Spondylosis Dapat Terjadi pada 3 Bagian Tulang Ini

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Spondylosis Dapat Terjadi pada 3 Bagian Tulang Ini

Halodoc, Jakarta - Seiring bertambahnya usia atau karena kondisi medis tertentu, tulang belakang bisa mengalami degenerasi, seperti misalnya taji tulang atau degenerasi piringan antar tulang belakang. Kondisi degenerasi tulang belakang ini dalam dunia medis disebut dengan spondylosis. 

Meski disebut ‘degenerasi tulang belakang’, spondylosis dapat terjadi pada 3 bagian tulang, yaitu tulang belakang cervical (leher), thoracic (bagian atas dan tengah punggung), dan lumbar (bagian bawah punggung). Dari ketiga bagian tulang tersebut, spondylosis paling sering terjadi pada bagian cervical (spondilosis servikal) dan lumbar (spondilosis lumbar). 

Gejala umum yang biasanya dialami oleh pengidap spondilosis adalah:

  • Kaku atau nyeri pada leher atau punggung. Biasanya, rasa tidak nyaman pada punggung mereda saat berbaring.

  • Kelemahan atau mati rasa pada kaki atau tangan jika kondisi cukup parah untuk memengaruhi saraf tulang belakang.

  • Nyeri pada bahu.

  • Sakit kepala.

Baca juga: Kenali Spondylosis, Penyakit yang Menyerang Tulang Belakang

Jika kamu mengalami berbagai gejala tersebut, jangan ragu untuk mendiskusikannya dengan dokter, supaya penanganan bisa dilakukan sesegera mungkin. Sekarang, diskusi dengan dokter spesialis yang kamu inginkan juga bisa dilakukan di aplikasi Halodoc, lho. Lewat fitur Talk to a Doctor, kamu bisa obrolkan langsung gejalamu melalui Chat atau Voice/Video Call.

Bagaimana Seseorang Bisa Terkena Spondylosis?

Spondylosis umumnya terjadi karena faktor usia. Sebab, semakin bertambahnya usia, tulang dan ligamen pada tulang belakang akan melemah, lalu menyebabkan taji tulang (osteoarthritis). Piringan intervertebrata mengalami degenerasi dan melemah, menyebabkan hernia dan penonjolan pada piringan. Akibatnya, seseorang dapat mengalami beberapa gejala spondylosis.

Selain usia, risiko spondylosis juga dapat meningkat karena beberapa hal, yaitu:

  • Jenis kelamin. Untuk orang di bawah 45 tahun, spondylosis lebih umum terjadi pada pria. Setelah usia 45 tahun, lebih sering ditemukan pada wanita.

  • Kelebihan berat badan.

  • Cedera atau trauma pada sendi.

  • Predisposisi genetik.

  • Orang yang memiliki pekerjaan atau berolahraga yang memberikan stres berulang pada sendi tertentu.

Baca juga: Sendi Sering Sakit, Coba Cek Gejala Arthritis

Diagnosis dan Pengobatan Spondylosis

Untuk mendiagnosis spondylosis, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan fisik, dan beberapa tes penunjang, seperti:

  • X-ray. Dilakukan untuk melihat kerusakan pada tulang, taji tulang dan terkikisnya tulang rawan atau piringan. Namun, X-ray tidak dapat menunjukkan kerusakan awal pada tulang rawan.

  • Tes darah untuk mengeliminasi penyakit lain.

  • Magnetic resonance imaging (MRI) untuk menunjukkan kemungkinan kerusakan pada piringan atau penyempitan area dimana saraf tulang belakang berakhir.

Untuk melakukan pemeriksaan, kini kamu bisa langsung buat janji dengan dokter di rumah sakit melalui aplikasi Halodoc, lho. Jadi, pastikan kamu sudah download aplikasinya di ponselmu, ya.

Kemudian setelah diagnosis dipastikan, dokter akan merekomendasikan beberapa perawatan awal seperti penurunan berat badan jika diperlukan dan menjaga berat badan tetap ideal, serta olahraga. 

Beberapa olahraga yang terkait dengan perawatan spondylosis meliputi berenang, berjalan dan aerobik air. Olahraga dapat digolongkan menjadi beberapa kategori berikut:

  • Latihan penguatan. Latihan ini bertujuan untuk memperkuat otot yang menyokong sendi, melibatkan resistensi dengan penggunaan beban atau gelang karet.

  • Latihan aerobik. Latihan ini memperkuat jantung dan sistem peredaran.

  • Latihan range-of-motion. Latihan ini meningkatkan fleksibilitas tubuh.

  • Periode istirahat pada keseluruhan perawatan diperlukan. Namun, bed rest, splints, bracing, atau traction untuk jangka panjang tidak direkomendasikan.

Baca juga: Kenali 4 Jenis Gangguan Sendi dan Tulang

Selain olahraga, ada berbagai perawatan non-obat yang tersedia untuk spondylosis, seperti:

  • Pijat.

  • Akupunktur.

  • Kompres hangat atau dingin, dengan meletakan es atau kompres hangat pada sendi (periksakan dengan dokter kombinasi apa yang paling tepat).

  • Transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS) menggunakan perangkat kecil yang menghasilkan denyut elektrik pada area yang terpengaruh.

  • Suplemen gizi.