Ibu Hamil Alami Kejang, Apa Sebabnya?

Ibu Hamil Alami Kejang, Apa Sebabnya?

Halodoc, Jakarta - Menjadi gejala khas dari epilepsi, kejang adalah kondisi atau efek dari penyakit sistem saraf pusat (SSP) atau disfungsi otak. Disfungsi otak ini dapat disertai dengan motorik, sensorik dan gangguan otonom tergantung pada daerah otak yang terlibat, baik organ itu sendiri atau penyebaran ke organ yang lain. Lalu, bagaimana jika kejang terjadi pada ibu hamil?

Kejang yang dialami oleh ibu hamil disebut eklampsia, yang merupakan gejala dari kondisi preeklampsia. Selain kejang, gejala preeklampsia lainnya adalah koma. Kondisi yang terbilang sangat jarang terjadi ini dapat dialami oleh semua ibu hamil dengan hipertensi, bahkan ketika ia tidak memiliki riwayat kejang sebelumnya. 

Baca juga: Waspadai 4 Ciri-Ciri Preeklampsia pada Ibu Hamil Ini

Meski demikian, kejang tidak terjadi pada semua wanita hamil yang mengalami preeklampsia. Hanya sebagian kecil yang mengalaminya tanpa bisa diprediksi secara pasti. Walau penyebabnya belum dapat diketahui secara pasti, tetapi ada beberapa faktor yang dapat berperan menyebabkan eklampsia, antara lain: 

  • Gangguan pada pembuluh darah. 

  • Diet atau asupan gizi. 

  • Gen. 

  • Sistem saraf dan otak (neurologis). 

  • Gangguan pada sistem kekebalan tubuh. 

  • Faktor hormonal. 

  • Gangguan jantung. 

  • Infeksi 

Faktor-Faktor yang Meningkatkan Risiko

Berbeda dengan epilepsi, kejang pada eklampsia tidak berhubungan dengan gangguan di otak secara langsung meskipun kelainan saraf pada otak bisa menjadi faktor yang berperan dalam munculnya gangguan ini.

Dari kasus yang telah ada, ditemukan bahwa wanita dengan preeklampsia berisiko tinggi mengalami kejang jika mengalami kondisi-kondisi tertentu. Selain mengalami preeklampsia berat, wanita yang mengalami kondisi berikut lebih berisiko mengalami eklampsia:

  • Sakit kepala.

  • Saat hamil berusia lebih dari 35 tahun atau kurang dari 20 tahun.

  • Hamil pertama.

  • Hamil kembar.

  • Memiliki riwayat malnutrisi.

  • Memiliki gangguan ginjal.

  • Mengalami diabetes.

  • Sakit perut.

  • Hasil pemeriksaan darah yang tidak normal.

  • Gangguan penglihatan.

  • Berat badan berlebih.

  • Sulit buang air kecil.

Selain itu, obesitas, gangguan pembekuan darah, dan lupus juga diduga menjadi faktor risiko. Ciri utama eklampsia adalah hipertensi dan tingginya kadar protein dalam urine setelah usia kehamilan 20 minggu. Tekanan darah tinggi pada preeklampsia akan menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah yang mengganggu aliran darah. 

Baca juga: Mitos atau Fakta, Preeklamsia dalam Kehamilan bisa Terulang

Kondisi ini mengakibatkan pembengkakan pembuluh darah yang akhirnya mengganggu kerja otak, sehingga memicu kejang. Sedangkan proteinuria atau adanya protein dalam urine akan terjadi karena preeklampsia memengaruhi fungsi ginjal. Meski demikian, terdapat kasus di mana eklampsia terjadi tanpa adanya hipertensi atau pun protein dalam urine.

Tergolong Kondisi Gawat Darurat

Kejang pada ibu hamil atau eklampsia merupakan kegawatdaruratan medis. Jika tidak ditangani secepatnya, ibu hamil dengan preeklampsia, atau lebih parah lagi yang sudah mengalami eklampsia, berisiko mengalami komplikasi berupa: 

  • Kerusakan saraf otak permanen. 

  • Perdarahan otak. 

  • Kerusakan ginjal dan hati. 

  • Kematian. 

Kejang dalam eklamsia umumnya terjadi selama 60-75 detik, dan dapat terbagi menjadi dua fase. Fase pertama berlangsung sekitar 15-20 detik, dan fase kedua 60 detik. Sementara fase koma tidak memiliki durasi yang pasti. Setelah serangan, ibu hamil akan sadar tanpa ingat sempat mengalami kejang.

Trauma pada kepala, lidah tergigit dan patah tulang adalah komplikasi yang mungkin terjadi saat kejang. Selama kejang terjadi, aktivitas otak akan terganggu sehingga menyebabkan pandangan terpaku, tubuh terguncang, dan menurunnya tingkat kesadaran.

Baca juga: Serba-Serbi Mencegah Preeklamsia di Masa Kehamilan

Pengobatan definitif untuk mengatasi preeklampsia adalah dengan proses persalinan. Oleh karena itu, ibu hamil dengan preeklampsia akan dimonitor secara ketat saat menjelang persalinan untuk menentukan langkah persalinan yang tepat. Kondisi ini umumnya akan hilang segera setelah bayi lahir. 

Namun, jika terjadi komplikasi, dokter mungkin akan melakukan pemecahan plasenta dan prosedur operasi Caesar untuk menyelamatkan bayi. Mengeluarkan bayi sesegera mungkin adalah langkah terbaik agar preeklampsia berat tidak menjadi eklampsia. Namun, bayi yang lahir prematur tentu lebih rentan mengalami komplikasi.

Itulah sedikit penjelasan tentang penyebab kejang pada ibu hamil. Jika kamu membutuhkan informasi lebih lanjut soal hal ini atau gangguan kesehatan lainnya, jangan ragu untuk mendiskusikannya dengan dokter pada aplikasi Halodoc, lewat fitur Talk to a Doctor, ya. Dapatkan juga kemudahan membeli obat menggunakan aplikasi Halodoc, kapan dan di mana saja, obatmu akan langsung diantar ke rumah dalam waktu satu jam. Yuk, download sekarang di Apps Store atau Google Play Store!