Polusi Udara Picu Masalah Kejiwaan pada Anak

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta - Mau tahu seberapa seriusnya problem polusi udara di dunia? Berdasarkan data dari WHO, sekitar 7 juta orang mesti kehilangan nyawa tiap tahunnya akibat zat-zat beracun dari polusi udara. Benar-benar sulit dipercayai, bukan? 

Lebih dari 90 persen penduduk Bumi terdampak masalah ini. Mereka mesti menghirup udara dengan tingkat polutan yang tinggi tiap harinya. Dengan kata lain, sembilan dari sepuluh orang secara global menghirup zat tingkat polutan yang tinggi. 

Hal yang perlu digarisbawahi, polusi udara enggak cuma berkaitan dengan batuk, sesak napas, atau gangguan pernapasan lainnya. Menurut badan kesehatan PBB, racun dari polusi udara juga bisa menyebabkan stroke dan kanker paru-paru. Singkat kata, polusi udara punya andil yang besar dalam memicu kerusakan fisik tubuh. 

Kini, problemnya tak terhenti di situ saja. Sebab menurut beberapa studi baru, ternyata polusi udara juga bisa memicu masalah psikis, khususnya pada anak-anak. Lho, kok bisa? 

Baca juga: Kenali Infeksi Saluran Pernapasan Akibat Polusi Udara

Paparan Jangka Pendek Tak Kalah Bahayanya

Polusi udara di beberapa kota-kota besar di Indonesia selalu membuat geleng-geleng kepala. Enggak percaya? Menurut AirVisual, situs penyedia peta polusi harian kota-kota besar di dunia, pada hari ini (09.05 WIB, 2 September), Jakarta menempati ranking ke-3. Boleh dibilang kondisi ini “membaik” dibandingkan pada 6 September 2019. Kala itu Jakarta sebagai kota besar dengan polusi udara terburuk kedua di dunia. 

Nah, kembali ke tajuk utama, benarkah polusi udara bisa memicu masalah kejiwaan pada anak? Ada studi menarik yang bisa kita simak menyoal hal ini. Studi dalam jurnal Environmental Health Perspectives mengatakan, polusi udara dapat memicu gangguan kejiwaan pada anak-anak. 

Menurut Cole Brokamp, penulis studi sekaligus peneliti di Cincinnati Children's Hospital di Ohio, Amerika Serikat, ada hal yang lebih mengkhawatirkan lagi. Ia dan koleganya menemukan bahwa paparan jangka pendek polusi udara, terkait dengan memburuknya gangguan kejiwaan pada anak satu hingga dua hari kemudian. 

Gangguan kejiwaan ini meliputi serangan kecemasan, depresi, bahkan meningkatkan keinginan untuk bunuh diri. Sangat mengkhawatirkan bukan? Studi di atas diolah lewat data yang dikumpulkan selama empat tahun, dari 2011 hingga 2015. Di dalamnya termasuk rincian dari 13.176 kunjungan anak ke rumah sakit untuk menemui psikiater. 

Belum Bisa Dibuktikan, tapi Berkaitan 

Menurut studi di atas, polusi udara yang berkaitan dengan lalu lintas menjadi pemicu utama dalam menyebabkan kecemasan pada anak. Bila diamati lebih jauh, anak-anak yang terpapar polusi udara memiliki konsentrasi myo-inositol yang tinggi dalam otak mereka. Kondisi ini menandakan respons neuroinflamasi terhadap polusi udara. Singkat kata, polusi udara dapat mengubah struktur otak anak-anak untuk membuat mereka lebih cemas.

Kalau sudah begini, maka timbul pertanyaan lanjutan. Kira-kira apa dampak kedepannya bagi anak bila kondisi ini terus berlangsung? Menurut studi di atas, paparan polusi udara selama awal kehidupan dan masa kanak-kanak, bisa memicu masalah kejiwaan yang serius. Mulai dari depresi, kecemasan, dan masalah kesehatan mental lainnya di masa remaja. 

Hal yang perlu ditegaskan, karena ini adalah penelitian observasional, para peneliti tidak dapat membuktikan kalau polusi udara benar-benar menjadi penyebab masalah kejiwaan pada anak. Akan tetapi, para ahli di atas sepakat bahwa kedua hal tersebut berkaitan dan dapat dihubungkan. 

Baca juga: 4 Pengaruh Polusi Udara Pada Kesehatan

Meningkatnya Risiko Bipolar 

Selain studi di atas, ada pula penelitian dari University of Chicago, Amerika Serikat, yang berpendapat senada. Menurut para ahli di sana, peningkatan depresi dan gangguan bipolar, dapat dikaitkan dengan kualitas udara yang buruk pada orang dewasa. Penelitian yang melibatkan Amerika Serikat dan Denmark itu, menunjukkan “hubungan signifikan” antara polusi dan gangguan kesehatan mental di kedua negara.

Studi yang dipublikasikan di PloS Biology menemukan, daerah dengan kualitas udara terburuk memiliki peningkatan 27 persen pada gangguan bipolar. Sementara itu, kualitas udara yang buruk bisa meningkatkan risiko terjadinya depresi sebesar enam persen, bila dibandingkan dengan mereka yang tinggal di daerah dengan kualitas udara yang baik. 

Baca juga: Polusi Udara Bisa Sebabkan Kemandulan?

Nah, seperti penjelasan di atas, paparan polusi udara di masa kanak-kanak, bisa memicu masalah kejiwaan yang serius. Maka, tak menutup kemungkinan kondisi ini dan sederet penyakit mental lainnya, bisa terjadi pada anak ketika dirinya beranjak dewasa. 

Mau tahu lebih jauh mengenai masalah di atas? Atau memiliki keluhan kesehatan lainnya? Kamu bisa kok bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa kapan dan di mana saja mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Referensi:

Air Visual. Diakses pada Oktober 2019. Explore The Air Quality Anywhere in The World.
Daily Mail. Diakses pada Oktober 2019. Spikes In Air Pollution 'Trigger Rises in The Number of Children Needing Emergency Hospital Treatment For Anxiety or Suicidal Thoughts'.
Daily Mail. Diakses pada Oktober 2019.Pollution Linked to Higher Risks of Depression, Bipolar Disorder and Schizophrenia, Study finds.
Deutsche Welle. Diakses pada Oktober 2019. Where Air Pollution Hits Hardest.