Terdengar Mirip, Apa Perbedaan Divertikulosis dan Divertikulitis?

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Terdengar Mirip, Apa Perbedaan Divertikulosis dan Divertikulitis?

Halodoc, Jakarta - Walaupun namanya mirip, divertikulosis dan divertikulitis adalah dua gangguan penyakit yang berbeda. Meskipun keduanya sama-sama terjadi di usus besar. Banyak orang yang tidak terlalu memikirkan asupan serat hingga saluran pencernaannya mengalami masalah. Kedua penyakit ini dapat menyerang jenis kelamin apapun, tetapi risikonya lebih besar pada pria.

Divertikulosis adalah sebuah kondisi ketika dinding pada usus besar memiliki kantung-kantung kecil yang menonjol. Divertikulosis yang terjadi pada seseorang seharusnya tidak menimbulkan masalah, karena kantong tersebut tidak menyebabkan bahaya dan jarang membuat seseorang terserang gejalanya. Namun, hal yang dapat membuat penyakit tersebut menjadi berbahaya adalah ketika kantung tersebut mengalami infeksi.

Baca Juga: Hindari Divertikulitis dengan Mengurangi Konsumsi Daging Merah

Divertikulosis sangat umum terjadi pada warga negara Amerika Serikat dengan perbandingan 1 banding 10,  dan berusia di atas 40 tahun. Lalu, sekitar setengah dari angka tersebut berusia lebih dari 60 tahun, dan 2 dari 3 orang tersebut berusia di atas 80 tahun.

Sedangkan, divertikulitis adalah ketika divertikulosis atau dinding usus besar yang membentuk kantung-kantung tersebut mengalami infeksi. Divertikulitis terbilang lebih berbahaya dibandingkan dengan divertikulosis, karena dapat menyebabkan penyakit-penyakit lainnya. Perbandingan divertikulosis yang berubah menjadi divertikulitis adalah sekitar 1 banding 5 hingga 1 banding 7 dari total kasus.

Baca Juga: 3 Makanan Sehat untuk Mencegah Divertikulitis

Disebutkan jika diet rendah serat adalah salah satu hal yang paling tinggi menyebabkan seseorang mengalami divertikulosis. Serat sangat berperan penting pada tubuh, karena dapat membantu untuk menjaga tinja menjadi lunak, sehingga mudah melewati usus besar dan mudah untuk dikeluarkan. Tanpa serat yang cukup, tinja akan menjadi keras dan membuat tekanan pada usus besar ketika memindahkan tinja ke anus. Hal ini lah yang membuat bagian dinding usus besar memunculkan kantung-kantung.

Baca Juga5 Gejala Divertikulitis yang Jangan Diabaikan

Penyebab Divertikulosis dan Divertikulitis

Beberapa hal yang dapat menyebabkan seseorang mengalami divertikulosis, dan berubah menjadi divertikulitis adalah:

  • Tekanan tinggi di usus besar. Otot-otot di usus besar yang kerap mengalami kejang atau sering mengejan ketika buang air besar dapat menyebabkan terbentuknya tonjolan di usus besar.

  • Riwayat keluarga. Gen yang diwarisi oleh orangtua kamu dapat membuat kamu lebih berisiko untuk mengalami divertikulosis dan divertikulitis.

  • Mengonsumsi obat-obatan. Seseorang yang kerap mengonsumsi obat-obatan tertentu dapat berisiko lebih tinggi untuk mengidap divertikulosis dan divertikulitis. Jenis obat-obatan yang dapat menyebabkan hal ini adalah obat anti-inflamasi non-steroid, seperti aspirin.

  • Gaya hidup. Gaya hidup yang kurang sehat, seperti jarang berolahraga, obesitas, dan merokok juga dapat menyebabkan kedua penyakit tersebut terjadi.

Gejala dari Divertikulosis dan Divertikulitis

Gejala-gejala yang terjadi pada seseorang yang mengidap divertikulosis pada umumnya tidak tampak. Selain itu, orang tersebut kemungkinan tidak akan sadar jika ia mengidap gangguan ini. Namun, apabila gejala-gejala ini muncul, mungkin kamu mengalami divertikulosis, di antaranya:

  • Kembung

  • Sembelit

  • Kram atau rasa sakit di perut bagian bawah

Lalu, gejala-gejala yang terjadi pada pengidap divertikulitis yang pada bagian ususnya telah mengalami infeksi biasanya akan terasa sakit. Perasaan tersebut juga akan muncul secara tiba-tiba. Gejala-gejala lainnya, yaitu:

  • Sering mengalami diare.

  • Mual atau muntah.

  • Tubuh mengalami demam dan menggigil.

Itulah perbedaan antara gangguan divertikulosis dan divertikulitis. Jika kamu mempunyai pertanyaan perihal kedua gangguan tersebut, dokter dari Halodoc siap membantu. Caranya mudah, yaitu dengan download aplikasi Halodoc di smartphone kamu!