• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Perlukah Pengidap Epilepsi Melakukan EEG dan Brain Mapping?

Perlukah Pengidap Epilepsi Melakukan EEG dan Brain Mapping?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta – Epilepsi dikenal sebagai penyakit yang bisa membuat seseorang kejang-kejang dan hilang kesadaran. Gejala berupa kejang bisa terjadi karena impuls listrik pada otak pengidap melebihi batas normal. Kondisi tersebut juga bisa menyebar ke area sekelilingnya dan menyebabkan sinyal listrik menjadi tidak terkendali. Sinyal tersebut terkirim juga pada otot, sehingga akhirnya timbullah sensasi kedutan hingga kejang-kejang. Karena terdapat masalah pada otak itulah, salah satu pemeriksaan yang dianjurkan untuk pengidap epilepsi adalah EEG dan brain mapping. Yuk, simak penjelasannya lebih lanjut di sini.

Apa Itu Epilepsi?

Epilepsi adalah gangguan sistem saraf pusat (neurologis) di mana aktivitas otak menjadi tidak normal, sehingga menyebabkan kejang atau periode perilaku yang tidak biasa, sensasi-sensasi tertentu, dan kadang-kadang hilang kesadaran. Gangguan pada pola aktivitas otak tersebut bisa disebabkan oleh beberapa hal, seperti kelainan pada jaringan otak, ketidakseimbangan zat kimia di dalam otak, ataupun gabungan dari beberapa faktor penyebab tersebut.

Epilepsi dapat menyerang siapa saja baik pria maupun wanita dan dari segala ras, latar belakang etnis dan usia. Gejala kejang yang dialami tiap pengidap juga bisa berbeda-beda. Beberapa pengidap hanya menatap kosong selama beberapa detik saat episode kejang terjadi, sedangkan sebagian yang lain dapat menggerakkan lengan atau kakinya berulang kali. Namun, mengalami kejang hanya sesekali tidak selalu menandakan kamu mengidap epilepsi. Setidaknya dua kejang yang terjadi tanpa sebab baru memerlukan pemeriksaan untuk epilepsi.

Baca juga: Jangan Keliru, Inilah Bedanya antara Kejang dan Epilepsi

Pentingnya Pemeriksaan EEG dan Brain Mapping untuk Epilepsi

Untuk memastikan diagnosis epilepsi, dokter pertama-tama akan meninjau gejala yang kamu alami dan riwayat medis kamu. Dokter mungkin juga akan melakukan beberapa tes untuk mendiagnosis epilepsi dan menentukan penyebab kejang. Berbagai tes yang diperlukan antara lain:

  • Pemeriksaan Neurologis

Dalam pemeriksaan ini, dokter akan menguji perilaku kamu, kemampuan motorik, fungsi mental, dan area lain untuk mendiagnosis kondisi kamu dan menentukan jenis epilepsi yang mungkin diidap.

  • Tes Darah

Dokter juga akan mengambil sampel darah untuk memeriksa tanda-tanda infeksi, kondisi genetik atau kondisi lain yang mungkin terkait dengan kejang.

Selain pemeriksaan awal di atas, dokter juga bisa mengajukan pemeriksaan lanjutan. Nah, salah satu pemeriksaan lanjutan yang penting untuk mendiagnosis epilepsi adalah electroencephalogram (EEG) dan brain mapping. Pemeriksaan ini dapat mengetahui adanya perubahan aktivitas otak yang sangat bermanfaat untuk mendiagnosis gangguan otak, seperti epilepsi dan gangguan kejang lainnya.

EEG dilakukan dengan menempelkan cakram logam kecil (elektroda) pada kulit kepala kamu. Sel-sel otak manusia berkomunikasi melalui impuls listrik dan aktif setiap saat, bahkan ketika kita sedang tidur. Nah, aktivitas otak ini akan ditampilkan sebagai garis bergelombang pada rekaman EEG.

Bila kamu mengidap epilepsi, biasanya akan didapati perubahan pada pola gelombang otak yang normal, bahkan ketika kamu tidak mengalami kejang. Dokter akan memantau kamu di video ketika menjalani EEG baik saat bangun atau tidur, untuk merekam setiap kejang yang dialami. Merekam kejang dapat membantu dokter untuk menentukan jenis kejang yang kamu alami dan menghilangkan kemungkinan penyebab lainnya. Untuk mendapati rekaman kejang, dokter mungkin akan memberi kamu instruksi untuk melakukan sesuatu yang dapat memicu kejang, seperti mengurangi waktu tidur sebelum tes.

Baca juga: Stres Bisa Memicu Kejang Epilepsi

Jadi, EEG dan brain mapping adalah pemeriksaan yang penting dan perlu dilakukan oleh orang yang dicurigai mengidap epilepsi. Pemeriksaan tersebut sangat bermanfaat untuk mendiagnosis epilepsi, bahkan jenis kejang yang pengidap alami. EEG dan brain mapping dapat dilakukan di rumah sakit yang memiliki fasilitas untuk pemeriksaan tersebut beserta tenaga ahlinya. 

Baca juga: Epilepsi Bisa Sembuh atau Selalu Kambuh?

Untuk melakukan pemeriksaan, kamu bisa buat janji dengan dokter di rumah sakit pilihan kamu melalui Halodoc. Yuk, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play sebagai teman penolong untuk menjaga kesehatanmu sekeluarga.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Diagnosis & Treatment.
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. EEG (electroencephalogram).