04 October 2018

Perlu Tahu Dampak Hepatitis pada Ibu Hamil dan Janin

perlu tahu dampak hepatitis pada ibu hamil dan janin

Halodoc, Jakarta - Selama masa kehamilan, ada kalanya ibu hamil mesti berhadapan dengan berbagai keluhan kesehatan. Mulai dari morning sickness, suasana hati yang mudah berubah, cepat lelah, kaki bengkak, hingga sakit kepala. Namun, ada pula ibu hamil lainnya yang mungkin saja harus menghadapi masalah kesehatan yang lebih serius. Misalnya, mereka yang tengah mengidap hepatitis. Nah, kira-kira apa dampak hepatitis bagi bu hamil dan janin ya?

Dampak Bagi Ibu Hamil

Dari banyaknya jenis hepatitis, hepatitis B dan C merupakan jenis yang paling umum selama kehamilan. Kata ahli, hepatitis B merupakan bentuk hepatitis yang paling sering ditularkan ibu ke bayinya, dengan peningkatkan risiko yang lebih tinggi bila dirimu tinggal di negara berkembang.

Kata ahli, kondisi hati ibu hamil yang sudah terbebani dan terluka dengan sirosis, bisa meningkatkan risiko terjadinya perlemakan hati. Nah, hal inilah yang mesti diwaspadai. Sebab, kondisi ini dapat dengan cepat menjadi parah. Selain itu, ibu hamil yang mengidap hepatitis juga bisa saja mengalami komplikasi lain. Misalnya, batu empedu yang menimbulkan penyakit kuning selama kehamilan.

Menurut para pakar, kondisi ini terjadi pada enam persen dari semua kehamilan. Alasannya karena perubahan garam empedu selama kehamilan. Di samping itu, dampak hepatitis bagi ibu hamil juga bisa meningkatkan risiko untuk mengalami ketuban pecah dini, diabetes gestasional, atau mengalami perdarahan berat pada akhir kehamilan bila mengidap hepatitis B.  

Risiko bagi Janin

Umumnya, virus hepatitis ini enggak memengaruhi bayi dalam kandungan. Namun, tak menutup kemungkinan ada beberapa masalah yang akan timbul saat persalinan. Misalnya, kelahiran prematur atau bayi lahir dengan berat yang rendah. Selain itu, infeksi hepatitis B kronis juga bisa saja menimbulkan gangguan bagi fungsi tubuh bayi.

Bayi juga bisa saja terinfeksi hepatitis B saat lahir bila ibunya positif memiliki virus hepatitis tersebut. Masalah kesehatan ini bisa ditularkan melalui paparan darah dan cairan Miss V selama proses persalinan. Namun yang bikin resah, virus hepatitis ini bisa mengancam nyawa Si Kecil, lho. Sebab, anak yang terinfeksi virus ini sedari kecil sebagian besar kasusnya akan menjadi kronis.

Nah, dampak hepatitis kronis inilah yang bisa berakibat negatif bagi kesehatannya kelak. Misalnya, meningkatkan risiko terjadinya kerusakan hati (sirosis) atau bahkan kanker hati.

Adakah cara yang Aman?

Mengidap hepatitis B selama kehamilan pastinya membuat ibu resah. Meski begitu, setidaknya ada cara yang bisa ibu coba agar kesehatan ibu dan janin tetap terjaga selama kehamilan. Nah, berikut penjelasannya.

- Lakukan kontrol untuk mengetahui dengan pasti berapa jumlah dan tipe virus (aktif atau pasif) sebelum hamil.

- Ketika kehamilan masuk enam bulan ke atas, ibu mesti mendapatkan obat antivirus yang harus diminum setiap hari. Tujuannya, agar virus yang ditularkan ke bayi tak terlalu banyak sehingga aman.

- Melakukan imunisasi pasif dan aktif pada bayi yang baru dilahirkan.

Namun yang perlu diingat, setelah melahirkan, ibu juga harus rutin melakukan kontrol untuk memonitor jumlah dan keadaan virus di dalam tubuhnya. Pasalnya, ada beberapa orang yang bisa sembuh total dari hepatitis B. Dengan catatan, tergantung dari jumlah virus dan faktor lainnya.

Punya keluhan dengan kehamilan? Atau ingin mengetahui lebih jauh mengenai dampak hepatitis bagi kehamilan? Kamu bisa lho bertanya langsung ke dokter ahli melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Baca juga: