Ramai Cross-Hijabers, Tanda Transvestisme?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Ramai Cross-Hijabers, Tanda Transvestisme?

Halodoc, Jakarta – Fenomena cross-hijabers tengah menjadi sorotan, bahkan menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Cross-hijabers adalah istilah untuk menggambarkan sekelompok laki-laki yang mengenakan pakaian perempuan, yaitu hijab alias kerudung penutup kepala, dress, hingga cadar. Keberadaan kelompok ini mulai meresahkan, sebab belakangan diketahui beberapa cross-hijabers mulai memasuki ruang privat perempuan, seperti wc dan tempat ibadah. 

Berbagai kekhawatiran muncul di benak perempuan, termasuk kemungkinan adanya tindak kriminal atau pelecehan seksual yang bisa terjadi. Meski begitu, komunitas ini ternyata sudah cukup lama ada. Pria yang gemar mengenakan pakaian perempuan mengaku melakukan hal itu hanya karena menyukainya. Bicara soal orientasi seksual, para cross-hijabers mengaku sebagai heteroseksual alias masih menyukai perempuan. Belum diketahui motif di balik komunitas ini, tetapi viralnya cross-hijabers menuai kritik dan kecaman dari berbagai pihak. 

Baca juga: Disebut sebagai Orientasi Seksual Baru, Apa Itu Panseksual?

Bisa Jadi Tanda Transvestitisme 

Sebagian besar cross-hijabers mungkin hanya menjadikan kegiatan ini sebagai hobi. Pada dasarnya, melakukan crossdressing alias mengenakan pakaian lawan jenis bukanlah sebuah kelainan selama dilakukan sewajarnya. Lain cerita kalau pria mengenakan pakaian perempuan sebagai “aksesoris” seksual atau fantasi dalam berhubungan intim. Kalau itu yang terjadi, mungkin crossdressing yang dilakukan merupakan gejala dari transvestisme. Apa itu? 

Secara harfiah, transvestisme diartikan sebagai praktik atau perilaku mengadopsi gaya berpakaian atau peran seksual lawan jenis. Hal ini erat kaitannya dengan aktivitas seksual yang hanya bisa dipuaskan jika seseorang mengenakan pakaian tertentu. Transvestisme merupakan salah satu bentuk dari penyimpangan seksual. Kondisi ini juga disebut dengan istilah paraphilia atau parafilia. 

Transvestisme termasuk salah satu dari banyaknya gangguan jiwa. Gangguan ini menyebabkan seseorang di mana lebih sering laki-laki dibanding perempuan mengenakan pakaian lawan jenis, bahkan berdandan untuk menyerupainya. Hal itu dilakukan sebagai usaha untuk mendapatkan kepuasan seksual. Namun umumnya, pengidap gangguan ini merupakan heteroseksual. 

Baca juga: Ketahui Obsesi Seksual yang Dialami Pengidap OCD

Hingga kini, masih belum diketahui secara pasti mengapa seseorang bisa mengalami kondisi ini. Umumnya, kesukaan untuk melakukan crossdressing sudah ada sejak pengidapnya masih anak-anak atau remaja. Sebagian besar dari pengidap transvestisme mulanya hanya mencoba-coba, tetapi pada akhirnya menemukan kepuasan saat melakukan cross-dressing. Semakin dewasa, kebiasaan itu masih terus dilakukan, bahkan seakan menjadi keharusan. Uniknya, sebagian besar orang yang melakukan crossdressing tidak menyadari dan tidak mengetahui kenapa rasa senang itu bisa muncul. 

Seseorang bisa dinyatakan mengalami transvestisme saat mengalami gairah seksual yang kuat dan gigih saat berfantasi atau saat melakukan crossdressing. Fantasi dan keinginan tersebut setidaknya sudah berlangsung dalam waktu lama, setidaknya enam bulan dan memicu pengidapnya mengalami gejala disfungsi di bidang sosial atau pekerjaan. Pengidap kelainan ini juga sering merasa tertekan dan sangat terdorong untuk melakukan crossdressing saat berhubungan intim. 

Namun perlu diingat, transvestisme berbeda dengan transeksual atau transgender, yaitu kondisi di mana seseorang merasa terperangkap di tubuh lawan jenis dan ingin mengubah bentuk tubuh hingga jenis kelamin. Pengidap transvestisme tidak memiliki keinginan untuk mengubah kelamin. Meski begitu, transvestisme tetaplah bentuk dari penyimpangan dan tidak wajar. Segera lakukan pemeriksaan jika merasa mengalami gejala atau kelainan serupa. 

Baca juga: Ini yang Terjadi pada Tubuh Setelah Operasi Ganti Kelamin

Punya masalah kesehatan dan butuh saran dokter? Pakai aplikasi Halodoc saja. Kamu bisa dengan mudah menghubungi dokter melalui Video/Voice Call dan Chat. Dapatkan informasi seputar kesehatan dan tips hidup sehat dari dokter terpercaya. Yuk, download Halodoc sekarang di App Store dan Google Play!

Referensi:
Psychology Today. Diakses pada 2019. Transvestic Disorder.
NCBI. Diakses pada 2019. Transvestism as a Symptom: A Case Series.
Vocabulary. Diakses pada 2019. Transvestisme.
Livescience. Diakses pada 2019.  What Does 'Transgender' Mean?