14 December 2018

Tahi Lalat Membesar dan Terasa Sakit Saat Disentuh? Ini Penyebabnya

Tahi Lalat Membesar dan Terasa Sakit Saat Disentuh? Ini Penyebabnya

Halodoc, Jakarta - Katanya sih tahi lalat bisa membuat tampilan seseorang jadi lebih manis, tapi ada pula yang menutupinya karena merasa enggak pede. Hmm, berbicara soal ini, sebenarnya hampir tiap orang memiliki satu tahi lalat di tubuhnya. Kata ahli, biasanya muncul pada masa kanak-kanak.

Simpelnya, tahi lalat yang normal itu enggak berubah, baik dari warna maupun ukuran. Tentunya tak pula terasa sakit saat dipencet. Namun, apa jadinya bila tahi lalat terasa sakit saat dipencet atau makin membesar seiring bergulirnya waktu?

Tahi Lalat Sakit, Bisa Menandai Penyakit Serius

Kata ahli, perubahan pada tahi lalat erat dikaitkan dengan penyakit kanker melanoma. Mulai dari perubahan ukuran, warna, atau terasa sakit ketika disentuh. Kanker kulit melanoma ini merupakan jenis kanker yang berkembang pada melanosit, yaitu sel pigmen kulit yang fungsinya sebagai penghasil melanin. Melanin inilah yang berfungsi menyerap sinar UV dan melindungi kulit dari kerusakan. Melanoma sendiri merupakan jenis kanker yang jarang dan tentunya amat berbahaya.

Kanker ini terjadi ketika sel-sel pigmen kulit berkembang secara enggak normal. Sayangnya, sampai kini para ahli belum menemukan penyebab pasti dari penyakit ini. Akan tetapi, beberapa ahli menduga kalau kanker ini terkait dengan seringnya kulit terpapar sinar UV.

Di samping itu, ada pula beberapa faktor yang bisa meningkatkan kemungkinan seseorang terjangkit melanoma. Contohnya, memiliki banyak tahi lalat atau bintik di kulit, berkulit pucat dan mudah terbakar, memiliki keluarga dengan riwayat melanoma, serta mereka yang berambut merah atau pirang.

Jangan Sepelekan Perubahannya

Meski bisa berubah karena berbagai hal, tapi ada beberapa tanda yang mesti kamu waspadai. Misalnya, tahi lalat baru yang muncul setelah usia 30 tahun. Pasalnya, menurut ahli seharusnya di usia tersebut tidak muncul lagi yang baru. Kata ahli dermatologi dari Fox Chase Cancer Center, Amerika Serikat, kebanyakan kanker kulit melanoma muncul dari kulit yang tadinya normal, hanya 28 persen yang berkembang dari tahi lalat yang sudah ada.

Meskipun begitu, memang tak semua tahi lalat baru selalu menandai melanoma. Banyak hal kok yang bisa membuatnya berubah, seperti terbakar sinar matahari. Misalnya, jika ukurannya kecil, datar, dan seperti bercak kecokelatan, biasanya dikarenakan efek dari dari paparan sinar matahari.

Namun yang mesti diperhatikan, bila tubuhmu timbul tahi lalat baru di kemudian hari, sebaiknya tanyakan kepada ahli untuk memastikannya. Lalu, apa lagi sih tanda yang menjadi ciri kanker melanoma?

“Rumus” ABCDE

Bila ditelisik secara saksama, tahi lalat normal cenderung berbeda dengan yang menjadi ciri kanker melanoma. Tahi lalat normal biasanya memiliki satu warna, bulat atau oval, dan berdiameter kurang dari enam milimeter.

Nah, sementara itu, melanoma punya ciri tersendiri. Kata ahli, tahi lalat yang bisa menandai melanoma memiliki lebih dari satu warna dan diameternya lebih besar dari enam milimeter. Selain itu, bentuknya tidak beraturan dan terasa gatal serta bisa berdarah.

Nah, untuk mempermudah mengenali tahi lalat yang menjadi ciri kanker melanoma, para ahli menerapkan “rumus” ABCDE.

A (asymmetrical)

Artinya, kanker kulit melanoma memiliki bentuk tidak beraturan dan tak bisa dibagi dua sama rata alias asimetris.

B (border)

Border atau pinggiran ini berarti pinggiran melanoma tidak rata dan kasar.

C (colour)

Warna melanoma biasanya terdiri dari campuran dua atau tiga warna.

D (diameter)

Ukuran diameter melanoma biasanya lebih dari enam milimeter.

E (enlargement/evolution)

Artinya, tahi lalat yang berubah bentuk dan ukuran setelah beberapa lama, biasanya akan menjadi melanoma.

Punya keluhan kesehatan atau memiliki perubahan pada tahi lalat? Kamu bisa kok bertanya langsung kepada dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Baca juga: