Singapura Larang Minuman Manis, Ini 5 Bahayanya

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
singapura-larang-minuman-manis-ini-5-bahayanya-halodoc

Halodoc, Jakarta - Siapa yang tidak suka dengan minuman manis? Mulai dari soda, jus dalam kemasan, hingga es kopi kekinian semuanya memiliki penggemar. Sayangnya, berbagai masalah kesehatan dapat disebabkan oleh minuman tersebut. Hal ini yang membuat Singapura baru saja menerapkan larangan iklan minuman manis untuk tayang. Larangan ini dilakukan untuk memerangi tingginya risiko diabetes yang mengancam warga Singapura. 

Selain diabetes, tentu berbagai bahaya dapat timbul dari minuman manis. Jangan sampai kamu mengonsumsi minuman manis berlebihan. Yuk, ketahui bahayanya di sini!

Baca juga: 6 Jenis Minuman Tidak Sehat yang Sebaiknya Dihindari

Menyebabkan Obesitas

Konsumsi berlebihan minuman manis, sama saja dengan menambah berat badan. Minuman manis seperti minuman berkarbonasi mengandung sekitar 240 kalori. Sayangnya, jumlah kalori sebanyak itu tidak akan membuat kamu kenyang. Jika konsumsi minuman manis disertai dengan makanan siap saji yang juga mengandung kalori tinggi, maka akan menyebabkan lemak pada tubuh meningkat. Obesitas akan terjadi jika konsumsi kalori tinggi dilakukan terus-menerus. Umumnya, meningkatnya berat badan akan terlihat secara signifikan dalam kurun waktu 4 tahun. Konsumsi minuman manis juga akan lebih berbahaya bagi anak-anak terutama yang masih dalam tahap pertumbuhan.

Kerusakan Hati

Minuman manis memiliki kandungan glukosa dan fruktosa yang tinggi. Jika konsumsi dilakukan secara berlebihan, dapat menimbulkan kerusakan organ hati. Penyebab utamanya adalah penumpukan lemak pada hati. kandungan fruktosa hanya dapat diproses oleh organ hati untuk dijadikan lemak. Jika konsumsi dilakukan secara rutin dan tidak disertai dengan olahraga, berbagai kondisi kesehatan dan komplikasi dapat muncul. 

Jika kamu merasakan rasa sakit atau nyeri pada bagian perut, segeralah bicara dengan dokter di Halodoc, sebelum gejala makin parah.

Kerusakan Gigi

Kandungan gula yang tinggi meningkatkan kotoran pada gigi yang dapat membentuk karang gigi, plak, hingga akhirnya menimbulkan gigi berlubang. Pada minuman berkarbonasi, kandungan asam fosfat dan asam karbonat yang tinggi bersifat asam pada mulut. Jika dikonsumsi berlebihan, dan kurang memperhatikan kebersihan gigi, pembusukan pada gigi dapat terjadi. 

Sementara, es kopi dengan tambahan susu dan pemanis juga dapat merusak gigi. Hal ini disebabkan oleh paparan gula dan susu secara konstan akan membuat gula dan asam yang diproduksi oleh bakteri pada mulut, sulit dilawan oleh air liur. Padahal, air liur atau ludah berperan untuk melindungi gigi. 

Baca juga: Bahaya, Ini Akibatnya Jika Minum Soda Setiap Hari

Memicu Asam Urat

Asam urat tidak hanya disebabkan oleh konsumsi garam dan purin secara berlebihan. Penyakit ini juga dapat disebabkan oleh konsumsi gula yang berlebihan. Seseorang yang rajin mengonsumsi minuman manis seperti minuman kemasan atau soda, dipercaya memiliki risiko asam urat yang lebih tinggi dibanding mereka yang jarang mengonsumsi minuman manis.

Risiko Penyakit Meningkat

Minuman manis seperti soda, jus kemasan, dan minuman energi dapat meningkatkan risiko diabetes. Tak hanya itu, kandungan kimia berbahaya dan pengawet yang tinggi juga dapat memicu berbagai jenis penyakit kanker seperti kanker pankreas, kanker ginjal, dll. Selain itu, berbagai macam penyakit kardiovaskuler juga dapat timbul akibat kandungan gula yang terlalu tinggi dalam tubuh. Untuk itu, konsumsi minuman manis secara berlebihan sangatlah tidak dianjurkan. 

Baca juga: Penggemar Kopi, Ini yang Perlu Diketahui tentang Green Coffee

Mengonsumsi minuman manis sebenarnya boleh saja dilakukan sesekali, asal jangan berlebihan. Kamu dapat mengganti minuman manis kemasan dengan minuman buatan sendiri dan menggunakan pemanis alami seperti madu. Selain lebih aman, madu juga memiliki manfaat bagi kesehatan tubuh. 

Referensi: 

Hsph.harvard.edu. Diakses pada 2019. Sugary Drinks
Webmd.com. Diakses pada 2019. Sugary Drinks and Juices Increase Early Death Risk