• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Susu Murni Memperparah Maag, Apa Benar?

Susu Murni Memperparah Maag, Apa Benar?

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
undefined

Halodoc, Jakarta - Selain rasanya yang enak, susu murni juga menyehatkan. Namun, banyak yang beranggapan bahwa susu memperparah maag, termasuk susu murni. Perlu diketahui bahwa maag merupakan sekumpulan gejala tak nyaman pada perut sebagai akibat dari gangguan pencernaan.

Pengidap maag memang perlu lebih cermat dalam memilih jenis makanan dan minuman yang dikonsumsi untuk mencegah gejalanya kambuh. Lantas, apakah benar mengonsumsi susu murni dapat memperparah maag? Yuk, simak pembahasannya berikut ini! 

Baca juga: Begini Aturan Berpuasa Sehat untuk Pengidap Maag

Ada Kemungkinan Susu Memperparah Maag

Susu murni mengandung banyak nutrisi penting yang dibutuhkan tubuh, termasuk kalori, kalsium, protein, dan lemak. Saat mengalami kekambuhan, pengidap maag merasakan berbagai gejala seperti sakit perut, mual, dan kembung.

Pada lambung, asam yang diproduksi berfungsi untuk memproses makanan yang masuk dan melawan bakteri. Orang yang mengidap penyakit maag memiliki kandungan asam di lambung yang terlalu banyak. Akibatnya, gejala nyeri pada ulu hati pun akan timbul.

Lantas, apakah mengonsumsi susu murni dapat memperparah maag? Bisa jadi iya. Sebab, protein seperti yang terkandung dalam susu, dapat merangsang produksi hormon gastrin. Hormon tersebut dapat meningkatkan produksi asam lambung, sehingga bisa memicu gejala maag. 

Namun, di sisi lain, gastrin meningkatkan gerakan otot sfingter dan mempercepat pengosongan lambung. Hal ini dapat mencegah asam lambung naik kembali ke kerongkongan. Jadi, sebenarnya belum dapat diketahui secara pasti apakah protein dalam susu memperparah maag atau justru meringankannya, jika terkait dengan protein.

Baca juga: 5 Pilihan Minuman Sehat untuk Mengurangi Gejala Asam Lambung

Meski begitu, kandungan nutrisi dalam susu tidak hanya protein saja. Melainkan juga ada lemak, yang perlu diwaspadai oleh pengidap maag. Dalam satu gelas susu atau sekitar 250 mililiter, terkandung 8 gram lemak. Meski dibutuhkan tubuh, pengidap maag harus lebih cermat mengonsumsi lemak.

Lemak dapat membuat sfingter esofagus menjadi rileks dan memicu kenaikan asam lambung. Selain itu, lemak juga butuh waktu lebih lama untuk dicerna. Artinya, waktu pengosongan lambung bisa jadi lebih lambat dari seharusnya jika kamu mengonsumsi susu berlemak. Hal ini dapat membuat gejala maag menjadi kambuh.  

Susu yang Cocok untuk Pengidap Maag

Meski dapat memperparah gejala, bukan berarti pengidap maag tidak bisa mengonsumsi susu sama sekali. Asalkan memilih jenis susu yang tepat, gejala maag tidak akan kambuh.

Berikut ini jenis susu yang cocok untuk pengidap maag:

1.Susu Rendah Lemak

Produk susu yang dijual di pasaran ada banyak jenisnya. Untuk pengidap maag, sebaiknya pilihlah susu rendah lemak atau yang bebas lemak (susu skim). 

Baca juga: Si Kecil Terserang Maag, Ini yang Bisa Dilakukan Orangtua

2.Susu Almond

Jenis susu lainnya yang juga cocok untuk pengidap maag adalah susu almond. Sebab, susu almond memiliki kadar pH sebesar 8,4, atau cukup basa dibanding susu sapi yang memiliki pH sebesar 6,8. Sifat basa tersebut dapat membuat asam lambung ternetralisir. 

3.Susu Kedelai

Meski kadar lemaknya rendah, susu kedelai tak kalah dengan susu sapi dari segi protein. Itulah sebabnya susu kedelai bisa jadi pilihan yang tepat bagi pengidap maag. 

Itulah sedikit penjelasan mengenai alasan susu memperparah maag dan jenis susu yang cocok untuk pengidap maag. Meski susu rendah lemak atau susu alternatif lainnya bisa jadi pilihan, jika perut masih terasa tidak nyaman setelah mengonsumsi susu, sebaiknya gunakan aplikasi Halodoc untuk membuat janji dengan dokter di rumah sakit.

Referensi:
BBC. Diakses pada 2021. Does Milk Settle an Upset Stomach?
Very Well Health. Diakses pada 2021. Is Milk Good for an Ulcer?
John Hopkins Medicine. Diakses pada 2021. GERD Diet: Foods That Help with Acid Reflux (Heartburn).
Health Promotion Perspectives. Diakses pada 2021. Total Diet, Individual Meals, and Their Association With Gastroesophageal Reflux Disease.