Seks Tidak Sehat Bisa Sebabkan Kanker Mr P?

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
 kanker, seks tidak sehat

Halodoc, Jakarta - Gangguan kanker penis dapat terjadi akibat berkembang dan tumbuhnya sel kanker di bagian penis. Hal ini berawal saat sel sehat pada penis tumbuh tidak terkendali dan berubah menjadi sel kanker. Sel tersebut berkembang dan membentuk tumor. Apabila tidak diobati, sel kanker dapat menyebar ke daerah tubuh lainnya, seperti kelenjar getah bening.

Sebenarnya, belum diketahui secara persis apa yang menyebabkan berkembangnya kanker penis. Hanya saja, alat kelamin yang tidak disunat memungkinkan terjadinya kanker penis. Apabila urine terperangkap di kulup dan tidak dibersihkan, ini dapat berkontribusi pada pertumbuhan sel kanker. Sebab, pria yang terpapar dengan jenis human papillomavirus (HPV) tertentu, lebih mungkin terkena kanker penis.

Beberapa pria yang mungkin berpeluang lebih besar untuk terjangkit kanker ini adalah mereka yang memiliki faktor risiko meningkat peluangkan kanker penis, yaitu:

  • Usia. Kondisi ini rata-rata didiagnosis saat seseorang berusia 60 tahun. Meski begitu, kanker penis juga bisa ditemukan pada pria di bawah 40 tahun dan angkanya akan meningkat seiring bertambahnya usia. Misalnya pria di bawah 50 tahun berpeluang mengalami kondisi tersebut sekitar 1 banding 100.000. Di saat usianya mencapai 80 tahun, angkanya akan meningkat 9 kali lipat.

  • Tidak menjaga kebersihan diri dengan baik

  • Isu urbanisasi. Akibat kondisi ekonomi, kanker penis umum terjadi pada komunitas dengan layanan kesehatan yang kurang memadai, area dengan angka HIV. Angka HPV yang tinggi juga menunjukkan angka kanker penis yang tinggi. Walau mekanisme pada observasi ini masih tidak jelas, kondisi ini juga dapat disebabkan oleh faktor risiko gaya hidup seksual yang tidak sehat atau sering berganti pasangan

  • Perokok aktif.

  • Sering berganti pasangan, bahkan terindikasi memiliki penyakit menular seksual yang tidak ditangani dengan benar.

  • Sedang mengalami fimosis, yaitu kondisi kulup penis (kulit yang menutupi kepala penis dan mengerucut di ujungnya) tidak bisa ditarik ke belakang.

  • Perawatan psoriasis. Perawatan untuk psoriasis biasanya menggunakan obat yang bernama psoralen dan juga phototherapy. Pria yang pernah melakukan perawatan psoriasis memiliki risiko lebih tinggi terjangkit kanker penis.

  • Sunat. Pria yang tidak disunat akan memiliki risiko tinggi terkena kanker penis.

Baca juga: Kanker Serviks Bisa Menyebar Ke 6 Bagian Tubuh Ini

Tindakan pencegahan dapat kamu lakukan dengan menjauhi kebiasaan yang berisiko, misalnya dengan melakukan sunat. Ini dilakukan untuk mencegah penyebaran virus human papillomavirus (HPV) yang bisa menginfeksi penis. Terdapat beberapa jenis kanker penis yang umum terjadi, seperti:

  • Kanker penis skuamosa, yaitu kanker yang mulai menutupi permukaan penis. Jenis kanker ini sering terjadi pada pria dengan persentase 90 persen.

  • Karsinoma in situ (CIS), merupakan jenis kanker sel skuamosa tertentu. Artinya, kanker yang hanya mengenai sel-sel di kulit penis dan belum menyebar lebih dalam.

  • Adenokarsinoma, yaitu sel kanker yang dimulai pada sel glandular penis yang menghasilkan keringat.

  • Melanoma penis, yaitu sel kanker yang berkembang di sel kulit yang memberi warna kulit penis.

Baca juga: Mr. P Melengkung Ketika Ereksi, Waspada Gejala Kanker

Sedangkan gejala yang umum dialami pengidap kanker penis meliputi:

  • Smegma, umumnya mulai terbentuk pada beberapa hari pertama sejak kelahiran bayi pada bagian dalam kulit khatan.

  • Gatal (ruam).

  • Luka yang terasa, benjolan yang sakit atau tidak sakit dalam lipatan kulit khitan.

  • Pengidap lansia sering kali mengalami gejala ini tapa mengunjungi dokter, sehingga tumor menyerang lebih dalam dan menyebabkan polypoid (seperti lonceng).

Perawatan Mr P yang tidak tepat, tidak sesuai antibiotiknya, atau belum disunat berisiko menyebabkan kanker. Jika telah terbukti tapi tidak ditangani dengan tepat, kondisi tersebut dapat menyebabkan Carbuncle atau Anthrax (akibat Balanitis) serta ulkus nekrotik) setelah beberapa minggu. Kondisi yang sama dapat terjadi pada seseorang dengan gaya hidup seksual yang tidak aman, dan metastatis terjadi dengan cepat.

Jika pengidap tanpa fimosis tetapi mengalami gejala-gejala fimosis serta perdarahan, biasanya dapat terjadi saat Mr P ereksi di pagi hari atau saat berhubungan intim (kopulasi). Secara klinis, kanker uretra invasif sekunder adalah kasus yang jarang tapi ganas pada pria. Kondisi ini biasanya terjadi di sepanjang uretra, menyebabkan obstruksi dan hematuria, disuria, kebocoran urine, dan sebagainya.

Baca juga: 5 Fakta Mengenai Sunat yang Perlu Diketahui

Fitur klinis lainnya adalah ulkus penis terinfeksi-nekrotik, luka pada penis, lymphadenopathy, tanda-tanda fisik hepatomegali, atau gejala cachexia (linglung) mengindikasikan adanya penyakit metastatik atau kelainan metabolisme terkait, seperti hiperkalsemia.

Jika terdapat tanda-tanda dan gejala di atas yang terjadi pada kamu, atau kamu memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala tertentu, sebaiknya diskusikan segera dengan dokter melalui aplikasi Halodoc. Diskusi dengan dokter di Halodoc dapat dilakukan via Chat atau Voice/Video Call kapan dan di mana saja. Saran dokter dapat diterima dengan praktis dengan cara download aplikasi Halodoc di Google Play atau App Store sekarang juga.