Perbedaan Tortikolis pada Orang Dewasa dan Bayi

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Perbedaan Tortikolis pada Orang Dewasa dan Bayi

Halodoc, Jakarta – Tortikolis adalah kontraksi otot halus yang memicu kelainan gerak pada leher dan kepala, menyebabkan leher condong ke satu sisi (miring sebelah). Meskipun penyebabnya belum diketahui secara pasti, para ahli menduga tortikolis disebabkan gagalnya pembuatan saraf pengirim di otak. Penyakit ini bisa terjadi pada kelompok usia mana saja, termasuk bayi dan orang dewasa. Ketahui bedanya di sini, yuk.

Ketahui Tortikolis pada Bayi

Tortikolis pada bayi disebut juga tortikolis kongenital. Penyebabnya belum diketahui secara pasti. Para ahli menduga kondisi ini terjadi saat proses persalinan atau proses perkembangan janin dalam kandungan. Studi menyebutkan tortikolis kongenital lebih banyak terjadi pada anak pertama, yaitu pengidapnya rentan mengalami displasia pinggul.

Jika bayi yang lahir dicurigai mengidap tortikolis kongenital, dokter melakukan pemeriksaan fisik untuk melihat sejauh mana bayi bisa menggerakkan kepala dan lehernya. Setelah diagnosis ditetapkan, dokter akan mengajari orang tua bayi terapi fisik untuk melonggarkan otot leher bayi yang kaku. Terapi ini bisa dilakukan di rumah, sehingga ibu perlu mempelajarinya dengan seksama. Apabila terapi ini tak berhasil memperbaiki kondisi bayi, dokter melakukan tes pencitraan (seperti x-ray dan ultrasound) untuk melihat posisi tulang bayi untuk diagnosis lanjutan.

Ketahui Tortikolis pada Orang Dewasa

Kondisi ini disebut juga distonia serviks atau tortikolis spasmodik. Kondisi ini ditandai dengan kontraksi otot leher yang membuat pengidapnya kesulitan mengendalikan gerak kepala (termasuk leher). Kontraksi ini menyebabkan leher berputar ke satu sisi, pergerakan berulang dan posisi leher abnormal. Penyebabnya adalah faktor genetik, trauma akibat cedera, dan kelainan struktur otak.

Diagnosis tortikolis pada orang dewasa dilakukan melalui wawancara riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik. Salah satunya melalui the Toronto Western Spasmodic Torticollis Rating Scale (TWSTRS) yang terdiri dari pemeriksaan posisi leher, kepala dan bahu. TWSTRS juga menguji kemampuan pengidap tortikolis dalam memosisikan kepala di posisi normal, serta memantau pergerakan leher dan kepala. Pemeriksaan penunjang lainnya berupa tes pencitraan, seperti x-ray, CT scan dan MRI.

Dystonia tortikolis bisa diobati dengan konsumsi obat-obatan, terapi fisik hingga operasi. Pemberian obat bertujuan menghambat sinyal-sinya di otak yang merangsang kekakuan otot. Efek samping konsumsi obat yang mungkin terjadi adalah mengantuk, mual, bingung, sulit menelan, penglihatan ganda, perubahan suara, mulut kering, konstipasi, sulit buang air kecil, sulit mengingat dan kehilangan keseimbangan.

Terapi fisik dilakukan untuk meredakan nyeri dan mengurangi kontraksi otot. Terapi fisik yang dilakukan bisa berupa fisioterapi, pijat, terapi bicara, terapi sensorik, serta latihan pernapasan dan yoga. Sedangkan, operasi disarankan jika tidak ada pengobatan yang berhasil. Operasi untuk mengatasi dystonia tortikolis di antaranya operasi stimulasi otak dalam dan operasi denervasi selektif. Operasi stimulasi otak dilakukan dengan menanamkan elektroda ada otak dan menggabungkannya dengan listrik dalam tubuh untuk menghambat gejala dystonia tortikolis. Sementara operasi denervasi selektif dilakukan dengan memotong saraf penyebab kejang untuk menghentikan gejala permanen.

Itulah perbedaan tortikolis pada bayi dan orang dewasa. Kalau kamu punya pertanyaan seputar tortikolis, tanya dokter Halodoc agar mendapat jawaban terpercaya. Kamu bisa menggunakan fitur Contact Doctor yang ada di aplikasi Halodoc untuk bicara pada dokter via Chat, dan Voice/Video Call kapan saja dan dimana saja. Yuk, download aplikasi Halodoc di App Store atau Google Play sekarang juga!

Baca Juga: