22 October 2018

5 Penyebab Cedera Kepala Berat yang Berakibat Trauma

5 Penyebab Cedera Kepala Berat yang Berakibat Trauma

Halodoc, Jakarta - Bagaimanapun tingkat keparahannya, cedera kepala tidak bisa dianggap sebagai hal yang remeh, karena dapat menyebabkan terjadinya trauma. Baik cedera kepala berat maupun ringan, keduanya harus mendapatkan penanganan agar tidak menimbulkan komplikasi serius. Dalam artikel ini, akan dibahas mengenai cedera otak berat.

Biasanya, cedera otak traumatik terjadi karena adanya kekuatan dari luar tubuh yang cukup besar untuk menyebabkan terjadinya disfungsi pada otak. Umumnya, kondisi ini disebabkan karena pukulan keras, hantaman, hingga kecelakaan. Cedera otak berat bisa mengakibatkan perdarahan, memar atau robeknya jaringan, hingga kematian jika terjadi komplikasi serius.

Berdasarkan data dari Centers for Disease Control and Prevention, ada sekitar 1,7 juta kasus terkait dengan cedera otak berat terjadi di Amerika Serikat pada semua usia yang menyumbang sekitar 30 persen angka kematian yang terkait dengan cedera. Orang-orang yang berisiko tinggi mengalami hal ini adalah remaja berusia 15 hingga 19 tahun, lansia berusia 65 tahun atau lebih, juga laki-laki di segala usia.

Apa yang Menyebabkan Cedera Kepala Berat?

Ketahui beberapa penyebab cedera kepala berat yang dapat mengakibatkan trauma dan paling sering ditemui:

  • Kecelakaan

Pertama, adalah kecelakaan yang berhubungan dengan tabrakan, seperti misalnya tabrakan sepeda, sepeda motor, mobil, bahkan dengan pejalan kaki. Benturan atau hantaman yang keras antara tubuh, dalam hal ini kepala, dengan benda lain bisa berujung pada cedera otak berat.

  • Cedera karena Olahraga

Selain kecelakaan, cedera karena olahraga bisa memicu terjadinya cedera otak berat yang berujung pada trauma. Jenis olahraga yang berisiko tinggi seperti tinju, sepak bola, hoki, lacrosse, dan skateboarding.

  • Terjatuh

Jangan anggap remeh terjatuh, apalagi jika kepala menjadi bagian tubuh yang lebih dahulu terhantam objek lainnya. Seseorang berisiko mengalami cedera kepala berat jika terjatuh dari tempat tidur, terjatuh dari tangga, atau terpeleset di kamar mandi yang membuat kepala terbentur.

  • Kekerasan

Sekitar 20 persen kasus trauma kepala atau cedera otak terjadi karena kekerasan, seperti penganiayaan atau Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Pada usia balita, cedera otak  bisa terjadi karena guncangan yang amat kuat pada bayi dan mengakibatkan kerusakan pada sel otaknya.

  • Ledakan

Anggota militer termasuk dalam kategori orang yang paling rentan mengalami cedera otak. Pasalnya, ketika sedang bertugas atau berperang, sering terjadi ledakan yang membahayakan, terlebih jika langsung mengenai kepala. Meski belum diketahui dengan pasti mekanismenya, para ahli kesehatan berpendapat masuknya gelombang tekanan secara tiba-tiba bisa memicu terjadinya gangguan fungsi otak.

Jadi, jangan pernah menyepelekan cedera kepala, meskipun rasa sakit yang ditimbulkan setelah terjadinya benturan mungkin tak lama tapi dapat terjadi komplikasi yang serius dalam jangka waktu lama. Kalau kamu mengalami benturan yang menyakitkan di kepala, jangan ragu untuk langsung memeriksakan diri ke dokter.

Kamu juga bisa bertanya seputar informasi kesehatan lainnya pada dokter tanpa perlu membuat perjanjian terlebih dahulu melalui aplikasi Halodoc, yang bisa kamu download langsung di ponsel dari Play Store atau App Store. Selain bertanya pada dokter, aplikasi Halodoc juga bisa kamu manfaatkan untuk membeli obat dan melakukan cek kesehatan rutin tanpa perlu keluar rumah.

 

Baca juga: