah dan jaringan tubuh lain. Akibatnya, kulit bayi tampak menguning. Tidak berjalannya proses pembuangan bilirubin dapat terjadi karena sejumlah faktor pemicu yang mendasarinya, beberapa di antaranya: 

  1. Bayi dengan kelahiran prematur, sehingga mereka akan memiliki fungsi hati yang belum sepenuhnya sempurna. Dalam hal ini, penyakit kuning dapat bertahan dalam tubuh bayi selama lebih dari dua minggu.

  2. Bayi yang mengalami penurunan berat badan secara drastis. Kondisi ini dapat terjadi karena kurangnya asupan ASI pada bayi.

  3. Bayi yang lahir dengan metode induksi. Kondisi ini akan membuat bertambahnya oksitosin dalam tubuh bayi yang berakibat munculnya gejala penyakit kuning saat mereka lahir.

  4. Ibu hamil yang mengidap penyakit diabetes.

  5. Bayi mengalami pendarahan internal, sehingga mereka lahir dengan memar pada tubuh.

  6. Bayi mengalami masalah pada hari.

  7. Bayi mengalami infeksi selama masa kehamilan.

  8. Bayi mengalami kelainan sel darah merah.

Kadar bilirubin sebaiknya dijaga dalam batas normal. Pasalnya, kadar bilirubin yang terlalu tinggi dapat menjadi pemicu kerusakan otak di kemudian hari. Kondisi ini dikenal dengan kernikterus. Ketika terjadi sejumlah faktor risiko tersebut, segera temui dokter di rumah sakit terdekat dengan terlebih dulu membuat janji melalui aplikasi Halodoc guna memastikan Si Kecil dalam keadaan yang baik-baik saja selama dalam kandungan.

Pengobatan yang Dapat Dilakukan

Umumnya penyakit kuning pada bayi baru lahir dapat sembuh dengan sendirinya, sehingga pengobatan khusus tidak perlu dilakukan. Ibu juga dapat membantu menurunkan risiko terjadinya penyakit kuning pada bayi baru lahir dengan memastikan kebutuhan nutrisi bayi terpenuhi. Memenuhi asupan nutrisi bayi baru lahir sangat penting dilakukan guna membantu kerja tubuh bayi dalam menghilangkan kelebihan bilirubin. Dalam hal ini, ibu dapat menyusui bayi sebanyak 8-12 kali dalam sehari.

Baca juga: Ini yang Perlu Diketahui tentang Sakit Kuning

Namun, ketika penyakit kuning tak kunjung membaik dalam waktu lebih dari 2 minggu, metode fototerapi diperlukan. Dalam hal ini, dokter akan menempatkan bayi pada kotak yang dilengkapi dengan sinar ultraviolet. Sinar ini akan diserap oleh kulit yang membantu mengubah bilirubin ke dalam bentuk yang lebih mudah untuk dibuang. Saat proses ini dilakukan, bayi harus dalam keadaan telanjang dengan mata yang ditutupi dengan penutup mata.

Jika prosedur fototerapi dilakukan tak membuahkan hasil, bayi memerlukan perawatan intensif. Perawatan yang dimaksud adalah melakukan transfusi darah, sehingga darah bayi yang mengandung kadar bilirubin tinggi dapat digantikan dengan darah yang mengandung kadar bilirubin normal.

Referensi:
Healthline Parenthood. Diakses pada 2019. Understanding Newborn Jaundice.
WebMD. Diakses pada 2019. Understanding Newborn Jaundice.