• Home
  • /
  • Serangan Panik Bisa Muncul karena Trauma

Serangan Panik Bisa Muncul karena Trauma

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Serangan Panik Bisa Muncul karena Trauma

Halodoc, Jakarta - Panic attack atau serangan panik bukan sekadar rasa cemas, panik, dan gelisah biasa. Pengidapnya akan merasa panik setengah mati disertai berubahnya kondisi tubuh, seperti gemetaran, keringat bercucuran, bahkan sulit bernapas. Serangan panik ini melibatkan perasaan terteror tiba-tiba, yang bisa menyerang kapan saja, tanpa peringatan.

Ya, serangan panik bisa terjadi kapan saja, bahkan saat sedang tertidur. Pada beberapa kasus, pengidap serangan panik juga bisa merasa bahwa mereka mengalami serangan jantung, akan gila, atau mati. Hal ini juga diungkapkan oleh ahli dari Outpatient Behavioral Health Services di Henry Ford Hospital, Amerika Serikat, bahwa serangan panik bisa terjadi secara spontan dan bukan sebagai reaksi dari sebuah situasi yang penuh tekanan.

Baca juga: Sering Mudah Panik? Bisa Jadi Serangan Panik

Bisa Timbul Akibat Trauma

Hingga saat ini, para ahli belum bisa menjelaskan secara pasti penyebab timbulnya serangan panik pada diri seseorang. Namun, orang yang memiliki kerentanan biologis atau trauma, misalnya akibat adanya perubahan dalam hidup. Contohnya, seperti ketika akan memulai pekerjaan pertama, menikah, bercerai, memiliki anak di luar rencana, dan hal-hal traumatis lainnya.

Gaya hidup yang penuh stres juga diyakini bisa menjadi pemicu serangan panik. Bukan hanya itu, serangan panik juga bisa saja terjadi akibat kombinasi faktor internal dan eksternal. Misalnya, memiliki kecenderungan genetik untuk mudah cemas atau mengalami gangguan suasana hati. Nah, kecenderungan itu bisa berubah menjadi serangan panik saat diri sendiri menghadapi situasi yang tidak nyaman.

Meski beberapa kasus serangan panik bisa disebabkan oleh faktor-faktor tersebut, kondisi ini juga dikaitkan dengan peristiwa traumatis di masa lalu. Sebut saja pelecehan fisik atau seksual saat kanak-kanak, atau kecelakaan berat. Kilas balik peristiwa traumatis itu tentunya bisa membuat seseorang merasa cemas atau timbulnya rasa takut.

Baca juga: Gejala dari Serangan Panik yang Selama Ini Diabaikan

Selain hal-hal tadi, berikut beberapa faktor lainnya yang bisa memicu serangan panik:

  • Terjadinya perubahan atau ketidakseimbangan zat kimia di dalam otak, yang berdampak pada fungsinya.
  • Faktor genetik, seperti misalnya punya sejarah serangan panik di dalam keluarga.
  • Rasa stres berlebihan, misalnya karena kehilangan seseorang yang sangat berarti.
  • Memiliki temperamen yang sangat rentan terpengaruh oleh stres atau emosi negatif.
  • Merokok atau mengonsumsi kafein secara berlebihan.

Kenali Tanda-Tanda Serangan Panik

Hal yang perlu diketahui adalah serangan panik bisa muncul sesekali atau lebih sering. Lalu, bagaimana dengan gejalanya? Umumnya, gejala dari serangan panik ini biasanya muncul secara tiba-tiba, dan akan mencapai puncaknya hanya dalam hitungan menit. Meski pada kebanyakan kasus serangan panik hanya berlangsung selama 5-20 menit, ada juga yang bisa menyerang selama satu jam.

Baca juga: Inilah Bedanya Gejala Serangan Panik, Manik, dan Psikosis

Setelah serangan berakhir, pengidapnya akan cenderung merasa kelelahan. Berikut beberapa gejala yang umumnya timbul ketika serangan panik melanda seseorang:

  • Gemetaran.
  • Deg-degan dan gelisah.
  • Berkeringat secara berlebihan.
  • Kram perut.
  • Sakit dada.
  • Merasa adanya bahaya akan datang.
  • Takut kehilangan kendali atau takut mati.
  • Jantung berdetak cepat dan terasa keras.
  • Pusing atau pingsan.
  • Mual.
  • Timbul rasa sesak di tenggorokan dan sulit bernapas.
  • Merasa adanya kilatan hawa dingin atau panas yang menyerupai demam.
  • Timbulnya rasa terlepas dari tubuh dan merasa mengalami situasi yang tak nyata.
  • Mati rasa atau geli.

Jika kamu mengalami berbagai gejala tersebut, jangan disepelekan. Segera cari bantuan ahli, apalagi jika gejala serangan panik terjadi berulang. Daripada bingung, download saja aplikasi Halodoc untuk berbicara dengan psikolog lewat chat, atau buat janji dengan psikolog atau psikiater di rumah sakit.

Referensi:
NHS Choices UK. Diakses pada 2020. Panic Attacks.
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Diseases and Conditions. Panic Attacks and Panic Disorder.