28 March 2019

Serangan Panik Menyerang, Ini Dampaknya pada Tubuh

Serangan Panik Menyerang, Ini Dampaknya pada Tubuh

Halodoc, Jakarta – Serangan panik adalah kemunculan rasa takut atau gelisah berlebihan secara mendadak. Serangan panik ditandai dengan detak jantung bertambah cepat, sesak napas, pusing, otot menjadi tegang, atau gemetar. Serangan panik bisa berlangsung cepat atau lama. Jika terjadi berulang dalam jangka panjang, kondisi ini disebut gangguan panik.

Baca Juga: Ini Bedanya Serangan Jantung dan Serangan Panik

Seseorang berisiko mengidap serangan panik jika mengalami stres jangka panjang, suasana hati berubah ekstrem, mengalami trauma psikis, ada riwayat keluarga dengan kondisi serupa, serta konsumsi kafein dan alkohol berlebihan. Lantas, apa yang terjadi pada tubuh ketika serangan panik terjadi? Ini jawabannya.

Respons Tubuh Saat Muncul Serangan Panik

Ketika serangan panik muncul, otak memerintahkan sistem saraf untuk membuat respons melawan (fight) atau menghindar (flight). Kemudian tubuh menghasilkan zat kimia (adrenalin) yang memicu peningkatan detak jantung, frekuensi napas, dan aliran darah ke otot. Kondisi ini muncul sebagai tanda bahwa tubuh mempersiapkan diri untuk melawan atau menghindar dari situasi tertekan. Secara khusus, ini yang terjadi pada tubuh saat serangan panik muncul:

1. Perubahan Pola Napas

Pengidap serangan panik merasakan sesak napas, disebut hiperventilasi. Kondisi ini menyebabkan paru-paru mengambil lebih banyak oksigen dan mendistribusikannya ke seluruh tubuh dengan cepat. Banyaknya kadar oksigen membantu tubuh mempersiapkan respons melawan atau menghindar. Namun karena prosesnya berlangsung cepat, pengidap serangan panik merasakan sesak napas yang jika dibiarkan, berpotensi menyebabkan pusing hingga kehilangan kesadaran.

2. Respons Sistem Kardiovaskular

Serangan panik mengubah ritme jantung dan sirkulasi darah ke seluruh tubuh. Sebenarnya denyut jantung yang cepat membantu respons melawan atau menghindar, termasuk membantu distribusi darah kaya oksigen dan nutrisi ke otot-otot tubuh. Ketika pembuluh darah menyempit (vasokontriksi), pengidap serangan panik berpotensi merasakan sensasi terbakar (hot flashes).

Baca Juga: Gejala dari Serangan Panik yang Selama Ini Diabaikan

3. Pengaruhi Sistem Imun

Dalam jangka pendek, serangan panik bisa meningkatkan sistem imun tubuh. Pasalnya saat terjadi serangan panik, hormon stres (kortisol) mencegah pelepasan substansi penyebab peradangan sehingga membantu sistem imun melawan infeksi. Jika terjadi dalam jangka panjang, serangan panik berdampak sebaliknya. Kondisi ini ditandai dengan demam dan flu.

4. Perubahan Fungsi Pencernaan

Hormon stres (adrenalin) yang terbentuk ketika serangan panik berfungsi menurunkan tekanan darah dan merilekskan otot-otot perut. Alhasil, pengidap serangan panik berpotensi mengalami mual, diare, dan kehilangan nafsu makan.

5. Respons Sistem Saluran Kemih

Stres dan serangan panik meningkatkan keinginan berkemih. Gejala ini sering dialami oleh pengidap fobia tertentu. Maka itu, enggak heran jika seseorang yang gugup atau panik mendadak ingin buang air kecil.

Baca Juga: 3 Cara Ampuh Mengatasi Serangan Panik

Itulah dampak serangan panik pada tubuh yang perlu diketahui. Kalau kamu sering merasa panik tanpa sebab, jangan ragu berdiskusi dengan psikolog atau psikiater Halodoc. Kamu bisa menggunakan fitur Talk to A Doctor yang ada di aplikasi Halodoc untuk menghubungi psikolog atau psikiater kapan saja dan di mana saja via Chat, dan Voice/Video Call. Yuk, segera download aplikasi Halodoc di App Store atau Google Play!