• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Pola Asuh Orangtua Bisa Bikin Anak Jadi Pelaku Bully?

Pola Asuh Orangtua Bisa Bikin Anak Jadi Pelaku Bully?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani

Halodoc, Jakarta - Belakangan ini terlihat sedang marak aksi perundungan atau bullying yang tertangkap kamera atau terekam saat dilakukan. Tidak sedikit di dalam video tersebut, latar belakang kejadiannya terjadi di sekolah atau masih mengenakan seragam yang menandakan terjadi pada pelajar.

Memang perilaku tidak terpuji tersebut dapat dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satu faktor yang sangat erat dengan pelakunya disebabkan oleh pola asuh orangtua yang memberikan dampak buruk bagi anak. Maka dari itu, ibu harus tahu pola asuh seperti apa yang membuat anak menjadi pelaku bully. Berikut bahasan lengkapnya!

Baca juga: Ini Alasan Anak Jadi Pelaku Bullying

Anak jadi Pelaku karena Pengaruh Pola Asuh Orangtua

Banyak anak yang akan mencontoh segala hal yang dilakukan oleh orangtuanya. Semua kebiasaan dan kelakuan yang orangtuanya lakukan akan terlihat oleh anak dan mengaplikasikannya walaupun itu buruk. Hal tersebut karena anak berkaca dari apa yang orangtuanya lakukan sehingga merasa yang dilakukannya benar.

Pembentukan perilaku seorang anak dimulai ketika masih berada di rumah. Maka dari itu, peran orangtua sangat penting untuk memerhatikan apabila anak ibu ternyata pelaku bully. Dengan begitu, tindakan selanjutnya dapat dilakukan agar kebiasaan buruk tersebut dapat hilang.

Tiap orangtua memang mempunyai gaya tersendiri dalam hal pola asuh. Jika begitu, penting untuk mengetahui jenis-jenis pola asuh anak yang mana saja yang dapat menyebabkan anak menjadi pelaku bully. Berikut adalah beberapa pola asuh yang dapat menimbulkan anak menjadi seorang pelaku bully:

  1. Otoriter

Salah satu pola asuh anak yang jika dilakukan dapat menyebabkan orangtuanya membuat anaknya menjadi pelaku bully adalah otoriter. Disebutkan apabila gaya ini akan menggunakan kekerasan dan intimidasi untuk mendapatkan hasil yang sesuai pada anaknya. Maka dari itu, anaknya akan mencari pelampiasan yang badannya lebih kecil darinya.

Lalu, jika kamu sebagai orangtua, mempunyai pertanyaan terkait anak pelaku bully, dokter dari Halodoc siap membantu. Caranya mudah, kamu hanya perlu download aplikasi Halodoc di smartphone yang kamu gunakan! Dengan begitu, kamu akan mendapatkan pendapat baru tentang pola asuh anak.

Baca juga: 5 Tips bagi Orangtua saat Anak jadi Korban Bullying

  1. Permisif

Pola asuh tipe permisif juga dapat menyebabkan anak menjadi pelaku bully. Hal ini adalah perlakukan orangtua yang membuat anak tidak memiliki banyak aturan, sehingga anak-anak bebas berekspresi semaunya tanpa tahu yang benar dan yang salah. Dikarenakan tidak mempunyai aturan yang jelas, anak dapat menyakiti orang lain.

  1. Pengabaian

Seorang anak dapat menjadi pelaku bully atau orang yang dibully disebabkan pola asuh anak ini. Orangtua yang sering mengabaikan anaknya akan menyebabkan dirinya tidak mempunyai aturan dan panduan akan semua hal. Kurangnya perhatian dari orangtuanya akan membuatnya berkeinginan mendapatkan hal tersebut dengan cara menjadi anak pelaku bully.

Selain itu, seseorang juga dapat menjadi korban bully karena pola asuh yang diterapkan orangtua ini. Hal ini disebabkan dirinya tidak mempunyai tingkat harga diri yang tinggi karena tidak pernah dianggap oleh orangtuanya. Sehingga, dirinya dianggap sebagai sasaran yang mudah dirundung oleh teman-temannya.

Baca juga: Supaya Anak Tidak Jadi Pembully, Begini Cara Mendidiknya

Memang banyak anak yang menjadi pelaku bully terjadi disebabkan melihat kebiasaan yang orangtuanya lakukan. Sehingga, ketika di luar rumah, anak tersebut melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh orangtuanya. Anak adalah peniru yang paling baik dari apa yang dilakukan orangtuanya.

Saat anak tersebut melihat temannya yang terbilang lebih lemah dan rentan, dirinya akan melakukan perundungan sama seperti yang orangtuanya lakukan padanya. Sang pembully mungkin akan melakukan cemoohan, mendorong, hingga memukul. Maka dari itu, peran orangtua sangat penting untuk membangun karakter anak.

Referensi:
Oregon City Schools Anti-Bullying Site. Diakses pada 2019. The Connection Between Parenting Styles and Bullying Behaviors
Evolve. Diakses pada 2019. The Connection Between Parenting Style and Bullying