10 May 2019

Perlu Diwaspadai, Ini Penyebab Nekrolisis Epidermal Toksik

perlu-diwaspadai-ini-penyebab-nekrolisis-epidermal-toksik-halodoc

Halodoc, Jakarta – Penyakit kulit ada berbagai macam, mulai dari yang ringan dan bisa disembuhkan dengan mudah, sampai yang sangat parah yang bisa merusak kondisi kulit. Nah, salah satu penyakit kulit serius yang perlu kamu waspadai adalah nekrolisis epidermal toksik.

Meskipun jarang terjadi, tapi nekrolisis epidermal toksik bisa membahayakan nyawa, karena membuat pengidapnya kehilangan lapisan luar kulit. Sebenarnya apa yang menjadi penyebab nekrolisis epidermal toksik? Ketahui di sini agar kamu bisa mencegahnya.

Apa Itu Nekrolisis Epidermal Toksik?

Nekrolisis Epidermal Toksik (NET) adalah gangguan kelainan kulit yang ditandai dengan kerusakan kulit yang cukup luas yang bisa berujung pada infeksi berat bahkan kematian. NET membuat kulit memerah seperti luka bakar (derajat 2) dengan luka lepuh yang bisa menyebar ke seluruh tubuh, hingga mengakibatkan pengidapnya kehilangan 30 persen kulitnya.

Tidak hanya merusak kulit saja, NET juga bisa menyerang organ dalam dan menyebabkan gangguan pernapasan, perdarahan pada saluran pencernaan, gangguan pada saluran kencing, dan sebagainya.

Nekrolisis epidermal toksik bisa dialami siapa saja secara tidak terduga, meski gangguan kulit ini lebih banyak dialami oleh wanita dan orang-orang pada kelompok usia 40–60 tahun. NET juga masih sejenis dengan Sindrom Steven-Johnson (SSJ), hanya saja tingkat keparahan kerusakan kulit yang bisa ditimbulkan berbeda. NET bisa menyebabkan kerusakan kulit yang lebih berat daripada SSJ.

Baca juga: Nekrolisis Termasuk Penyakit Serius, Kenali 5 Gejalanya

Penyebab Nekrolisis Epidermal Toksik

Penyebab utama terjadinya nekrolisis epidermal toksik adalah reaksi sensitivitas yang berlebihan (hipersensitivitas) dari sistem imun terhadap racun yang terakumulasi pada kulit, karena penggunaan atau konsumsi obat. Belum jelas bagaimana obat-obatan tertentu bisa mengakibatkan NET. Namun, ini bukan berarti semua orang yang mengonsumsi obat-obatan tersebut pasti berisiko mengalami NET. Sama halnya seperti setiap orang bisa memiliki reaksi alergi terhadap zat tertentu yang berbeda-beda, NET pun tidak selalu terjadi pada tiap orang yang mengonsumsi obat pemicu NET. Hingga kini, belum diketahui hal spesifik apa yang mendasari terjadinya NET pada seseorang.

Semua jenis obat sebenarnya berpotensi menyebabkan NET. Namun di antara semua obat, yang paling sering memicu terjadinya NET adalah antibiotik (terutama golongan penisilin, sulfa, kloramfenikol, dan kuinolon), obat anti-radang (seperti, parasetamol, ibuprofen, dan asam mefenamat), allopurinol, kortikosteroid, obat antiinflamasi nonsteroid (terutama meloxicam atau piroxicam), obat anti-epilepsi (misalnya, fenobarbital, fenitoin, dan asam valproate), serta obat anti-retrovirus (misalnya, nevirapine dan abacavir).

Baca juga: 7 Tanda Seseorang Kena Alergi Obat

Selain obat, nekrolisis epidermal toksik juga bisa terjadi karena beberapa kondisi berikut:

  • Faktor genetik.
  • Imunisasi, tapi ini sangatlah jarang terjadi.
  • Infeksi, seperti mikoplasma, virus herpes, virus hepatitis A, dan HIV.
  • Penyakit lupus.
  • Transplantasi organ atau sumsum tulang.

Cara Mencegah Nekrolisis Epidermal Toksik

Meskipun hal-hal yang bisa memicu nekrolisis epidermal toksik sudah diketahui, tapi gangguan kulit ini kadang-kadang tetap tidak bisa dihindari. Namun, bila kamu sudah mengetahui bahwa diri sendiri memiliki riwayat alergi terhadap suatu zat atau obat tertentu, maka usahakan untuk menghindari paparan zat tersebut sebisa mungkin. Hal ini sangat membantu menurunkan risiko terjadinya NET.

Baca juga: Kenali 4 Reaksi Alergi Obat pada Anak, Ibu Wajib Tahu

Nah, itulah penyebab nekrolisis epidermal toksik yang perlu kamu waspadai. Bila kamu masih ingin mengetahui lebih jauh mengenai NET, tanyakan saja langsung ke ahlinya dengan menggunakan aplikasi Halodoc. Melalui Video/Voice Call dan Chat, kamu bisa menghubungi dokter untuk minta saran kesehatan kapan saja dan di mana saja. Yuk, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play.