• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Risiko Fibroid Rahim Bisa Dipengaruhi Faktor Genetik

Risiko Fibroid Rahim Bisa Dipengaruhi Faktor Genetik

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Risiko Fibroid Rahim Bisa Dipengaruhi Faktor Genetik

Halodoc, Jakarta - Fibroid rahim, atau yang akrab disapa dengan istilah mioma merupakan tumor non kanker yang tumbuh di dalam rahim. Jika tumor non kanker ini berukuran kecil, tidak akan ada gejala yang tampak. Namun, saat tumor membengkak, maka akan menyebabkan tekanan pada kandung kemih. Kondisi ini terjadi karena kadar hormon estrogen yang terlalu tinggi. Berikut sejumlah faktor risiko fibroid rahim!

Baca juga: Alami Fibroid Rahim Pengaruhi Kesuburan?

Sejumlah Faktor Risiko Fibroid Rahim

Penyakit ini dialami oleh wanita di berbagai usia, yang umumnya tidak menimbulkan gejala yang signifikan. Meningkatnya kadar hormon estrogen dalam tubuh menjadi penyebab utama fibroid rahim. Kondisi tersebut dapat terjadi karena sejumlah faktor risiko fibroid rahim. Berikut sejumlah faktor risiko tersebut salah satunya adalah faktor genetik yang diturunkan.

Faktor genetik dari orangtua atau perubahan genetik yang terjadi pada sel otot rahim memengaruhi adanya fibroid rahim pada seseorang. Kemungkinan akan menjadi semakin meningkat apabila memiliki keluarga dengan kondisi yang sama. Bukan hanya itu saja, berikut ini faktor risiko fibroid rahim lainnya:

1.Siklus Menstruasi

Saat memasuki siklus menstruasi, hormon dalam tubuh akan merangsang perkembangan lapisan dinding rahim guna mempersiapkan kehamilan. Nah, proses tersebut akan meningkatkan risiko munculnya sel abnormal dalam dinding rahim, yang kemudian akan menyusut setelah wanita memasuki masa menopause karena penurunan produksi hormon dalam tubuh.

2.Zat Asing

Insulin, yaitu zat yang membantu tubuh mempertahankan jaringan dapat menjadi salah satu faktor risiko fibroid rahim. Mioma uteri berkembang dari sel induk di jaringan otot polos rahim, karena salah satu sel membelah berulang kali, sehingga menciptakan massa atau tumor. Pembelahan dan pertumbuhan sel tersebut dapat terjadi dengan cepat atau lambat.

Meski terlihat membahayakan, tetapi dalam kasus yang ringan, tumor non kanker tersebut dapat menyusut dengan sendirinya. Dalam beberapa kasus yang terjadi, tumor non kanker akan hilang dengan sendirinya setelah kehamilan. Selain beberapa hal yang telah disebutkan, faktor risiko fibroid rahim lainnya adalah wanita yang berusia 30–50 tahun, kurang vitamin D, sering mengonsumsi alkohol dan daging merah, serta jarang mengonsumsi serat.

Baca juga: Bukan Kanker, Fibroid Rahim Tetap Butuh Tindakan Medis


Waspadai Sejumlah Gejala yang Tampak

Pada kebanyakan kasus, kemunculan jaringan abnormal pada rahim ini tidak disadari oleh wanita, karena tidak menimbulkan gejala apa pun. Gejala yang muncul akan tergantung pada lokasi, ukuran, serta jumlah sel tumor yang tumbuh. Berikut ini sejumlah gejala yang tampak:

  • Menstruasi dengan volume darah yang sangat banyak.
  • Menstruasi berlangsung lebih lama.
  • Mengalami nyeri panggul, karena tumor yang membesar dan menekan jaringan pada rahim.
  • Mengalami nyeri kaki atau sakit punggung.
  • Mengalami kesulitan dalam buang air kecil atau sering buang air kecil.
  • Mengalami masalah kesuburan.

Sebaiknya segera temui dokter di rumah sakit terdekat saat kamu mengalami sejumlah gejala, seperti nyeri panggul yang tak kunjung hilang, menstruasi yang menyakitkan dan berlangsung lama, pendarahan di luar siklus menstruasi, mengalami kesulitan buang air kecil, atau nyeri panggul yang tiba-tiba.

Baca juga: Usia Wanita yang Rentan Mengalami Fibroid Rahim

Fibroid rahim juga dapat diatasi dengan sejumlah perubahan gaya hidup menjadi lebih sehat, seperti menjaga berat badan ideal guna mencegah obesitas, menjaga pola makan sehat bergizi seimbang, menjaga tekanan darah tetap berada dalam batas normal, serta berolahraga secara teratur dengan intensitas ringan hingga sedang.

Referensi:
Medline Plus. Diakses pada 2020. Uterine Fibroids.
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Uterine fibroids.
Healthline. Diakses pada 2020. Shrinking Fibroids with Diet: Is It Possible?