Sindrom Cotard, Gangguan Mental seperti Mayat Berjalan

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Sindrom Cotard, Gangguan Mental seperti Mayat Berjalan

Halodoc, Jakarta – Sindrom cotard adalah kondisi langka yang ditandai oleh keyakinan keliru bahwa kamu atau bagian tubuhmu mati sebagian atau sedang sekarat, padahal sebenarnya tidak ada.

Biasanya ini terjadi diiringi dengan kondisi depresi berat dan beberapa gangguan psikotik. Sindrom cotard juga dapat disertai dengan penyakit mental dan kondisi neurologis tertentu. Sindrom ini juga dikenal sebagai sindrom mayat berjalan. Informasi selengkapnya mengenai sindrom cotard ada di bawah ini!

Mengenal Sindrom Cotard

Salah satu gejala utama dari sindrom cotard adalah khayalan kalau dirinya seolah-olah mati atau akan membusuk. Dalam beberapa kasus, pengidap sindrom cotard kerap menganggap kalau dirinya tidak pernah ada. 

Baca juga: Agar Otak Tetap Cemerlang, Ingat Konsumsi Ini

Depresi juga terkait erat dengan sindrom cotard. Beberapa gejala dari sindrom cotard adalah: 

  1. Kegelisahan.

  2. Halusinasi.

  3. Kemurungan.

  4. Keasyikan melukai diri sendiri atau bahkan berpikir untuk mati.

Mereka yang Berisiko Mengidap Sindrom Cotard

Menurut data kesehatan yang dipublikasikan oleh Researchgate, disebutkan kalau usia rata-rata orang dengan sindrom cotard adalah sekira 50 tahun—walaupun tidak menutup kemungkinan juga bisa terjadi pada anak-anak dan remaja. 

Orang di bawah usia 25 tahun yang mengidap sindrom cotard umumnya cenderung mengalami depresi bipolar. Pun, dalam penelitian yang sama mengungkapkan kalau perempuan tampaknya lebih mungkin mengembangkan sindrom ini.

Baca juga: Apa yang Harus Dilakukan setelah Pemeriksaan EEG?

Selain itu, sindrom ini juga lebih sering terjadi pada orang-orang yang menganggap karakteristik pribadi mereka tercipta karena lingkungan. Tadi sudah disinggung bagaimana kondisi kesehatan bipolar juga menjadi pemicu terjadinya sindrom cotard ini. Selain itu, ada beberapa kondisi lainnya seperti:

  1. Depresi pascapersalinan.

  2. Katatonia.

  3. Gangguan depersonalisasi.

  4. Gangguan disosiatif.

  5. Depresi psikotik.

  6. Skizofrenia.

Selain beberapa kondisi mental yang disebutkan tadi, sindrom cotard juga tampaknya dikaitkan kondisi neurologis tertentu, termasuk infeksi otak, tumor otak, demensia, epilepsi, migraine, multiple sclerosis, penyakit parkinson, pukulan, dan cedera otak traumatis.

Sulit Mendiagnosis Sindrom Cotard

Mendiagnosis sindrom cotard sedikit sulit. Dalam kebanyakan kasus, kondisi ini hanya didiagnosis setelah kondisi lain muncul. Jika kamu berpikir kamu mengalami sindrom cotard, cobalah membuat jurnal dari gejala tersebut. 

Caranya dengan mencatat kapan itu terjadi dan berapa lama gejala itu bertahan. Sejatinya, informasi ini dapat membantu dokter mempersempit kemungkinan penyebab. Perlu diingat bahwa sindrom cotard biasanya terjadi bersamaan dengan penyakit mental lainnya, sehingga kamu mungkin menerima lebih dari satu diagnosis.

Sindrom cotard biasanya terjadi dengan kondisi lain, sehingga pilihan perawatan dapat sangat bervariasi. Terapi electroconvulsive (ECT) adalah pengobatan yang paling umum digunakan. Ini juga merupakan pengobatan umum untuk depresi berat. 

ECT melibatkan mengalirkan arus listrik kecil melalui otak untuk membuat kejang kecil saat pengidapnya berada di bawah pengaruh bius total. Namun, ECT memang mengandung beberapa risiko potensial, termasuk kehilangan ingatan, kebingungan, mual, dan nyeri otot. 

Ini adalah sebagian alasan mengapa perawatan ini biasanya hanya dipertimbangkan setelah opsi lain tidak bisa dilakukan. Opsi lain tersebut adalah konsumsi obat antidepresan, antipsikotik. penstabil suasana hati, psikoterapi, dan terapi perilaku. 

Butuh informasi lebih lengkap mengenai sindrom cotard ataupun penyakit lainnya, dapat ditanyakan langsung di HalodocDokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.

Referensi:

ResearchGate. Diakses pada 2020. Cotard's syndrome.
Healthline. Diakses pada 2020. Cotard Delusion and Walking Corpse Syndrome.