12 February 2019

Kenali Splenomegali, Gejala dari Malaria Kronis yang Perlu Diketahui

splenomegali gejala dari malaria kronis

Halodoc, Jakarta – Splenomegali adalah kondisi di mana terjadi pembesaran organ limfa. Kondisi tersebut bisa disebabkan oleh sejumlah penyakit atau infeksi, salah satunya malaria kronis. Limpa yang membesar sebaiknya segera diobati, karena limpa bisa pecah sewaktu-waktu dan menyebabkan perdarahan hebat yang bisa berujung pada kematian. Jadi, kenali gejala splenomegali di sini agar kamu bisa segera minta pertolongan dari dokter.

Apa Itu Splenomegali?

Limfa adalah organ yang terletak di dalam rongga perut, tepatnya di bawah tulang rusuk sebelah kiri. Organ ini berfungsi untuk menyaring dan menghancurkan sel darah yang rusak dari sel darah yang sehat, menyimpan cadangan sel darah merah dan trombosit, serta mencegah infeksi dengan menghasilkan sel darah putih yang bisa menjadi pelindung pertama dari organisme penyebab penyakit.

Normalnya, limpa hanya berukuran 11–20 sentimeter dan memiliki bobot sampai 500 gram. Tapi, pada kasus splenomegali, limfa bisa membesar hingga lebih dari 20 sentimeter dengan berat mencapai 1 kilogram. Kondisi ini bisa menyebabkan fungsi limfa terganggu.

Baca juga: Inilah yang Terjadi pada Tubuh ketika Mengalami Splenomegali

Penyebab Splenomegali

Splenomegali bisa disebabkan oleh berbagai macam infeksi, mulai dari infeksi virus, seperti mononukleosis, infeksi parasit, seperti malaria, sampai infeksi bakteri, contohnya sifilis atau endokarditis. Selain itu, kondisi yang berkaitan dengan organ hati seperti sirosis atau cystic fibrosis juga bisa menyebabkan pembesaran limfa.

Berbagai jenis kanker, seperti leukemia, limfoma (kanker kelenjar getah bening), dan kanker yang sudah menyebar ke limfa juga bisa menjadi penyebab splenomegali. Tidak hanya infeksi, sejumlah penyakit juga bisa menyebabkan splenomegali, antara lain penyakit gangguan metabolik seperti penyakit Gaucher, penyakit peradangan seperti lupus dan sarkoidosis, gagal ginjal, kelainan sel darah, tumor, dan penyakit degenerasi. Bahkan, mengalami cedera, misalnya terbentur saat olahraga juga bisa menyebabkan organ limfa membesar.

Mengetahui apa yang menjadi penyebab splenomegali sangat penting, karena cara untuk mengobati pembesaran limfa tersebut adalah dengan mengatasi penyebabnya.

Waspadai Gejala Splenomegali

Splenomegali seringkali tidak menunjukkan gejala apapun. Tapi, bila menunjukkan gejala, umumnya gejala splenomegali, antara lain:

  • Nyeri di perut kiri atas dan dapat menyebar hingga ke bahu kiri.

  • Cepat merasa kenyang walaupun hanya makan sedikit. Ini terjadi akibat lambung terdesak oleh limfa yang membesar.

  • Anemia.

  • Kelelahan.

  • Berat badan menurun.

  • Mudah mengalami perdarahan.

  • Kulit dan mata menguning.

Bila nyeri perut di area perut kiri atas semakin hebat dan bertambah buruk saat bernapas, sebaiknya segera kunjungi dokter.

Baca juga: Apa yang Bikin Tubuh Sering Terasa Cepat Lelah?

Pengobatan Splenomegali

Pengobatan yang diberikan kepada tiap pengidap splenomegali bisa berbeda-beda tergantung penyebabnya. Misalnya, untuk mengobati splenomegali yang disebabkan oleh bakteri, dokter biasanya akan meresepkan antibiotik. Tapi, bila splenomegali tidak diketahui penyebabnya dan juga tidak menimbulkan gejala, maka dokter perlu melakukan evaluasi lebih lama dengan menunggu sambil memantau perkembangan kondisi pengidap.

Bagi pengidap splenomegali yang sudah mengalami komplikasi serius, namun masih belum diketahui penyebabnya, dokter akan melakukan bedah pengangkatan limfa atau splenektomi. Pengidap yang limpanya sudah diangkat dapat tetap beraktivitas dengan normal. Hanya saja, pengidap akan lebih mudah terserang infeksi yang membahayakan nyawa.

Tapi, risiko pengidap yang telah menjalani splenektomi untuk terserang infeksi dapat dikurangi dengan beberapa cara berikut:

  • Minum antibiotik setelah operasi atau bila merasakan gejala infeksi.

  • Lebih waspada saat mengalami demam, karena demam bisa menjadi pertanda adanya infeksi.

  • Dapatkan vaksinasi berikut, vaksin pneumococcal (diberikan tiap 5 tahun sejak menjalani operasi), meningococcal, dan haemophilus influenzae tipe B. Vaksin tersebut bisa melindungi pengidap dari pneumonia, meningitis serta infeksi pada tulang, sendi, dan darah.

  • Hindari berkunjung ke daerah yang memiliki tingkat penyebaran suatu penyakit yang tinggi, misalnya malaria.

Baca juga: Hobi Traveling? Waspada Penyakit Malaria

Itulah sedikit penjelasan mengenai splenomegali. Bila kamu mengalami gejala-gejala splenomegali seperti di atas, coba tanyakan kepada dokter lewat aplikasi Halodoc. Melalui Video/Voice Call dan Chat, kamu bisa berdiskusi dan minta saran kesehatan dengan dokter kapan saja dan di mana saja. Yuk, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play.