07 November 2018

Polihidramnion atau Air Ketuban Berlebih, Berbahayakah?

Polihidramnion atau Air Ketuban Berlebih, Berbahayakah?

Halodoc, Jakarta - Ketika ibu sedang hamil, di dalam rahimnya terdapat kantung yang berisi cairan ketuban. Cairan tanpa warna ini mempunyai fungsi penting untuk perkembangan organ penting bayi. Selain itu, cairan ketuban juga mampu melindungi bayi dari benturan maupun infeksi dan membuat bayi tersebut merasa nyaman karena membuatnya tetap hangat.

Air ketuban akan melindungi janin ketika berusia 12 hari setelah pembuahan dilakukan. Pada awal kehamilan, air ketuban ini berasal dari persediaan air yang ada pada tubuh sang ibu. Lalu setelah memasuki umur 12 minggu, air ketuban akan dipenuhi sebagian besar air kencing bayi tersebut.

Keberadaan cairan ketuban ini juga membuat bayi dapat bergerak, sehingga dapat membantu perkembangan otot dan tulangnya. Air ketuban dapat terus bertambah sejalan dengan usia kandungan hingga 28-32 minggu, lalu cairan tersebut tidak bertambah lagi pada minggu ke-37 sampai 40.

Lalu, bagaimana jika cairan ketuban berlebih? Cairan ketuban tidak boleh terlalu banyak atau pun terlalu sedikit, takarannya harus pas. Hal tersebut karena cairan yang terlalu banyak atau sedikit dapat memengaruhi kehamilan pada janin ibu. Kondisi air ketuban yang terlalu sedikit dapat disebut dengan oligohidramnion atau biasa disebut dengan polihidramnion.

Bahaya dari Polihidramnion

Pada kasus yang ringan, mungkin ibu tidak merasakan gejala dari polihidramnion. Namun, pada kasus yang terbilang parah, ibu mungkin merasakan hal seperti napas terasa berat ketika beristirahat, bengkak pada perut, kaki, atau pergelangan kaki. Selain itu, seseorang yang mengidap polihidramnion gejalanya yaitu sakit punggung, urine yang keluar dari tubuh berkurang, rahim membesar, dan sulit merasakan gerakan dari janin.

Hal-hal yang dapat disebabkan oleh ibu yang mengidap polihidramnion adalah dapat menyebabkan kelahiran prematur, masalah pada tali pusar janin, perdarahan hebat pada ibu setelah melahirkan, hingga kematian bayi. Selain itu, ibu mungkin mengalami tekanan darah tinggi, infeksi saluran kemih, ketuban pecah terlalu dini, dan operasi caesar.

Penyebab Polihidramnion

Setelah mengetahui bahaya dari air ketuban berlebih, kamu harus tahu apa hal yang menyebabkan polihidramnion terjadi. Walau begitu, para peneliti belum mengetahui secara pasti apa yang menyebabkan seseorang dapat mengidap polihidramnion. Belum ditemui cara untuk mencegah agar ibu hamil tidak mengalami kondisi tersebut. Namun, ada beberapa hal yang dapat memicu air ketuban terlalu banyak, di antaranya:

  1. Hamil Bayi Kembar

Kehamilan bayi kembar dua atau lebih, dapat memicu terjadinya air ketuban berlebih. Pada hal ini, salah satu bayi dapat kekurangan cairan ketuban, sementara bayi lainnya mengalami cairan ketuban yang berlebih.

  1. Kelainan Genetik

Kelainan genetik juga dapat menyebabkan terjadinya polihidramnion. Disebutkan bahwa bayi dengan volume air ketuban yang banyak memiliki kecenderungan untuk mengalami kelainan genetik seperti sindrom Down.

  1. Ibu Hamil Mengidap Diabetes

Polihidramnion dapat disebabkan oleh ibu hamil yang mengidap diabetes. Menurut data, sekitar 10 persen ibu yang hamil dengan diabetes kemungkinan mengidap air ketuban berlebih, khususnya pada trimester ketiga.

  1. Anemia

Polihidramnion dapat menjadi tanda apabila bayi yang berada di dalam kandungan mengalami anemia yang cukup parah. Hal tersebut disebabkan oleh inkompatibilitas atau tidak cocoknya rhesus dan disebabkan infeksi. Keduanya dapat diatasi dengan melakukan transfusi darah. Walau begitu, kasus ini terbilang sangat jarang.

Itulah pembahasan tentang polihidramnion. Jika kamu masih mempunyai pertanyaan tentang kelainan air ketuban berlebih tersebut, dokter dari Halodoc dapat membantu. Caranya dengan download aplikasi Halodoc di smartphone kamu! Kamu juga bisa membeli obat di Halodoc. Tanpa perlu keluar rumah, pesananmu akan diantarkan dalam waktu satu jam.

Baca juga: