01 January 2019

Perkembangan Ebola dari Masa ke Masa

virus Ebola, penyebaran virus ebola, penyakit dari afrika

Halodoc, Jakarta - Ebola merupakan nama sebuah penyakit yang berasal dari virus yang juga bernama Ebola. Penyakit ini pertama kali ditemukan pada 1976 di Sudan dan Kongo. Ebola hidup dalam tubuh kelelawar kemudian menyebar ke hewan lain dan menjangkiti manusia melalui darah saat manusia membersihkan darah dari hewan perburuan yang telah terkontaminasi. Virus Ebola telah menimbulkan wabah berupa penyakit demam berdarah pada manusia dengan angka kematian mencapai 89 persen sejak 1976-2012 di Afrika. Virus jenis Zaire merupakan virus Ebola paling berbahaya yang mengakibatkan angka kematian hingga 89 persen.

Baca juga: Alasan Virus Ebola Bisa Jadi Masalah Global

Virus Ebola yang memasuki tubuh manusia dapat mengganggu sistem imun dan organ lainnya. Sel pembeku darah akan menurun, sehingga menyebabkan perdarahan yang serius dan tidak terkendali. Ebola dapat mengancam nyawa. Kamu sebaiknya segera mencari penanganan medis jika kamu menemukan gejala  Ebola pada dirimu, seperti demam, menggigil, merasa sangat lemas, dan sakit kepala parah. Jika kondisi tersebut dibiarkan, gejala yang timbul akan semakin parah, seperti mata memerah, diare yang mungkin disertai dengan darah, mual dan muntah, timbulnya ruam pada tubuh, batuk yang disertai nyeri pada dada, penurunan berat badan secara drastis, dan perdarahan yang biasanya keluar melalui mata, hidung, maupun anus.

Baca juga: 4 Cara Penularan Ebola

Virus Ebola dapat ditemukan pada monyet, simpanse, dan primata lainnya. Penyebab lainnya dapat disebarkan melalui:

  1. Penularan dari Manusia ke Manusia

Orang-orang yang terinfeksi biasanya tidak menularkan Ebola hingga mereka mengalami gejala-gejala seperti di atas. Selain itu, virus tersebut biasanya tertular kepada anggota keluarga yang biasanya merawat pengidap yang terinfeksi virus ini.

  1. Penularan dari Hewan ke Manusia

Memotong atau mengonsumsi hewan yang terinfeksi dapat menyebarkan virus Ebola melalui darah. Selain itu, ada beberapa gua di Afrika yang menjadi tempat penyebaran virus, yaitu gua bawah tanah yang telah terinfeksi akibat banyaknya kotoran atau urine kelelawar yang terinfeksi.

Sampai saat ini, belum ada antivirus spesifik untuk mengatasi infeksi virus Ebola. Namun, terapi suportif dapat dilakukan dengan cara memperhatikan volume darah dalam pembuluh darah, elektrolit, nutrisi, dan membuat pengidap virus ini dalam keadaan nyaman. Pengobatan juga dapat dilakukan dan respon pengobatan kepada pengidap tergantung pada dosis obat yang diberikan. Dosis 0,7 miligram/kilogram yang diberikan setiap 8 jam pada hari pertama dan kedua dapat mencegah kematian sebesar 90 persen.

Baca juga: Indonesia Aman dari Ebola, Benarkah?

Pengidap yang dapat bertahan hidup dapat mengeluarkan virus Ebola dalam jangka waktu yang lama. Untuk itu, pengidap kondisi ini memerlukan ruang khusus untuk diisolasi agar penyebaran virus ini dapat diatasi. Virus dapat menyebar melalui air kencing, darah, dahak, dan feses pengidap.

Ebola merupakan penyakit yang jarang ditemui, tetapi kondisi penyakit ini sangat serius. Ebola paling sering ditemui di Afrika, tetapi juga dapat ditemui di bagian bumi lainnya. Jika kamu berencana untuk bepergian ke daerah tersebut, pastikan kamu mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga diri dari penyebaran virus Ebola. Ebola juga dapat memengaruhi pria dan wanita pada usia berapa saja.

Jika ada yang ingin kamu tanyakan tentang virus Ebola, maupun masalah kesehatan lainnya, Halodoc bisa jadi solusinya. Dengan aplikasi Halodoc, kamu bisa ngobrol langsung dengan dokter ahli di mana pun dan kapan pun via Chat atau Voice/Video Call. Setelah berdiskusi, kamu bisa langsung membeli obat yang telah diresepkan oleh dokter, dan pesanan kamu akan diantar dalam waktu satu jam. Yuk, download aplikasinya di Google Play atau App Store!