• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Sakit Gigi pada Pengidap Diabetes, Kapan Sebaiknya ke Dokter Gigi?

Sakit Gigi pada Pengidap Diabetes, Kapan Sebaiknya ke Dokter Gigi?

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Sakit Gigi pada Pengidap Diabetes, Kapan Sebaiknya ke Dokter Gigi?

“Pengidap diabetes rentan mengalami sakit gigi. Hal itu karena gula darah yang tinggi bisa berdampak buruk pada kesehatan seluruh tubuh, termasuk gigi dan gusi. Kondisi ini tidak boleh disepelekan, karena sakit gigi akibat penyakit gusi yang parah bisa memperburuk diabetes. Dengan mengetahui kapan harus ke dokter gigi, pengidap diabetes bisa mendapatkan pengobatan yang tepat.”

Halodoc, Jakarta – Bila kamu mengidap diabetes, gula darah yang tinggi bisa berdampak buruk pada kesehatan tubuh secara keseluruhan, termasuk kesehatan gigi dan gusi. Itulah mengapa pengidap diabetes lebih berisiko mengalami sakit gigi yang bisa disebabkan oleh berbagai masalah kesehatan mulut, seperti gigi berlubang dan penyakit gusi. 

Risiko sakit gigi semakin meningkat bila kamu mengidap diabetes dan berusia 50 tahun ke atas. Hal itu karena masalah gigi dan usia sering kali berjalan seiring, apalagi bila ditambah dengan penyakit diabetes. Bagi pengidap diabetes, sakit gigi sebaiknya jangan disepelekan. Pasalnya, bila disebabkan oleh penyakit gusi yang parah, sakit gigi bisa memengaruhi kontrol gula darah dan berkontribusi pada perkembangan diabetes. Ketahui kapan pengidap diabetes sebaiknya ke dokter saat sakit gigi di sini.

Baca juga: 5 Efek Samping Diabetes yang Tidak Terduga

Penyebab Sakit Gigi pada Pengidap Diabetes

Berikut ini masalah kesehatan mulut yang sering menyerang pengidap diabetes dan menyebabkan sakit gigi:

  • Gigi Berlubang

Di dalam mulut, terdapat banyak jenis bakteri secara alami. Ketika gula dan pati dalam makanan dan minuman yang dikonsumsi berinteraksi dengan kumpulan bakteri ini, lapisan lengket yang dikenal sebagai plak akan terbentuk pada gigi.

Asam dalam plak kemudian akan menyerang permukaan gigi (enamel dan dentin)dan bisa menyebabkan gigi berlubang dan penyakit gusi. Semakin tinggi kadar gula darah kamu, maka semakin banyak kandungan gula dalam air liur, sehingga semakin banyak asam yang mengikis gigi.

  • Gingivitis

Diabetes mengurangi kemampuan untuk melawan bakteri. Bila kamu tidak menghilangkan plak dengan menyikat gigi dan flossing secara teratur, plak akan mengeras di bawah garis gusi menjadi zat yang disebut karang gigi.

Semakin lama plak dan karang gigi tertinggal di gigi, hal itu akan semakin mengiritasi bagian gusi di sekitar pangkal gigi, yang disebut gingiva. Lama kelamaan, gusi dapat menjadi bengkak dan mudah berdarah. Kondisi ini dikenal sebagai gingivitis.

Baca juga: Cara Membersihkan Karang Gigi untuk Pengidap Diabetes

  • Periodontitis (Penyakit Gusi Lanjut)

Bila tidak diobati, gingivitis bisa menyebabkan infeksi yang lebih serius yang disebut periodontitis. Penyakit ini bisa menghancurkan jaringan lunak dan tulang yang menopang gigi. Akhirnya, periodontitis menyebabkan gusi dan tulang rahang terlepas dari gigi, yang pada gilirannya menyebabkan gigi kamu kendur dan mungkin copot.

Periodontitis cenderung terjadi lebih parah di antara pengidap diabetes, karena diabetes menurunkan kemampuan tubuh untuk melawan infeksi dan memperlambat penyembuhan. Infeksi seperti periodontitis juga bisa menyebabkan kadar gula darah meningkat, yang pada gilirannya membuat diabetes lebih sulit dikendalikan.

Kapan Sebaiknya ke Dokter?

Mengingat pengidap diabetes rentan mengalami sejumlah masalah kesehatan mulut, kamu yang mengidap diabetes dianjurkan untuk pergi ke dokter gigi bila:

  • Mengalami perdarahan atau nyeri pada gusi.
  • Sering terkena infeksi.
  • Memiliki bau mulut yang tidak kunjung hilang.

Mengontrol kadar gula darah adalah kunci untuk menjaga kesehatan gigi dan gusi. Hal itu pada gilirannya juga akan membantu untuk mengelola diabetes.

Cara Mencegah Sakit Gigi

Selain mengontrol gula darah, ada beberapa cara yang juga bisa dilakukan untuk mencegah sakit gigi:

  • Sikat gigi setidaknya dua kali sehari, di pagi dan malam hari. Bila memungkinkan, sikat gigi juga setelah makan dan camilan. Gunakan lah sikat gigi berbulu lembut dan hindari menggosok dengan kuat dan keras, karena bisa mengiritasi gusi.
  • Lakukan flossing gigi setidaknya sekali sehari. Flossing bisa membantu menghilangkan plak di antara gigi dan di bawah garis gusi.
  • Kunjungi dokter gigi setidaknya dua kali setahun untuk mendapatkan pembersihan gigi secara profesional dan melakukan pemeriksaan.
  • Waspadai tanda-tanda awal penyakit gusi. Laporkan pada dokter gigi bila mengalami gusi kemerahan, bengkak dan berdarah. Sebutkan juga tanda dan gejala lainnya, seperti mulut kering, gigi goyang, dan sakit mulut.
  • Jangan merokok. Merokok bisa meningkatkan risiko komplikasi diabetes yang serius, termasuk penyakit gusi dan akhirnya, kehilangan gigi.

Baca juga: Bolehkah Pengidap Diabetes Memakai Behel Gigi?

Bila tidak memungkinkan untuk mengunjungi dokter gigi selama masa pandemi, kamu bisa membicarakan masalah kesehatan mulut pada dokter gigi terpercaya melalui aplikasi Halodoc. Melalui Video/Voice Call dan Chat, dokter gigi Halodoc siap membantu memberi saran kesehatan kapan saja dan di mana saja. Yuk, download aplikasinya sekarang juga.

Referensi:
WebMD. Diakses pada 2021. Diabetes: Keeping Your Mouth Healthy.
Mayo Clinic. Diakses pada 2021. Diabetes and dental care: Guide to a healthy mouth