• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Siapa Saja Kelompok Orang yang Berisiko Alami Hipotermia?

Siapa Saja Kelompok Orang yang Berisiko Alami Hipotermia?

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
undefined

Halodoc, Jakarta - Pernah dengar tentang hipotermia? Istilah ini digunakan untuk menjelaskan kondisi ketika temperatur tubuh berada di bawah normal atau sangat rendah. Normalnya, suhu tubuh manusia berkisar 36-37 derajat Celsius. Namun, orang yang mengalami hipotermia memiliki suhu tubuh di bawah 35 derajat Celsius. 


Apakah ini kondisi darurat? Jelas, iya. Jika tubuh kehilangan suhu panas lebih cepat dibanding produksinya, jantung, sistem saraf, dan organ lain tidak dapat bekerja dengan baik. Fatalnya, kondisi ini bisa membahayakan nyawa.


Baca juga: Berenang Terlalu Lama, bisa Sebabkan Hipotermia?



Orang yang Berisiko Alami Hipotermia

Hipotermia dapat terjadi pada siapa saja, yang mengalami penurunan suhu panas tubuh lebih cepat dari yang dihasilkannya. Penyebab umum dari kondisi ini adalah paparan cuaca atau air yang terlalu dingin. Secara spesifik, beberapa kondisi yang bisa jadi penyebab hipotermia seperti tidak mengenakan pakaian yang cukup hangat, berada di area dengan suhu dingin terlalu lama, atau mengenakan pakaian basah terlalu lama. 


Selama paparan suhu dingin, tubuh akan kehilangan panas melalui kulit dan embusan napas. Kehilangan panas melalui kulit terjadi ketika kulit terkena angin atau kelembapan. Jika terpapar dingin karena direndam dalam air dingin, kehilangan panas bisa terjadi 25 kali lebih cepat, dibanding ketika terpapar pada suhu udara yang sama. 


Meski bisa terjadi pada siapa saja, ada beberapa kelompok orang yang lebih berisiko mengalami hipotermia, yaitu:


  1. Orang yang kelelahan. Kelelahan dapat menurunkan toleransi tubuh kamu terhadap suhu dingin.
  2. Orang berusia lanjut. Seiring bertambahnya usia, kemampuan tubuh untuk mengatur suhu dan merasakan dingin akan berkurang.
  3. Anak-anak. Dibanding orang dewasa, anak-anak lebih cepat kehilangan panas tubuh. Selain itu, anak-anak juga mungkin tidak terlalu memiliki kesadaran untuk berpakaian dengan tepat dalam cuaca dingin. 
  4. Orang dengan gangguan mental. Orang dalam kelompok ini cenderung tidak memahami risiko cuaca dingin. Mereka bisa saja berkeliaran di luar rumah atau tersesat dengan mudah, atau bahkan terdampar di cuaca dingin dan basah.
  5. Pecandu alkohol dan obat-obatan terlarang. Alkohol dapat membuat tubuh terasa hangat. Namun, di sisi lain juga dapat membuat pembuluh darah mengembang, hingga kehilangan panas lebih cepat. Bahkan, respon menggigil alami tubuh cenderung berkurang pada orang yang minum alkohol. Sementara itu, penggunaan obat-obatan terlarang dapat membuat seseorang tidak bisa berpikir logis. 
  6. Pengidap kondisi kesehatan tertentu. Beberapa kondisi kesehatan dapat memengaruhi kemampuan tubuh mengatur suhu. Misalnya, hipotiroidisme, gizi buruk, diabetes, stroke, artritis, penyakit Parkinson, dan cedera tulang belakang.
  7. Orang yang mengonsumsi obat-obatan tertentu. Misalnya obat antidepresan tertentu, antipsikotik, obat pereda nyeri narkotika, dan obat penenang.


Baca juga: Berakibat Fatal, Hipotermia Tidak Bisa Diatasi dengan Hubungan Intim

Itulah kelompok orang yang lebih berisiko mengalami hipotermia. Tidak memiliki faktor-faktor tersebut bukan berarti kamu tidak bisa terkena kondisi ini. Jika ingin mengetahui lebih lanjut tentang faktor risiko hipotermia, kamu bisa download aplikasi Halodoc untuk bertanya pada dokter, kapan dan di mana saja.



Bagaimana Gejala Hipotermia?

Gejala awal yang dapat dialami ketika terjadi hipotermia adalah menggigil karena suhu tubuh mulai turun. Hal ini sebenarnya merupakan reaksi pertahanan tubuh terhadap suhu dingin, sebagai upaya untuk menghangatkan diri. Selain itu, gejala lain yang dapat dialami adalah bibir berwarna kebiruan, merinding, dan tidak bisa menghangatkan diri. 


Secara lebih spesifik, gejala hipotermia dibedakan menjadi beberapa tahapan, yaitu ringan, sedang, dan parah. Gejala hipotermia ringan terjadi ketika suhu tubuh berkisar 32,2-35 derajat Celsius, tekanan darah tinggi, menggigil, detak jantung dan pernapasan cepat, pembuluh darah menyempit, kelelahan, dan kurang koordinasi. 


Baca juga: Rentan Menyerang Pendaki Gunung, 5 Cara Mencegah Hipotermia


Sementara itu, gejala hipotermia sedang adalah suhu tubuh sebesar 28-32,2 derajat Celsius, detak jantung tidak teratur, tingkat kesadaran lebih rendah, pupil melebar, tekanan darah rendah, dan penurunan refleks. Lalu, gejala hipotermia parah adalah suhu tubuh kurang dari 28 derajat Celsius, susah bernapas, pupil tidak reaktif, gagal jantung, edema paru, dan jantung berhenti. 


Seiring dengan turunnya suhu tubuh, pengidap hipotermia akan berhenti menggigil dan akan menjadi bingung, mengantuk, dan kaku. Ia akan berbicara cadel, bergumam, dan gagap. Diiringi dengan denyut jantung yang melemah dan menjadi tidak teratur. Jika dibiarkan akan ada risiko komplikasi berupa frostbite, gangrene, chilblain dan trench foot.


Kamu membutuhkan penanganan darurat saat mengalami gejala hipotermia. Terutama jika memiliki kondisi kesehatan yang buruk seperti diabetes dengan hipotermia, segera cari pertolongan medis terdekat.



Referensi:
Medical News Today. Diakses pada 2020. Hypothermia: Symptoms, treatment, and stages.
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Hypothermia - Symptoms and causes.
WebMD. Diakses pada 2020. Hypothermia.