Penyebab Utama Terjadinya Kejang pada Ibu Hamil

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Penyebab Utama Terjadinya Kejang pada Ibu Hamil

Halodoc, Jakarta – Kejang bisa berbahaya selama kehamilan. Namun, banyak ibu yang mengalami kejang selama kehamilan melahirkan bayi yang sehat. Jika ibu sering mengalami kejang selama trimester ketiga, ada kecenderungan akan mengalami kejang saat melahirkan. 

Kenapa ibu hamil bisa mengalami kejang? Salah satu penyebab utamanya adalah eklampsia. Eklampsia adalah komplikasi parah dari preeklampsia. Ini adalah kondisi yang jarang, tetapi berdampak serius di mana tekanan darah tinggi menyebabkan kejang selama kehamilan. Ingin tahu lebih lanjut mengenai ini? Baca uraiannya di sini.

Eklampsia sebagai Penyebab Kejang pada Ibu Hamil

Kejang adalah periode aktivitas otak yang terganggu dan dapat menyebabkan episode penurunan kewaspadaan dan kejang-kejang (guncangan hebat). Eklampsia menyerang sekitar 1 dari setiap 200 wanita dengan preeklampsia. Ibu hamil dapat mengembangkan eklampsia bahkan jika tidak memiliki riwayat kejang.

Eklampsia seringnya terjadi setelah mengikuti preeklampsia yang ditandai oleh tekanan darah tinggi yang terjadi pada kehamilan. Jika preeklampsia memburuk akan mempengaruhi otak, sehingga menyebabkan kejang

Baca juga: Ibu Hamil Alami Kejang Apa Sebabnya?

Dokter tidak tahu pasti apa yang menyebabkan preeklampsia, tetapi diperkirakan merupakan hasil dari pembentukan dan fungsi plasenta yang abnormal. Preeklampsia terjadi ketika tekanan darah atau kekuatan darah terhadap dinding arteri meningkat, sehingga bisa merusak arteri dan pembuluh darah lainnya. 

Kerusakan pada arteri dapat membatasi aliran darah. Ini dapat menghasilkan pembengkakan di pembuluh darah di otak dan bayi yang sedang tumbuh. Jika aliran darah abnormal melalui pembuluh ini mengganggu kemampuan otak untuk berfungsi, maka kejang dapat terjadi.

Jika ibu pernah mengalami preeklampsia, akan besar kemungkinan mengalami eklampsia. Faktor risiko lain untuk mengembangkan eklampsia selama kehamilan meliputi:

  1. Hipertensi gestasional atau kronis (tekanan darah tinggi).

  2. Lebih tua dari 35 tahun atau lebih muda dari 20 tahun.

  3. Kehamilan dengan kembar atau kembar tiga.

  4. Kehamilan pertama kali.

  5. Diabetes atau kondisi lain yang memengaruhi pembuluh darah.

  6. Mengidap penyakit ginjal.

Preeklampsia dan eklampsia menjadi isu yang sangat penting karena dapat memengaruhi plasenta, yaitu organ yang mengirimkan oksigen dan nutrisi dari darah ibu ke janin. Ketika tekanan darah tinggi mengurangi aliran darah melalui pembuluh, plasenta mungkin tidak dapat berfungsi dengan baik. Ini dapat menyebabkan bayi lahir dengan berat badan rendah serta masalah kesehatan lainnya.

Baca juga: Ibu dengan Epilepsi Bisa Ganggu Kehamilan

Jika ibu sudah memiliki diagnosis preeklampsia atau memiliki riwayatnya, dokter akan meminta untuk melakukan beberapa tes tambahan untuk menentukan mengapa ibu mengalami kejang. Tes-tes tersebut adalah:

  • Tes darah

Dokter dapat melakukan memesan beberapa jenis tes darah untuk menilai kondisi kesehatan ibu. Tes-tes ini termasuk jumlah darah lengkap, yang mengukur berapa banyak sel darah merah yang dimiliki dalam darah, dan jumlah trombosit untuk melihat seberapa baik pembekuan darah. Tes darah juga akan membantu memeriksa fungsi ginjal dan hati.

  • Tes Kreatinin

Kreatinin adalah produk limbah yang dibuat oleh otot. Ginjal harus menyaring sebagian besar kreatinin dari darah kamu, tetapi jika glomerulus rusak, kreatinin yang berlebih akan tetap ada dalam darah. Memiliki terlalu banyak kreatinin dalam darah mungkin mengindikasikan preeklampsia, tetapi tidak selalu.

  • Tes Urine

Dokter melakukan tes urine untuk memeriksa keberadaan protein dan tingkat ekskresinya.

Kalau ibu ingin tahu lebih detail mengenai kejang dan preeklampsia, tanyakan saja langsung ke Halodoc. Dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu di mana saja dan kapan saja. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.

Referensi:

Healthline. Diakses pada 2019. Eclampsia.
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Epilepsy and pregnancy: what you need to know.
American Pregnancy Association. Diakses pada 2019. Epilepsy and Pregnancy.